Netral English Netral Mandarin
12:55wib
Partai Ummat  menyinggung dominansi Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan dalam evaluasi tujuh tahun kepemimpinan Presiden Joko Widodo. China kembali menggertak Amerika Serikat setelah Presiden Joe Biden menyatakan bahwa ia akan membela Taiwan jika Negeri Tirai Bambu menyerang.
Jutaan Orang di AS Masuk Islam, Politikus Partai Ummat: Sementara di TikTok Tiap Hari Konon Murtad

Sabtu, 11-September-2021 07:50

Mustofa Nahrawardaya, TikTok, masuk Islam, murtad,
Foto : Kolase Netralnews
Mustofa Nahrawardaya, TikTok, masuk Islam, murtad,
20

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Politikus Partai Ummat, Mustofa Nahrawardaya menyoroti kabar bahwa jutaan orang di Amerika Serikat masuk Islam. 

Ia kemudian membandingkan kabar lain di TikTok yang menyebutkan justru tiap hari ada yang memosting tentang orang yang konon malah murtad.

“Sementara di Tiktok, tiap hari ada postingan berisi orang yg KONON murtad, dan setiap bikin testimoni, masih pakai baju Muslim. Lupa ganti baju baru,” kata Mustofa Nahrawardaya, Sabtu 11 September 2021.

Dinukil Oposisicerdas.com seperti diunggah Mustofa Nahrawardaya disebutkan serangan teror yang terjadi pada 11 September 2001 di Amerika Serikat (AS) disebut memiliki konsekuensi yang mengherankan. 

Pasalnya, setelah peristiwa serangan oleh ekstremis itu banyak orang Amerika yang pertama kali mengenal Islam dan justru memilih untuk masuk Islam.

Dalam sensus agama non-pemerintah AS, antara 2000-2010, Muslim di AS tumbuh dari sekitar 1 juta menjadi 2,6 juta, meningkat 67 persen. Angka itu menjadikan Islam sebagai agama dengan pertumbuhan tercepat di AS.

Menurut Pew Research Center, pada 2017 jumlah Muslim di AS diperkirakan mencapai 3,45 juta. Terlepas dari pertumbuhan ini, temuan Lembaga Penelitian Agama Publik menyebutkan bahwa Muslim di Amerika Serikat hanya mewakili sekitar 1 persen dari populasi AS pada 2020.

Sebagai perbandingan, orang Kristen membentuk sekitar 70 persen dari populasi, sementara 23 persen orang Amerika mengatakan mereka tidak berafiliasi dengan agama atau diidentifikasi sebagai ateis atau agnostik.

Saat meliput pemilihan AS pada 2020, CGTN mewawancarai aktivis Ohio dan Delegasi Konvensi Nasional Demokrat Cynthia Cox Ubaldo, yang masuk Islam setelah peristiwa 11 September.

Dalam wawancara itu, Ubaldo mengatakan dia tertarik pada Islam saat dia meneliti serangan teroris oleh ekstremis Muslim.

Ketika dia belajar lebih banyak tentang prinsip-prinsip agama, dia menyadari bahwa itu adalah kebalikan dari apa yang diyakini oleh para teroris yang berpartisipasi dalam serangan 11 September. Setelah menjadi mualaf, Ubaido mengaku menghadapi beberapa contoh diskriminasi, dan bahkan penyerangan, karena kepercayaan dan pakaiannya.

Hal itu sesuai dengan hasil survei oleh Pew Research pada 2019, bahwa lebih dari setengah orang dewasa Amerika merasa bahwa Muslim banyak didiskriminasi, dan 82 persen mengatakan Muslim menghadapi beberapa diskriminasi.

Dalam sebuah wawancara dengan New York Daily News, Associate Professor Ihsan Bagby dari University of Kentucky mengatakan bahwa diskriminasi hanya membangun ketahanan di kalangan Muslim.

"Anda menjadi lebih kuat dengan perlawanan. Saya pikir atmosfer anti-Muslim di segmen tertentu dari ruang publik sebenarnya telah membuat Muslim lebih religius," katanya kepada Daily News, dilansir di CGTN, Jumat (10/9).

Analis Data untuk Sensus Agama AS Dale Jones juga mengatakan kepada Daily News, bahwa penganiayaan terkadang baik untuk sebuah kelompok agama dalam mendapatkan lebih banyak mualaf.

"Jarang sekali perlawanan menjadi alat yang sangat efektif dalam menghentikan pertumbuhan sebuah gerakan," kata Jones dinukil Oposisicerdas.com.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Irawan HP