Netral English Netral Mandarin
03:50wib
Hampir seluruh negara di dunia meningkatkan pembatasan Covid-19 ketika kasus varian Delta melonjak, yang tidak sedikit orang menentangnya. Presiden Joko Widodo mengajak seluruh elemen bangsa bahu-membahu berupaya melawan pandemi Covid-19.
Ini yang Ditunggu Warga Pakistan dari Indonesia

Sabtu, 01-Mei-2021 07:00

Minyak murni salah satu produk ekspor ke Pakistan.
Foto : Foodnavigator
Minyak murni salah satu produk ekspor ke Pakistan.
12

JAKARTA, NETRALNEWS.COM -Indonesia dan Pakistan melaksanakan perundingan putaran kedua Indonesia–Pakistan Trade in Goods Agreement (IP–TIGA) pada 28–29 April 2021secara daring. Kedua negara melanjutkan kembali perundinganIP–TIGA setelah tertunda selama setahun akibat pandemi Covid-19.

Pertemuan kali ini merupakan kelanjutan perundingan putaran pertama IP-TIGA di Islamabad, Pakistanpada 8–9 Agustus 2019lalu.Dalam perundingan putaran kedua tersebut, Delegasi Indonesia dipimpinDirektur Perundingan Bilateral Kementerian Perdagangan RI,Ni Made Ayu Marthini, yang juga merupakan Ketua Tim Perunding Indonesia untuk perundingan IP–TIGA.

Sementara itu, Delegasi Pakistan dipimpin Joint Secretary, Ministry of Commerce of Pakistan, Omar Hameed.“Pakistan saat ini merupakan negara dengan populasi terbesar ke-5 di dunia dan menjadi pasar yang sangat menjanjikan bagi produk-produk Indonesia.

Kami berharap perundingan IP-TIGA dapat segera diselesaikan dan implementasinya dapat mereplikasikesuksesanIndonesia–Pakistan Preferential Trade Agreement (IP–PTA),serta makin meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar Pakistan,”kata Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kemendag, Djatmiko Bris Witjaksonodalam kesempatan terpisah.

Delegasi Indonesia turut diperkuat perwakilan dari Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Luar Negeri, Kementerian Pertanian, Kementerian Perindustrian, Kementerian Keuangan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, KementerianEnergi dan Sumber Daya Mineral, Badan Koordinasi Penanaman Modal,Badan Standardisasi Nasional, serta Badan

Pengawas Obat dan Makanan.Pembahasan Teks Perjanjian dan Modalitas PerundinganDimulaiSetelah berhasil menyepakati kerangka acuan (termsof reference/ToR) Perundingan IP–TIGA di Islamabad dua tahun lalu, dalam pertemuan putarankedua ini Indonesia dan Pakistanmemulai pembahasan awal teks perjanjian dan modalitas perundingan IP–TIGA.

Delegasi kedua negara juga membahas penyesuaian rencana kerja (workplan) perundingan dan jadwal pertukaran dokumen masing-masing negara untuk dibahas pada putaran selanjutnya.

Dalam perundingankaliini, kedua delegasi menyepakati untuk melaksanakan sejumlahpertemuan intersesi dan pertukaran dokumen pada periode Juni–November 2021.Sehingga,nantinya pada perundingan putaran ketigaIP–TIGA yang akan dilaksanakan secara daring pada Desember 2021,terdapat perkembangan signifikankhususnya terkait pembahasan teks perjanjian IP–TIGA dan akses pasar.

Perundingan IP–TIGA merupakan perluasan dari perjanjian IP–PTA yang ditandatangani pada 2012 dan mulai diberlakukan di kedua negara pada 2013.

Menindaklanjuti hasil perundingan Review IP-PTA pada 2016-2017, kedua negara menyepakati perluasan cakupan IP-PTA yang hanya mencakup sejumlah pos tarif, menjadi IP-TIGA yang akan mencakup keseluruhan pos tarif perdagangan barang. Pemberian akses pasar yang lebih luas dalam IP-TIGA diharapkan dapat semakin meningkatkan perdagangan bilateral, terutama mendorong peningkatan ekspor produk-produk potensial Indonesia ke Pakistan.

“Sejak implementasi IP-PTA pada 2013,tercatat hingga 2020 total perdagangan bilateral kedua negaratumbuh sebesar 62,9persendan nilai ekspor Indonesia ke Pakistan meningkat sebesar 68,6 persen.Hal ini disebabkan oleh semakin terbukanya akses pasar Pakistan yang membuat produkekspor andalan Indonesia lebih berdaya saing,” kata Made.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah Kemendag, nilai total perdagangan kedua negara pada 2020 mencapaiUSD 2,6 miliar. Pakistan menempati peringkat ke-16 sebagai negara tujuan ekspor utama Indonesia dengan nilai ekspor USD 2,4 miliar, serta menempati urutan ke-43 sebagai negara sumber impor utama Indonesia dengan nilai impor USD 194,9 juta.

Komoditas ekspor andalan Indonesia ke Pakistan pada 2020 adalah palm oil and its fraction, coal, artificial staple fibres, synthetic staple fibres, dan parts of the accessories of motor vehicles. 

Komoditas impor utama Indonesia dari Pakistan pada 2020 adalah semi-finished products of iron or non-alloy steel, rice, citrus fruit, undenatured ethyl alcohol, serta frozen fish.

Reporter : Sulha Handayani
Editor : Sesmawati