Netral English Netral Mandarin
11:46wib
Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar alias Cak Imin mengaku siap maju menjadi calon presiden (capres) di Pilpres 2024. Presiden Joko Widodo ingin agar pelaksanaan penyuntikan booster vaksin Covid-19 dilakukan mulai awal 2022.
Ini Cara Mengobati dan Mencegah Komplikasi pada Pasien Diabetes Melitus

Selasa, 17-Agustus-2021 13:40

Ilustrasi obat-obatan.
Foto : freepik.com
Ilustrasi obat-obatan.
15

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Dr dr Wismandari Wisnu SpPD-KEMD dari Divisi Endokrinologi, Metabolisme dan Diabetes, Departemen Ilmu Penyakit Dalam RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo mengatakan, pemberian insulin lebih awal untuk mencapai kontrol akan mencegah komplikasi pada Diabetes Melitus (DM). 

Pengelolaan DM sendiri awalnya dimulai dengan ditemukannya insulin pada 100 tahun lalu. Selanjutnya, seiring dengan majunya ilmu pengetahuan, didapatkan obat-obatan baru untuk DM. 

“Akan tetapi, sampai saat ini, peran insulin dalam pengelolaan DM masih menjadi yang utama. Insulin diberikan saat pengobatan antiglikemik oral tidak mencapai target, atau pengobatan pada kondisi khusus seperti penyakit akut, tindakan bedah atau kehamilan,” ujar dia baru-baru ini saat konferensi pers virtual. 

Untuk memulai terapi insulin, secara klasik dimulai dengan inisiasi insulin basal, tetapi kerjanya lambat dan ada pula intesifikasi insulin bolus yang kerjanya cepat. 

Meski demikian, diakui ada kendala yang muncul dari penggunaan insulin. Diantaranya adalah risiko hipoglikemia yang tinggi, efek samping peningkatan berat badan, serta jumlah suntikannya dalam sehari. 

Ternyata, telah banyak pula pilihan insulin baru untuk mempermudah penggunaannya. Diantaranya seperti insulin premix yang bisa mengurangi jumlah suntikan per hari, ada insulin fixed ratio combinatoin yang memiliki efek samping lebih minimal, serta insulin long-acting insulin. 

“Dengan berbagai pilihan insulin, saat ini pengobatan DM akan menjadi lebih mudah. Insulin ini perlu digunakan dengan benar, untuk mendapatkan efektivitas maksimal dengan risiko yang minimal,” ujar dia. 

Untuk diketahui, komplikasi DM sendiri terbagi menjadi dua, ada komplikasi makrovaskular dan komplikasi mikrovaskular. Makrovaskular yakni menyerang organ otak yang berdampak stroke, menyerang organ jantung yang berdampak serangan jantung dan gagal jantug, hingga menyerang pembuluh darah yang berdampak sukarnya penyembuhan pada luka. 

“Komplikasi mikrovaskular bisa terjadi pada mata, sehingga akibatkan spot hitam, katarak, glaukoma dan kebutaan. Pada ginjal, bisa sebabkan gagal ginjal dan perlu ditangani dengan cuci darah,” ujar dia. 

Tidak hanya itu, komplikasi DM mikrovaskular juga bisa menyerang saraf tepi. Dampaknya seperti kesemutan, mati rasa, sakit saat berjalan, dan kerusakan syaraf. 

“Komplikasi makrovaskular seperti Penyakit Jantung Koroner (PJK) dan stroke merupakan penyebab kematian pertama dan kedua di Indonesia. Adapun penyebab kematian tertinggi di Indonesia adalah stroke, penyakit jantung iskemik, dan diabetes,” terang dia. 

 

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Irawan HP