Netral English Netral Mandarin
09:24wib
Hingga matchday kedua Euro 2020 (Euro 2021) terdapat satu negara yang sudah dipastikan tersingkir dari ajang sepak bola antarnegara paling bergengsi di Benua Biru yaitu Makedonia Utara. Indonesia sedang didera lonjakan kasus Covid-19 di sebagian besar daerah. Peningkatan kasus ini terlihat dari keterisian tempat tidur di rumah sakit oleh pasien Covid-19.
Kabar Duka dari Kepulauan Seribu

Minggu, 10-January-2021 08:38

Kabar Duka dari Kepulauan Seribu
Foto : Pikiran Rakyat
Kabar Duka dari Kepulauan Seribu
30

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Pesawat Sriwijaya Air bernomor SJ-182 hilang kontak pada pukul 14.40 WIB setelah empat menit terbang meninggalkan Bandara Soekarno-Hatta. Pesawat tersebut kemudian dinyatakan jatuh dan meledak di Kepulauan Seribu.

Kabar duka tersebut langsung tersiar ke seluruh keluarga penumpang. Harapan dan doa terus dipanjatkan.

Keluarga Kru Sriwijaya Air Fadly Satrianto di Kecamatan Batang Kapas, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat berharap adanya keajaiban setelah pesawat dengan nomor penerbangan SJ-182 hilang kontak.

"Kabar duka ini saya dapat dari grup WhatsApp keluarga, semoga ada keajaiban sehingga Fadly Satrianto dan kawan-kawan beserta penumpang selamat," kata kerabat Fadly Satrianto, Mak Itam dihubungi di Painan, Minggu.

Usai mendapat kabar ia langsung mengecek kebenarannya dengan mengunjungi sejumlah portal media dalam jaringan, serta menyaksikan berita secara langsung di televisi.

"Saya juga menelpon orang tua Fadly, mereka sangat sabar menghadapi kejadian ini," ungkapnya.

Ia menjelaskan Fadly Satrianto merupakan anak dari pamannya yang bernama Sumarzen Marzuki yang juga merupakan Ketua Gebu Minang Jawa Timur periode 2019-2024.

Pernyataan Direktur Utama Sriwijaya Air,

Pesawat hilang kontak saat melakukan penerbangan dengan ketinggian lebih dari 10.000 kaki dalam waktu kurang dari satu menit.

Sementara itu Direktur Utama Sriwijaya Air, Jefferson Irwin Jauwena mengatakan pesawat Sriwijaya SJ-182 layak terbang. "Kondisi pesawat dalam kondisi sehat," kata dia.

Ia mengatakan sebelum SJ-182 terbang, dinyatakan tidak mengalami kerusakan. Sebelum hilang kontak, pesawat Sriwijaya Air terkait sudah terbang ke Pontianak dan Pangkalpinang. Saat terbang ke Pontianak kedua kalinya seharusnya tidak ada masalah.

Keluarga Kapten Afwan, Pilot Sriwijaya Air SJ 182

Kapten Afwan, Pilot Sriwijaya Air SJ 182 yang pesawatnya hilang di atas Pulau Lancang Kepulauan Seribu pada Sabtu (9/1) sore, dikenal alim di lingkungan Perumahan Bumi Cibinong Endah (BCE), Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

"Baik orangnya santun, rajin sholat, kalau libur pasti selalu ke masjid," ungkap Ketua RT setempat, Agus Pramudibyo di kediaman Kapten Afwan, Sabtu malam.

Menurutnya, Kapten Afwan yang juga sempat menjadi bendahara masjid dan mantan ketua RT setempat sering memberi tausiah dalam setiap kegiatan keagamaan di lingkungan komplek.

"Beliau sering ngisi tausiah di arisan RT, ataupun kalau ada kegiatan-kegiatan di lingkungan perumahan sini," terang Agus.

Ia menyebutkan bahwa meski Kapten Afwan belum ber-KTP Bogor, tapi ia sudah tinggal di RT 01/10 Perumahan BCE, Kabupaten Bogor sejak 10 tahun silam.

