Netral English Netral Mandarin
19:51wib
Partai Ummat  menyinggung dominansi Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan dalam evaluasi tujuh tahun kepemimpinan Presiden Joko Widodo. China kembali menggertak Amerika Serikat setelah Presiden Joe Biden menyatakan bahwa ia akan membela Taiwan jika Negeri Tirai Bambu menyerang.
Kekuasaan Tersinggung oleh Hoaks Rp2 Triliun, Mustofa: Dapat Menghantam Komunitas Tionghoa

Kamis, 05-Agustus-2021 12:41

Mustofa Nahrawardaya
Foto : Instagram/Mustofa Nahrawardaya
Mustofa Nahrawardaya
24

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Seorang pegiat media bernama Gandjar Bondan @gandjar_bondan mengungkit soal kabar hoaks bantuan dana Rp2 Triliun dari Alm Akidi Tio.

“Urusan sumbangan Akidi Tio yang tak jelas pangkal dan pasalnya itu sudah menghabiskan energi banyak orang. Apalagi sampai dicari-cari masalah hukumnya. Begitulah bila kekuasaan sudah tersinggung, bukan di langit pun dibikin bingung!” katanya.

Cuitan tersebut diretweets oleh politikus Mustofa Nahrawardaya dengan sejumlah komentar pedas. Mustofa menduga soal hoaks tersebut bisa merugikan komunitas Tionghoa.

“Dan, seorang Bos Media terkenal pun sampai 'berbusa-busa' meyakinkan publik, bahwa harapan itu, SEPERTINYA, ada,” kata Mustofa, Kamis 5 Agustus 2021.

“Saya enggak tahu ada apa ini? Kayaknya terkait tulisan pertama Si Bos soal Akidi. Bahwa jika kasus ini ternyata hoax, maka dapat menghantam komunitas Tionghoa,” imbuhnya.

Sementara sebelumnya dinukil Kompas.com, Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru meminta agar Heriyanti yang merupakan anak Akidi Tio dihukum secara tegas karena telah menimbulkan kegaduhan. 

Heriyanti diketahui sebelumnya sempat menyerahkan secara simbolis bantuan Covid-19 kepada Kapolda Sumatera Selatan Irjen Eko Indra Heri sebanyak Rp 2 triliun pada Senin (26/7/2021). 

Namun, setelah dilakukan penyelidikan, bantuan tersebut ternyata penipuan. Baca juga: Profil Akidi Tio, Pengusaha Sukses Asal Aceh Timur yang Sumbang Rp 2 Triliun untuk Warga Sumsel 

"Saya sebagai pemimpin Sumsel minta kepada Polri menindak tegas siapa pun yang membuat kegaduhan polemik. Sehingga, suasana saat kita menangani pandemi Covid-19 menjadi terusik. Ini sudah bikin gaduh, harus ditindak tegas," kata Herman saat menggelar konferensi pers, Senin (2/8/2021). 

Herman menjelaskan, sedari awal pemberian bantuan dengan nilai fantastis tersebut, ia menemukan kejanggalan. 

Bahkan, Herman sempat menggunakan jaringan bisnisnya untuk mencari sosok Akidi, tetapi tak ada yang mengetahui latar belakang almarhum. 

"Kita ini kan manusia yang hidup bergaul, tentu indikasinya bisa kita baca dengan pada tanggal 26 kemarin (saat memberikan bantuan), tapi sudah lengkap langkah Polda dengan menangkap oknum tersebut," ujarnya. 

"Kita tidak tahu apa keinginannya, sehingga melakukan hal di luar batas kemampuan berpikir kita. Saya minta tegas apa yang telah diperbuat oleh oknum individu dan keluarga, kalau berlarut bisa mempermalukan institusi," tambah Herman. 

Selama ini, Herman mengaku bantuan untuk penanganan Covid-19 memang banyak yang menyumbang. Namun, rata-rata bantuan itu diberikan berupa fisik, bukan uang. 

"Kalau saya secara pribadi selalu selektif saya minta. Kalau orang nyumbang, Satgas Covid-19 nyumbang material, bukan duit," ungkapnya. 

Diberitakan sebelumnya, Direktur Intelkam Polda Sumatera Selatan menyebutkan Heriyanti yang merupakan anak bungsu almarhum Akidi Tio sebagai tersangka, Senin (2/8/2021). 

Penyebutan tersangka itu terkait sumbangan bantuan Rp 2 triliun keluarga Akidi Tio pada Senin (26/7/2021) di Mapolda Sumatera Selatan. Dari hasil penyelidikan, sumbangan bantuan Rp 2 triliun tersebut ternyata hoaks. 

"Kita setengah jam lalu melakukan penegakan hukum terkait komitmen bantuan penanganan Covid-19 kepada Kapolda Sumsel. Saat ini tersangka inisial H sudah diamankan dari Bank Mandiri dibawa ke Mapolda Sumsel," kata Direktur Intelkam Polda Sumatera Selatan Kombes Ratno Kuncuro saat menggelar pers rilis bersama Gubernur Sumsel Herman Deru. 

Terbaru, pernyataan itu dibantah oleh Kabid Humas Polda Sumsel Supriadi. Supriadi menyebutkan, Heryanti diundang ke Mapolda Sumsel untuk dimintai keterangan terkait sumbangan Rp 2 triliun yang belum cair hingga saat ini.

 Keluarga Akidi berjanji akan mencairkan sumbangan itu pada Senin (2/8/2021) saat penyerahan sumbangan secara simbolis di Mapolda Sumsel, Senin (26/7/2021). 

Tetapi, janji itu tak kunjung terealisasi sehingga polisi meminta keterangan Heriyanti. "Tidak ada prank. Pada hari ini, ibu Heriyanti kita undang ke Polda. 

Perlu digarisbawahi, kita undang bukan kita tangkap. Kita undang untuk datang ke Polda untuk memberikan klarifikasi terkait penyerahan dana Rp 2 triliun melalui bilyet giro," kata Supriadi saat memberikan keterangan pers kepada wartawan, di Mapolda Sumsel, Senin. 

"Bilyet giro ini tidak bisa dicairkan karena ada teknis yang diselesaikan. Kita tunggu sampai pukul 14. 00 WIB ternyata belum ada informasi, sehingga kita undang ke Polda Sumsel. Bukan ditangkap," kata Supriadi menambahkan.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Nazaruli