Netral English Netral Mandarin
18:09wib
Presiden Joko Widodo mengatakan, kondisi dunia saat ini penuh dengan ketidakpastian dan persoalan yang lebih kompleks dibandingkan sebelumnya. Sistem perawatan kesehatan Singapura terancam kewalahan menghadapi lonjakan covid-19.
IPR: Menyedihkan, Seorang Jaksa Agung Saja Memiliki Data Ganda

Selasa, 12-Oktober-2021 19:40

Jaksa Agung
Foto : Kejaksaan Agung_Humas
Jaksa Agung
5

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR), Ujang Komarudin menilai Jaksa Agung ST Burhanuddin sudah tidak jujur dan tidak bisa menjadi teladan sebagai pemimpin lembaga penegak hukum. Pasalnya, informasi latar belakang pendidikan dan tahun lahir Burhanuddin beda-beda antara satu dengan lainnya.

"Mestinya sebagai penyelenggara negara, apalagi dari institusi penegak hukum, Jaksa Agung tidak boleh melakukan hal seperti itu. Kalau data itu benar sangat disayangkan, sebagai pimpinan tidak memberikan keteladanan. Mestinya mengedepankan nilai-nilai kejujuran. Ini sangat menyedihkan, sangat disayangkan," kata akademisi Universitas Al Azhar Jakarta ini, saat dihubungi, Selasa (12/10/2021).

Terkait dengan latar belakang pendidikan Jaksa Agung ST Burhanuddin yang berbeda-beda itu masih terus menjadi polemik dan kontroversial. Soal gelar sarjana hukum dari Universitas 17 Agustus (Untag) Semarang, Jawa Tengah, misalnya, pihak kampus belum bisa memunculkan dokumen bahwa Burhanuddin pernah menempuh pendidikan di sana.

Sementara itu, terkait gelar pasca-sarjananya setelah ditelusuri, Burhanuddin terbukti pernah mengikuti pendidikan Magister Manajemen (MM) di Sekolah Tinggi Manajemen Labora Jakarta tahun 2001. Berdasarkan buku tahunan wisuda mahasiswa magister manajemen kampus tersebut, Burhanuddin disebut masuk pada 1999 dan menyelesaikan kuliahnya pada 2001. Burhanuddin pun mengikuti wisuda yang digelar di Puri Agung Sahid Jaya, Jakarta pada 13 Oktober 2001.

Tak lalu kontroversi tentang latar belakang pendidikannya itu menjadi tuntas. Apalagi sebelumnya Burhanuddin mengaku lulisan Universitas Diponegoro 1980 sebagaimana dikutip dalam berbagai saluran informasi resmi Kejaksaan Agung. Ditambah lagi di luar magister manajemen, Burhanuddin kini mengaku magister hukum tapi tak dijelaskan universitasnya.

Kontroversi teranyar di samping latar belakang pendidikan adalah soal tahun kelahirannya. Di berbagai kesempatan, Jaksa Agung Burhanuddin mengaku kelahiran 1959. Dalam acara E-Talkshow with BHS tvOne yang digawangi Wahyu Muryadi pada Juni 2020, Burhanuddin mengaku kelahiran 1959 bukan 1954.

Data yang ada di Kejaksaan RI, kata Burhanuddin, dalam surat keputusan pertama disebut salah penulisan. Salah penulisan itu justru disebut menguntungkan dan menjadi berkah untuk Burhanuddin. Sebabnya, dalam masa kerja 23 tahun, Burhanuddin bisa menjadi jaksa agung muda.

Selain di acara itu, tulisan profil Kompaspedia yang dimuat kompas.id pada 16 Maret 2021 tahun kelahiran Burhanuddin disebut 17 Juli 1959. Terakhir tahun kelahiran Burhanuddin ditulis 17 Juli 1959 ada dalam buku pidato pengukuhannya sebagai profesor ilmu hukum pidana di Universitas Soedirman September lalu.

Sementara itu, berdasarkan informasi di berbagai saluran resmi Kejaksaan Agung, Burhanuddin disebut lahir pada 17 Juli 1954. Dokumen resmi di Sistem Informasi Manajemen Kejaksaan Republik Indonesia (Simkari), misalnya, di situ tertulis Burhanuddin kelahiran 17 Juli 1954. Bahkan nomor induk pegawainya atau NIP pada Simkari itu dimulai dari angka 1954.

Begitu juga di Instagram resmi Kejaksaan RI, Jaksa Agung Burhanuddin dituliskan lahir pada 17 Juli 1954. Kemudian, dalam buku Laporan Tahunan Kejaksaan RI 2012 tahun kelahiran Burhanuddin juga ditulis 17 Juli 1954. Begitu pula di buku tahunan wisuda magister manajemen Sekolah Tinggi Manajemen Labora, Burhanuddin ditulis lahir pada 17 Juli 1954. Pun Wikipedia yang menuliskan tahun kelahirannya pada 17 Juli 1954.

Bahkan Badan Kepegawaian Negara (BKN) menegaskan NIP 195407171987031001 atas nama ST Burhanuddin dan sudah pensiun pada 2014. Diketahui Burhanuddin memang pensiun pada Agustus 2014 dengan jabatan terakhir sebagai Jaksa Agung Muda Perdata dan Tata Usaha Negara Kejaksaan Agung.

Tahun kelahiran yang berbeda-beda itu tentu saja mempengaruhi tahun kelulusan seluruh jenjang pendidikan Jaksa Agung Burhanuddin. Publik menjadi bingung perbedaan-perbedaan baik latar belakang pendidikan maupun tahun kelahirannya itu. Itu sebabnya, Burhanuddin penting mengklarifikasinya secara jujur dan terbuka tentang perbedaan data-data pendidikan dan tahun kelahiran tersebut.

Redaksi mencoba menghubungi Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung, Leonard Eben Ezer Simanjuntak terkait hal tersebut. Akan tetapi, yang bersangkutan tidak mengangkat panggilan telepon.

Demikian juga dengan pesan singkat yang dikirim melalui Whatsapp (WA), yang bersangkutan juga belum memberikan balasan atau jawaban atas pertanyaan yang diberikan redaksi, hingga berita ini dimuat.

Reporter : PD Djuarno
Editor : Irawan HP