Netral English Netral Mandarin
09:09wib
BMKG menyatakan gempa yang terus berlangsung di wilayah Ambarawa Kabupaten Semarang dan Kota Salatiga merupakan jenis gempa swarm dan perlu diwaspadai. Sejumlah calon penumpang pesawat di Bandara Soekarno-Hatta, Kota Tangerang, mengeluhkan soal aplikasi PeduliLindungi serta harga tes PCR yang dinilai mahal.
Journalist Weekend Rider Imbau Kurangi Risiko ‘Nongkrong’ Bareng Komunitas saat Pandemi

Rabu, 06-Oktober-2021 21:28

Anggota Journalist Weekend Rider, Ahmad Sabran
Foto : Wahyu Praditya Purnomo
Anggota Journalist Weekend Rider, Ahmad Sabran
9

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Journalist Weekend Rider menggelar acara nongkrong virtual dengan mengusung tema "Tips Mengurangi Risiko ‘Nongkrong’ Bareng Komunitas Saat Pandemi", Rabu (6/10/2021).

Acara yang dihadiri puluhan anggota komunitas yang hobi touring ini menghadirkan wartawan Wartakota Ahmad Sabran, yang merupakan anggota komunitas Journalist Weekend Rider dan Ketua Koalisi Indonesia Bebas TAR (KABAR) Ariyo Bimmo.

Acara daring ini diselenggarakan menyambut pelonggaran pembatasan mobilitas yang dilakukan pemerintah seiring dengan perbaikan situasi pandemi. 

Sabran mengatakan, sebelum bersiap untuk kembali memanaskan mesin motor dan menggeber motor kesayangan ke warung kopi kesayangan, anggota komunitas layak untuk tahu bagaimana mengurangi risiko saat berkumpul bersama sesama anggota komunitas. 

"Sebelum kembali keluar rumah, kami berkomitmen memberikan edukasi kepada anggota komunitas bagaimana mengurangi risiko ketika nongkrong bersama teman-teman,” kata Sabran. 

Menurut Sabran, setelah pemerintah mulai mengumumkan pelonggaran PPKM, banyak komunitas mulai rutin bertemu secara offline. Karena tidak bisa dipungkiri, bagi sebagian orang nongkrong menjadi bentuk aktualisasi diri.

Meski begitu, lanjut Sabran, selain menerapkan protokol kesehatan, nongkrong bareng juga harus memberikan kenyamanan baik diri sendiri maupun orang lain. Salah satu contohnya dengan mengurangi kebiasaan merokok. 

"Nyatanya untuk bisa berhenti merokok bukanlah hal yang mudah dilakukan, karena ada ‘rasa nyaman’ yang diberikan oleh nikotin yang ada dalam rokok, untuk menggantikan rasa nyaman tersebut, bisa menggunakan produk tembakau alternatif, yang minim asap dan bau, tapi masih mengandung nikotin," saran Sabran. 

Ketua Koalisi Indonesia Bebas Tar (KABAR) Ariyo Bimmo menambahkan, penggunaan produk tembakau alternatif, seperti rokok elektrik atau produk tembakau yang dipanaskan, dapat mengurangi risiko kebiasaan merokok.

"Pendekatan harm reduction sebenarnya banyak ditemui di kehidupan sehari-hari, contohnya penggunaan produk tembakau alternatif. Kenapa mengurangi risiko, karena para perokok tetap bisa mengonsumsi nikotin dengan risiko yang lebih rendah," kata Bimmo.

Ia melanjutkan, pengurangan risiko karena merokok adalah dengan mengeliminasi kandungan tar yang disebabkan oleh pembakaran. 

Selain itu, menurut Bimmo, penggunaan produk tembakau alternatif juga dapat menambah kenyamanan saat berkumpul bersama teman-teman. 

"Karena tidak ada pembakaran yang menghasilkan tar, produk tembakau alternatif dapat mengurangi paparan zat bahaya 90-95% dibandingkan rokok, ditambah penggunaan produk tembakau alternatif tidak akan meninggalkan bau yang mengganggu kenyamanan sekitar," pungkas Bimmo.

Reporter : Wahyu Praditya P
Editor : Nazaruli