Netral English Netral Mandarin
09:34wib
Sejumlah Guru Besar meminta Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) memeriksa Firli Bahuri Cs. Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir berkelakar bakal menjadi tim sukses Sandiaga Uno pada pemilihan presiden 2024 mendatang.
Inilah Manfaat Resi Gudang, Bikin Ekspor Kian Meningkat

Selasa, 25-Mei-2021 09:20

Neraca Perdagangan Kembali Surplus.
Foto : Monex
Neraca Perdagangan Kembali Surplus.
10

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Kementerian Perdagangan mendorong implementasi Sistem Resi Gudang (SRG) untuk meningkatkan perdagangan komoditas gambir di Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatra Barat.

Potensi produksi dan pemasaran komoditas gambir di Kabupaten Lima Puluh Kota cukup besar sehingga dinilai sangat potensial. Dengan implementasi SRG, tidak hanya perdagangan komoditas gambir yang meningkat tetapi sekaligus ekonomi Kabupaten Lima Puluh Kota.

Hal ini disampaikan Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga saat meninjau gudang SRG komoditas gambir di Nagari Sarilamak Kecamatan Harau, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatra Barat. urut mendampingi Kepala Biro Pembinaan dan Pengawasan Sistem Resi Gudang dan Pasar Lelang Komoditas Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Widiastuti.

“Skema SRG diharapkan dapat membantu petani mendapatkan harga tawar yang lebih baik dan jaminan penyerapan pasar. Apalagi komoditas gambir di Kabupaten Lima Puluh Kota merupakan komoditas daerah dengan keunggulan komparatif yang mampu meningkatkan ekonomi dan perdagangan,” jelas Wamendag Jerry, dalam siaran persnya, Selasa, (25/5/2021).

Dengan adanya SRG, petani tidak harus segera menjual hasil panen karena dapat menyimpannya di gudang. “SRG berpotensi menjadi instrumen dalam mendukung pengendalian ketersediaan stok dan stabilitas harga komoditas pangan. SRG dapat menjadi instrumen alternatif dalam mendukung tata niaga dan distribusi,” papar Wamendag.

Kementerian Perdagangan melalui Dana Alokasi Khusus (DAK), lanjut Wamendag, telah membangun dua gudang SRG di Kabupaten Lima Puluh Kota, yaitu di Nagari Sarilamak, Kecamatan Harau pada 2014 dan di Nagari Gunung Malintang, Kecamatan Pangkalan Kotobaru pada 2017. Kedua gudang SRG tersebut dapat menampung hasil produk petani gambir sebanyak 3 ribu ton.

SRG merupakan program pemerintah yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2011 tentang Sistem Resi Gudang.

Kementerian Perdagangan juga telah mengeluarkan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 33 Tahun 2018 tentang Barang dan Persyaratan Barang yang Dapat Disimpan dalam Gudang Sistem Resi Gudang. Terdapat 18 komoditas yang bisa diresigudangkan, yaitu gabah, garam, beras, gambir, jagung, teh, kopi, kopra, kakao, timah, lada, bawang merah, karet, ikan, rumput laut, pala, rotan, dan ayam beku karkas.

“Keunggulan SRG yaitu tidak perlu lagi pihak perbankan melakukan studi kelayakan. Ini sudah menjadi jaminan pasti. Tentunya, untuk masuk ke resi gudang ada syarat dan ketentuan. Salah satunya produknya harus berkualitas,” urai Wamendag.

Dalam kunjungan tersebut, Wamendag berdialog dengan Wakil Bupati Lima Puluh Kota Rizki Kurniawan Nakasari; Sekretaris Daerah Kabupaten Lima Puluh Kota Widya Putra; Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sumatra Barat Asben Hendri; serta Plt. Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi dan UKM Ayu Mitria Fadri.

Turut hadir penyelenggara Pasar Lelang Komoditas PT Grafika Jaya Sumbar, calon pengelola Gudang SRG PT Salimbado Jaya Indonesia, pelaku usaha, dan petani gambir.

Widiastuti menekankan pentingnya dukungan pemerintah daerah dalam implementasi SRG melalui kebijakan yang mendorong pemanfaatan SRG, infrastruktur, pembentukan kelembagaan SRG, serta koordinasi aktif di antara pemangku kepentingan terkait.

Wabup Rizki menyampaikan apresiasi terhadap Kemendag dan komitmennya mengawal SRG untuk membantu kesejahteraan petani.

Ia mengungkapkan, gambir merupakan salah satu komoditas unggulan, sekitar 75 persen pasokan kebutuhan dunia disuplai dari Kabupaten Lima Puluh Kota.

“Permintaan terbanyak memang untuk ekspor sebagai bahan baku industri tekstil dan farmasi. Namun, gambir kurang berjaya di pasar domestik karena adanya monopoli perdagangan,” ungkap Wabup Rizki.

Sementara dari laporan Kadisdagkop UKM Ayu menyebutkan, di kondisi harga normal produksi gambir di Lima Puluh Kota bisa mencapai 1.000—1.500 ton per bulan. Namun ketika harganya turun seperti saat ini, produksi hanya mencapai 400 ton per bulan.

Saat ini, Ayu menjelaskan, pangsa pasar terbesar ekspor gambir adalah India. Penguncian sementara akibat pandemi Covid-19 di India menyebabkan harga menurun.

“Gambir sangat dipengaruhi fluktuasi harga. Bila harga bagus, produksi meningkat. Bila harga anjlok, pastinya produksi akan menurun. Untuk itu, kami meminta Kemendag bisa membuka akses ekspor ke negara-negara lain di luar India,’’ ujar Ayu.

 

Reporter : Sulha Handayani
Editor : Wahyu Praditya P