Netral English Netral Mandarin
03:56wib
LSI Denny JA menilai, PDI Perjuangan berpotensi akan mengalami kekalahan jika mengusung Ketua DPR Puan Maharani sebagai calon presiden pada Pemilihan Presiden 2024 mendatang. Profesi Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia menegaskan fasilitas kesehatan di Indonesia bisa tumbang dalam 2-4 minggu jika pengendalian pandemi tidak diperketat.
Jangan Sembarangan Konsumsi Antibiotik, Ini Risikonya Jika Terjadi Resistensi

Kamis, 10-Juni-2021 20:00

Ilustrasi obat antibiotik.
Foto : freepik.com
Ilustrasi obat antibiotik.
6

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Masyarakat diingatkan supaya bijak dan rasional dalam menggunakan antibiotik. Banyak yang mengkonsumsi antibiotik tanpa anjuran dari dokter yang dikhawatirkan dapat menimbulkan masalah resistensi.

Penggunaan antiobiotik sebenarnya hanya untuk infeksi bakteri, dan bukan virus dan mikroba lain. Sehingga, kita dianjurkan tidak membelinya sendiri kecuali dengan resep dokter, atau menyimpannya di rumah (sebagai stok), bahkan memberi antibiotik sisa pada orang lain.

"Berbahaya bila tidak sesuai kebutuhan klinis, penyakit virus tidak memerlukan antibiotik tetapi antivirus," kata Direktur Promosi kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Kesehatan, Imran Agus Nurali, Kamis (10/6/2021).

Sejumlah penyakit yang diketahui akibat infeksi bakteri dan membutuhkan antibiotik antara lain demam tifoid, meningitis, tuberkulosis (TBC), infeksi paru seperti pneumonia, difteri, infeksi saluran cerna sepert disentri, infeksi saluran kemih, gonore (kencing nanah) dan sifilis.

Resistensi antibiotik sendiri merupakan kondisi saat bakteri bertahan hidup dari serangan antibiotik yang sebenarnya berfungsi mengatasi infeksi bakteri penyebab penyakit serius seperti diare parah.

Dalam sejumlah kasus, kondisi ini sulit disembuhkan dan memerlukan perawatan di rumah sakit serta biaya pengobatan yang lebih mahal.

"Pembiayaan jadi meningkat, ini dampak besar penggunaan obat yang sebabkan resisten. Pengobatan jadi lebih mahal dari antibiotik sebelumnya," kata Imran, seperti dilansir Antara.

Penggunaan antibiotik yang tidak sesuai dengan rekomendasi dokter (overuse & misuse) merupakan salah satu penyumbang terbesar angka resistensi antimikroba (AMR) di dunia kesehatan.

Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), penggunaan antibiotik meningkat 91 persen secara global dan meningkat 165 persen di negara-negara berkembang pada periode 2000 – 2015 sehingga menjadikan AMR salah satu dari sepuluh ancaman kesehatan global yang paling berbahaya di dunia. 

Reporter : Antara
Editor : Irawan HP