Netral English Netral Mandarin
04:31wib
Menteri Koordinator bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan memprediksi, puncak gelombang Covid-19 varian Omicron akan terjadi pada pertengahan Februari hingga awal Maret 202. Pemerintah mengakui kasus Covid-19 di Indonesia terus mengalami lonjakan akibat transmisi lokal varian Omicron dalam sepekan terakhir.
Ini Hal yang Harus Dilakukan Sebelum dan Sesudah Vaksin Booster Covid-19

Jumat, 14-January-2022 21:00

Ilustrasi vaksin COVID-19.
Foto : Antara
Ilustrasi vaksin COVID-19.
0

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Apakah Anda sudah siap untuk menerima Vaksin Booster Covid-19? Nampaknya ada beberapa hal yang harus Anda persiapkan sebelum menerima vaksin tersebut. 

Sebelum menerima vaksin booster, hal pertama yang penting dipersiapkan adalah fisik dan mental untuk menerima tindakan vaksinasi. Mereka yang boleh menerima vaksin booster adalah mereka yang berusia 18 tahun ke atas, minimal enam bulan setelah suntikan vaksin kedua dan diutamakan pada lansia dan pederita komorbid. 

Demikian disampaikan Internist dan Edukator Kesehatan dr RA Adaninggar SpPD, seperti dalam keterangan tertulisnya yang dikutip pada Jumat (14/1/2022). 

Chek Up Dokter

Apakah perlu melakukan chek up ke dokter? Bila memiliki penyakit komorbid sebelumnya, diimbau untuk kontrol dan konsultasi ke dokter untuk mengetahui kondisi komorbidnya, apakah dalam kondisi stabil atau terkontrol, ada remisi dan layak divaksin. 

“Bila ada riwayat alergi terhadap vaksin tertentu sebelumnya, konsultasikan ke dokter sebelum vaksinasi booster terkait jenis vaksin yang akan diberikan. Bila kondisi sedang tidak fit atau tidak sehat lebih baik tunda vaksin. Boleh periksa atau konsultasi ke dokter dulu untuk memastikan kondisi,” jelas dr Ning. 

Apa Perlu Swab PCR atau Antigen? 

Dijelaskan dr Ning, apabila tidak ada gejala yang mengarah ke Covid-19 atau tidak sedang berstatus kontak erat, tidak perlu Swab PCR atau Swab Antigen Covid-19, sebelum divaksin. 

Jika sedang mengalami sakit akut, baik gejala Covid-19 atau bukan, atau sedang berstatus kontak erat, vaksin booster lebih baik ditunda. Penundaan dilakukan sampai sakit sembuh dan bila kontak erat, dipastikan dulu memang sedang tidak terinfeksi Covid-19. 

Menurut dr Ning, kadar antibodi berapapun tidak masalah diberikan vaksin booster, karena vaksin booster bertujuan melatih ulang tubuh agar kekebalan yang terbentuk lebih kuat dan lebih tahan lama. “Jadi tidak perlu pemeriksaan antibodi sebelum booster,” sambung dia. 

Aturan Makan dan Tidur 

Dipastikan dr Ning, tidak ada pantangan makanan khusus yang tidak boleh dimakan sebelum divaksin. Ada beberapa pendapat ahli yang menyarankan untuk menghindari minum kopi sebelum divaksin, supaya tekanan darah tidak naik saat akan vaksin. 

“Tidur malam yang cukup juga penting untuk mempersiapkan mental saat akan divaksin,” ucap dr Ning. 

Selanjutnya, inilah yang harus anda lakukan setelah mendapatkan vaksin booster, yaitu:

Boleh Langsung Aktivitas? 

Setelah divaksin booster, yang penting adalah persiapan mental untuk melawan dorongan untuk lengah protokol kesehatan. Setelah divaksin juga harus tetap monitor efek samping mulai dari beberapa menit sejak divaksin hingga sekitar satu bulan setelah divaksin. 

“Apabila muncul gejala apapun, laporkan ke petugas kesehatan supaya tercatat dan segera ditindaklanjuti. Bila tidak ada gejala efek samping yang menganggu, diperbolehkan untuk langsung beraktivitas seperti biasa,” ujar dr Ning. 

Setelah divaksin booster Anda tidak menjadi sakit atau menular akibat vaksin. Maka dari itu tidak perlu melakukan karantina atau menjauhkan diri dari keluarga atau lingkungan sekitar.  

Pola Hidup Sehat dan Prokes

Setelah vaksin booster, diimbau untuk tetap menjaga kesehatan imun supaya antibodi yang terbentuk optimal secara jumlah dan kualitas. Menjaga kesehatan imun dilakukan dengan cara pola hidup sehat yaitu konsumsi makanan bergizi (sayur, buah, tinggi protein), tidur cukup, olahraga teratur, hindari stres, kontrol penyakit komorbid. “Tidak ada pantangan makanan taua minuman tertentu. 

Diimbau juga tetap konsisten dengan Protokol Kesehatan (Prokes) kesehatan, dengan memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, menghindari kerumunan dan membatasi mobilitas. Prokes tetap harus dilaksanakan di manapun dan kapanpun untuk menurunkan risiko tertular. 

“Lakukan usaha pencegahan penularan untuk mencegah mutasi dan terbentuknya varian virus baru sehingga meminimalkan kemungkinan untuk vaksin booster berulang nantinya,” pesan dr Ning. 

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Irawan HP

Berita Terkait

Berita Rekomendasi