Netral English Netral Mandarin
08:01wib
Tersangka kasus dugaan penistaan agama, Yahya Waloni menyampaikan permintaan maaf kepada publik, khususnya kalangan Nasrani. Para peneliti menemukan sebuah parasit malaria yang kebal obat di Uganda.
Jadi Primadona Ekspor di tengah Pandemi, Pengusaha Dorong Petani di Kalbar Budidayakan Talas Beneng

Rabu, 04-Agustus-2021 02:00

Daun talas banyak dipakai sebagai pengganti tembakau karena kandungan nikotin dan tar yang lebih rendah.
Foto : kemlu.go.id
Daun talas banyak dipakai sebagai pengganti tembakau karena kandungan nikotin dan tar yang lebih rendah.
23

PONTIANAK, NETRALNEWS.COM - Tanaman Talas Beneng dulunya sering dipandang sebelah mata lantaran harganya yang relatif murah. Namun kini, tanaman tersebut diminati hingga di luar negeri dan berpotensi mendatangkan pendapatan tinggi bagi petani di tengah merebaknya wabah COVID-19

"Selama ini, sebagian besar masyarakat kita umumnya hanya bisa memanfaatkan umbinya saja sebagai olahan pangan. Namun ternyata daun Talas Beneng kini bisa menjadi komoditas ekspor, yang dimanfaatkan sebagai alternatif daun tembakau untuk produk rokok," kata Rudyzar Zaidar Mochtar, seorang pengusaha sektor pertanian asal Kalimantan Barat, di Pontianak, Selasa (3/8/2021).

Menurutnya, pihaknya saat ini bersama kelompok petani sedang mengembangkan komoditas Talas Beneng di Kalbar dalam menggerakkan perekonomian masyarakat.

"Potensi ekspor Talas Beneng saat ini terbuka luas, karena bisa dijadikan alternatif tembakau di tengah tingginya pajak tembakau di sejumlah negara, dan rasanya memang mirip, tetapi dengan nikotin dan tar yang lebih rendah," ujarnya.

Talas Beneng tidak seperti kebanyakan talas umumnya, yakni diameter daunnya sangat besar yaitu bisa satu meter, kemudian pohonnya tingginya bisa hingga tiga meter bahkan lebih.

"Saat ini komoditas ini sedang menjadi primadona di Pulau Jawa, bahkan sudah banyak petani sana yang menanam Talas Beneng. Apalagi tanaman ini tergolong cepat panen, yaitu setiap tiga bulan daunnya sudah bisa dipanen," ungkapnya.

Sehingga, potensi ekspor Talas Beneng sangat menjanjikan bila segera direalisasikan. Selain daunnya, pelepah atau batangnya juga bisa dijadikan olahan makanan, begitu juga umbinya yang mengandung nutrisi. "Jadi tidak ada bagian dari tanaman ini yang tidak bisa menjadi nilai ekonomis, maka dari itu saya tertarik untuk mengembangkannya di Kalbar," katanya.

Rudyzar pun mendatangkan sekitar 20 ribuan bibit Talas Beneng dari Pulau Jawa, yang kini sebagian dibagikan kepada para petani untuk dikembangbiakkan. 

Dia juga berharap, pengembangan Talas Beneng ini bisa menjadi alternatif bagi masyarakat di sektor pertanian, apalagi perawatan dari tanaman ini tidak terlalu sulit.

Talas Beneng tergolong mudah tumbuh, namun untuk mencapai besar daun yang diinginkan tentu saja harus diberikan pupuk dan perawatan lainnya.

"Prospek ekonomi Talas Beneng saat ini cukup bagus, khususnya sebagai bahan pangan dan komoditas ekspor ke sejumlah negara, salah satunya ke negara Belanda dan negara-negara lain, sehingga peluang untuk mengembangkannya dalam meningkatkan perekonomian masyarakat," ujarnya, seperti dilansir dari Antara.

Untuk harga jualnya, saat ini rata-rata daun basah dihargai Rp1.500 per kilogram, namun satu lembar daun beratnya bisa mencapai satu hingga dua kilogram, kemudian daun ini akan dikeringkan lalu dicacah seperti tembakau.

Reporter : Antara
Editor : Irawan HP