Netral English Netral Mandarin
10:29wib
Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar alias Cak Imin mengaku siap maju menjadi calon presiden (capres) di Pilpres 2024. Presiden Joko Widodo ingin agar pelaksanaan penyuntikan booster vaksin Covid-19 dilakukan mulai awal 2022.
Jokowi Akan seperti Soeharto? Dipuja dan Dipuji Jelang Lengser? Rizal Ramli: Sebulan Kemudian Selesai Sudah

Sabtu, 04-September-2021 09:22

Rizal Ramli
Foto : Istimewa
Rizal Ramli
15

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Rizal Ramli ikut menyindir Presiden Jokowi yang beberapa waktu terakhir mendapat puja dan puji dari sejumlah petinggi Partai. 

Ia ikut membandingkan dengan Soeharto yang menjelang lengsernya juga sempat mendapat pujian banyak tokoh. 

“Sampai April 1998, Soeharto disanjung dipuji tiada henti, sangat kuat karena baru terpilih kembali sebagai Presiden secara aklamasi 11 Maret 1998,” kata Rizal Ramli, Sabtu 4 September 2021. 

“Sebulan kemudian akhir Mei 1998, selesai  sudah..,” imbuhnya.

Sementara sebelumnya, puja-puji para ketua umum partai koalisi epada Presiden Joko Widodo (Jokowi) disebut sebagai bentuk perlawanan terhadap sang presiden dan upaya ‘membunuh’  Jokowi. Selain itu, jika pimpinan parpol, tokoh formal ramai-ramai memuji Presiden maka hal ini sebagai pertanda sedang terjadi pembusukan kekuasaan.

Di sisi lain, sebelum lengser, Soeharto, Ferdinand Marcos dan sejumlah kepala negara lainnya, juga mendapat pujian dan disanjung-sanjung banyak kalangan.

“Berdasarkan pengalaman menjelang kejatuhan Soekarno, Soeharto, bahkan Ferdinand Marcos, presiden Filipina sama persis dengan kondisi Jokowi saat ini, dipuji dan disanjung. Oleh karena itu ketika pemimpin formal negara, pimpinan parpol, parlemen bahkan dalam kasus menjelang kejatuhan Soeharto IMF ikut memujinya.

"Bukan hanya pimpinan fraksi di MPR yang muji tapi juga IMF memuji Soeharto," ujar Aminudin kepada Harian Terbit, Kamis (2/9/2021).

Menurut Gus Amin, sapaan Aminudin menuturkan, Presiden Jokowi bisa mengalami nasib yang sama seperti Soekarno, Soeharto di Indonesia dan Marcos di Philipina disanjung, dipuja-puji hampir semua pimpinan Parpol menjelang dijatuhkan kemudian berubah jadi caci maki.

Gus Amin menilai, sejumlah ketua umum parpol yang memuji Jokowi merupakan sebagian motivasi cari muka sebagai ungkapan terimakasih karena telah dan berharap dapat tambahan kursi menteri, posisi di BUMN dan pundi-pundi uang lebih banyak lagi.

Tapi, katanya, dalam banyak kasus seperti di Filipina, Indonesia era Orla dan Orba, Tunisia dan sebagainya, jika pimpinan parpol, tokoh formal ramai-ramai menjilat Presiden maka hal ini sebagai pertanda sedang terjadi pembusukan kekuasaan.

"Puja - puji itu juga sebagai resistensi rakyat yang kian meluas. Semakin tinggi rezim disanjung parpol maka akan tambah sakit pula jika rezim jatuh terbanting ke bawah," tegasnya.

Upaya ‘Membunuh’

Mantan Jurubicara Presiden keempat RI Gus Dur, Adhie M. Massardi mengatakan, puja-puji para ketua umum partai koalisi kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) ternyata bukan tanda partai-partai solid. Sebaliknya, itu merupakan bagian dari cara koalisi melakukan perlawanan terhadap sang presiden.

"Jadi ini perlawanan para ketua umum,” ujar Adhie Massardi dalam sebuah talkshow yang dipandu Edy Mulyadi dan diunggah di akun YouTube Bang Edy Channel seperti dilansir Harian Terbit, Kamis (2/9/2021).

Menurutnya, partai koalisi paham bahwa makian atau kritik yang mereka sampaikan mengenai kondisi ekonomi dan Covid-19 yang berantakan tidak akan efektif untuk disampaikan sebagai bagian dari pemerintah. Atas alasan itu, mereka melakukan perlawanan dengan cara memberi pujian.

Perlawanan dengan cara memberi pujian ini, kata Adhie, merupakan bagian dari budaya Jawa. Adhie yang pernah belajar di Yogyakarta lantas mengurai mengenai sandangan pangku yang ada di aksara Jawa. Sandangan pangku berfungsi untuk meluluhkan atau mematikan setiap huruf di akhir kata.

Begitu juga yang sedang dilakukan para ketua umum partai koalisi, sedang menerapkan konsep “dipangku, mati”. “Jadi kalau orang sudah memuji-muji, padahal tidak layak dipuji, itu membunuh,” tegasnya. 

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Sesmawati