Ia diketahui tinggal bersama seorang istri dan tiga anak, paling sulung masih duduk di bangku kelas 1 SMP dan paling bungsu masih duduk di bangku TK.

Kapten Afwan merupakan mantan personel TNI AU yang sudah purna tugas sejak 1998. Ia pernah berdinas di Skadron Udara 4 dan Skadron Udara 31.

Seperti diketahui, Pesawat Sriwijaya Air SJ 182 lepas landas (take off) dari Bandara Sukarno Hatta pukul 14.40 WIB dan dijadwalkan mendarat di Bandara Supadio Pontianak pukul 15.50 WIB, hilang kontak di atas Pulau Lancang Kepulauan Seribu.

Keluarga Penumpang dari Padang

Rumah orang tua Angga Fernanda Afrion (27), penumpang Sriwijaya Air SJ 182 rute Jakarta-Pontianak yang jatuh di Kepulauan Seribu, Jakarta, di Sungai Sapiah RT 03 RW 03, Kelurahan Sungai Sapiah, Kuranji, Padang, Sumatera Barat (Sumbar) ramai dikunjungi oleh keluarga serta kerabat pada Sabtu (9/1) malam.

Para kerabat berdatangan setelah mendapat kabar bahwa Angga yang merupakan anak kedua dari empat bersaudara itu, menjadi salah seorang penumpang Sriwijaya Air dengan kode penerbangan SJ 182 yang mengalami kecelakaan.

"Angga anak yang baik, mudah bergaul dan hubungannya baik dengan warga sekitar," kata salah seorang saudaranya, Irwati (45).

Ia menuturkan, setiap Angga pulang ke Padang selalu menyempatkan diri untuk mengobrol dengan orang-orang sekitar termasuk dirinya.

Hal yang sama juga diakui oleh Irham (24), salah satu kerabat yang juga datang ke kediaman orang tua Angga malam itu.

Sejumlah anggota keluarga dan kerabat juga menggelar doa di rumah tersebut.

Angga diketahui bekerja di bidang pelayaran dan merupakan tamatan SMK Pelayaran tahun 2010.

Ia sebelumnya terbang ke Jakarta untuk menemani persalinan sang istri yang baru saja melahirkan anak pertama.

Setelah selesai menemani istrinya, putra dari Oyon dan Afrida itu hendak terbang ke Pontianak demi pekerjaan.

Diketahui sebelumnya, Angga adalah salah satu penumpang pesawat Sriwijaya Air bernomor registrasi PK CLC SJ-182 jenis Boeing 737-500 yang hilang kontak pada posisi 11 nautical mile di utara Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta), Tangerang, Banten, Sabtu (9/1), setelah melewati ketinggian 11.000 kaki dan pada saat menambah ketinggian di 13.000 kaki.

Keluarga Penumpang dari Makassar

Rumah korban kecelakaan pesawat Sriwijaya Air, Ricko Damianus Mahulette, dipadati kerabat di Kompleks Puri Kencana Asri, Kecamatan Tamalanrea, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu dini hari.

"Belum tahu kabar pastinya. Besok saya ke Jakarta untuk memastikan," ujar ayah korban, Damianus Mahulette didampingi istri, anak keduanya serta kerabat.

Sebelumnya, Kemenhub mengonfirmasi pesawat Sriwijaya Air SJ-182 Rute Jakarta-Pontianak hilang kontak pada Sabtu pukul 14.40 WIB.

Pesawat lepas landas (take off) dari Bandara Soetta pukul 14.36 WIB. Jadwal tersebut mundur dari jadwal penerbangan sebelumnya 13.35 WIB. Penundaan keberangkatan karena faktor cuaca.

Pesawat membawa 62 orang, terdiri atas 40 orang dewasa, tujuh anak-anak, tiga bayi dan 12 kru pesawat, terdiri atas enam kru aktif dan enam kru ekstra.

Pihak keluarga saat ini masih menunggu perkembangan informasi dan berharap yang terbaik bagi para penumpang dan kru pesawat tersebut.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto