Netral English Netral Mandarin
04:16wib
Relawan Sahabat Ganjar kembali melakukan deklarasi mendukung Ganjar Pranowo untuk maju sebagai calon presiden 2024. Penembakan seorang ustad bernama Armand alias Alex di depan rumahnya Jalan Nean Saba, Kelurahan Kunciran, Kecamatan Pinang, Tangerang hingga kini masih menjadi misteri.
Jokowi Minta Aparat Rasis Ditindak, Veronica Koman: Negara Bisa Tipu yang Lain, Kami Tidak

Jumat, 30-Juli-2021 14:55

Veronica Koman
Foto : Bisnis.com
Veronica Koman
31

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Veronica Koman protes keras dengan kondisi dan perlakuan aparat TNI-Polri yang sering bertindak rasis kepada warga Papua. 

Ia mengungkip pernyataan Presiden Joko Widodo yang pernah meminta agar aparat yang trasis ditindak tegas. 

“Negara bisa tipu yang lain, tapi tidak kami yang pembela HAM Papua,” kata Veronica Koman menanggapi pernyataan Presiden Jokowi, Jumat 30 Juli 2021.

“Tahun 2019, bahkan presiden sendiri yang memerintahkan supaya aparat rasis pemicu Papua meledak ditindak. Hasilnya? Tidak ada satu pun tentara maupun polisi yang berakhir dipenjara,” imbuh Veronica.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dan Kapolri Jenderal Tito Karnavian menindak tegas aparat TNI maupun Polri yang diduga bertindak rasialis terhadap mahasiswa Papua di Surabaya, Jawa Timur, pekan lalu.

Kepala Kantor Staf Presiden (KSP), Moeldoko mengatakan Presiden Jokowi langsung memanggil Hadi, Tito, serta Menko Polhukam Wiranto untuk membahas masalah di Papua dan Papua Barat begitu mendarat dari Nusa Tenggara Timur (NTT), tadi malam.

"Kalau memang ada aparat yang nyata-nyata melakukan hal seperti itu (rasialis), tindak, enggak ada alasan," kata Moeldoko dinukil CNN Indonesia.

Mantan Panglima TNI itu menyatakan tindakan rasialis tak boleh terjadi kepada siapapun, termasuk masyarakat Papua. Moeldoko menyebut kelompok masyarakat dan aparat tersebut adalah oknum yang tak memahami situasi dan kondisi lingkungan.

"Siapa pun enggak boleh terjadi, apalagi selaku, walaupun itu oknum ya, jelas-jelas oknum yang tidak memahami situasi lingkungan yang begitu dinamis," ujarnya.

Sejak Senin (19/8), ribuan orang di Papua dan Papua Barat turun ke jalan melakukan protes atas dugaan rasial dan diskriminatif aparat dan kelompok masyarakat terhadap mahasiswa Papua di Surabaya dan Malang, Jawa Timur.

Konsentrasi aksi sejak hari itu sampai Rabu (21/8) terjadi di sejumlah wilayah, seperti Jayapura, Manokwari, Sorong, Fakfak, Mimika, hingga Merauke. Mereka meminta kelompok masyarakat dan aparat yang diduga rasial diproses hukum.

Kemudian hari ini ratusan pemuda dan mahasiswa Papua menggelar aksi di sekitar Mabes TNI AD, Jakarta Pusat. Setelah menyampaikan pendapat di Mabes TNI AD, masa aksi bergerak ke seberang Istana Merdeka.

Mayoritas pria yang menjadi peserta aksi demo Papua di Jakarta itu bertelanjang dada, sementara lainnya mengenakan kaus dan ikat kepala berlambang Bintang Kejora.

Mereka menamakan dirinya Aliansi Mahasiswa Antirasisme, Kapitalisme, Kolonialisme, dan Militerisme itu meminta Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) agar menangkap aparat diduga pelaku rasisme di Surabaya.

Salah satu orator aksi, Albert Mungguar, mengatakan rakyat Papua mengecam pernyataan rasialis yang menyamakan mahasiswa Papua dengan binatang.

"Mengecam pihak keamanan yang berlebihan menangkap teman-teman kami di Surabaya. Pihak kepolisian, dalam hal ini Jokowi-JK menangkap oknum terlibat dalam rasis kawan-kawan kami di Surabaya. Kami menuntut itu karena kami bukan monyet, kami adalah manusia yang sama seperti kalian," kata Albert dalam aksi di depan Mabes TNI Angkatan darat, Jakarta Pusat, Kamis (22/8).

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto