Netral English Netral Mandarin
00:54wib
Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo mewacanakan mengganti maskapai BUMN PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk dengan Pelita Air milik PT Pertamina (Persero). Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) akan menggelar unjuk rasa mengevaluasi 2 tahun kinerja Jokowi-Ma'ruf bersama Gerakan Buruh Bersama Rakyat (Gebrak), Kamis (28/10).
Berawal dari Hepatitis, Inilah Penyakit Penyebab Kematian Akibat Kanker ke-4 Tertinggi di Dunia

Rabu, 29-September-2021 03:00

Ilustrasi dokter yang kerap menangani kanker.
Foto : lasillarota.com
Ilustrasi dokter yang kerap menangani kanker.
31

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Kanker hati disebut sebagai si pembunuh dalam senyap karena tidak memiliki gejala khas sehingga kebanyakan pasien terlambat untuk mengobatinya lantaran penyakit sudah memburuk.

Ketua Pengurus Besar Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia dr. Irsan Hasan menjelaskan, kanker hati merupakan penyebab kematian akibat kanker keempat tertinggi di dunia. 

Di Indonesia, kanker hati berada di posisi nomor lima yang banyak diderita pasien kanker secara keseluruhan, dan ada di urutan ketiga kanker yang banyak diidap laki-laki.

Dia mengatakan, tidak ada peningkatan signifikan harapan hidup pasien kanker hati pada periode 1998-1999 dibandingkan dengan periode 2013-2014.

"Alasannya banyak pasien terlambat untuk mencari pengobatan," kata Irsan dalam sebuah webinar kesehatan, Selasa (29/9/2021).

Salah satu faktor yang menyebabkan penanganan terlambat adalah pasien tidak menyadari bahwa dirinya mengidap hepatitis, padahal dia mengatakan minimal satu dari 10 penduduk Indonesia mengidap hepatitis.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, jumlah penderita hepatitis B mencapai 17,5 juta penduduk, di mana 20-30 persen diperkirakan memburuk jadi sirosis atau keganasan hati. Hepatitis B yang disebabkan virus HBV dapat dicegah lewat vaksinasi. Baik hepatitis B maupun hepatitis C kronis bisa mengakibatkan sirosis dan kanker hati.

Faktor lainnya adalah tidak melaksanakan skrining secara berkala (surveilans), juga tidak adanya gejala atau gejala yang tidak khas. Pada umumnya gejala tidak dirasakan sampai stadium lanjut, tapi sebagian orang bisa mengalami nyeri pada perut, perut membesar, mudah memar dan perdarahan, kulit dan mata menguning serta penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan.

"Banyak yang menduga dia hanya sakit maag, jadi menjalani pengobatan maag, lalu setelah penyakitnya sudah berat baru disadari itu bukan maag," kata staf Divisi Hepatobilier Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu.

Ada lima kelompok stadium kanker hati, yakni stadium sangat awal, stadium awal (A), stadium intermediet (B), stadium lanjut (C) dan stadium terminal (D).

"Kalau di stadium sangat awal dan stadium awal sudah ditemukan, kami senang karena bisa disembuhkan. Tetapi kalau sudah stadium B, C, D, sudah terlambat karena janji kesembuhan sulit diberikan kepada pasien," jelas Irsan yang juga menjabat sebagai Sekretaris Program Pendidikan Subspesialis Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Pasien dengan stadium lanjut diberikan terapi sistemik. Dia menuturkan, dulu pasien diobati dengan kemoterapi namun ternyata tidak memperpanjang harapan hidup dan efek sampingnya banyak. 

Sejak 2008, terapi target diberikan untuk pasien kanker hati stadium lanjut. Pada terapi target, obat diberikan untuk menargetkan gen dan protein spesifik yang terlibat dalam pertumbuhan dan "survival" sel kanker. Terapi target berbeda dengan kemoterapi yang bertujuan menghambat pembelahan sel.

Dia menganalogikan kemoterapi seperti pengeboman satu area yang bisa berdampak pada daerah sekitar target, sementara terapi target seperti penembak runduk yang mengarah kepada sasaran tertentu.

Salah satu pilihan terapi sistemik untuk pasien kanker hati adalah obat imunoterapi atezolizumab dan obat antikanker bevacizumab.

Sementara itu, pada pasien stadium terminal, perawatan yang diberikan adalah "best supportive care". Pasien tidak diberikan obat untuk kanker, melainkan terapi untuk mendukung kesehatan.

"Kalau nyeri dikasih obat antinyeri, diberi infus bila kurang dapat asupan makanan," ujarnya seperti dilansir dari Antara.

Reporter : Antara
Editor : Irawan HP