Netral English Netral Mandarin
00:49wib
Pemerintah Indonesia kritik Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang luput menyoroti kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di negara-negara maju. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menahan Wakil Ketua DPR Azis Syamsuddin pada Sabtu (25/9/2021) dini hari.
Keluarga Akidi Tio Sumbang Rp 2 T, Lieus: Bukti Cinta Warga Keturunan Tionghoa Pada Negeri Ini

Rabu, 28-Juli-2021 15:27

Aktivis Tionghoa Lieus Sungkharisma.
Foto : Istimewa
Aktivis Tionghoa Lieus Sungkharisma.
9

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Nama almarhum Akidi Tio tengah ramai diperbincangkan publik usai keluarga pengusaha itu menyumbang Rp 2 Triliun untuk penanganan pandemi Covid-19 ke Polda Sumatera Selatan pada Senin (26/7/2021).

Aksi keluarga Akidi Tio membantu pemerintah mengatasi pandemi Covid-19 itu mendapat apresiasi dari banyak pihak, tak terkecuali aktivis Tionghoa Lieus Sungkharisma.

“Ini salah satu bukti bahwa warga keturunan Tionghoa sangat mencintai negara ini,” ujar Lieus melalui keterangan tertulisnya, Rabu (28/7/2021).

Menurutnya, apa yang dilakukan keluarga ahli waris Akidi Tio itu merupakan bentuk kepedulian salah seorang anak bangsa atas apa yang sedang dihadapi bangsanya.

“Kita perlu mengapresiasi dan memberi hormat atas ketulusan keluarga ini. Sebab tak banyak orang kaya di negeri ini, yang kekayaannya bertriliun-triliun, rela mengorbankan harta sedemikian besar untuk menolong bangsa dan negaranya yang sedang sulit,” kata Lieus.

Lieus menambahkan, apa yang dilakukan keluarga Akidi Tio dengan memberikan sumbangan uang untuk membantu negara, telah menginspirasi banyak orang dan mengingatkannya pada apa yang pernah dia lakukan tahun 2003 di masa Wapres Hamzah Haz.

“Secara pribadi. waktu itu saya bersama Yusuf Siregar dan Bambang Sungkono menyumbang masing-masing Rp100 juta melalui sebuah program gerakan nasional yang disebut Superiman atau Solidaritas Umat Peduli Modal Nasional yang waktu itu dipimpin Wapres Hamzah Haz dan Presiden Megawati sebagai penasehat,” ungkap Lieus.

Diakui Lieus, Gerakan Nasional Superiman yang diresmikan oleh Wapres Hamzah Haz pada 19 Agustus 2003 di Istana Wapres itu, memang merupakan idenya dan sejumlah kawannya sesama aktivis. “Niatnya adalah untuk membantu negara melepaskan diri dari hutang dan ketergantungan pada pinjaman luar negeri,” ujar Lieus.

Sayangnya, tambah Lieus, meski sempat membuka rekening khusus 17081945 di BRI, gerakan Superiman mati sebelum berkembang. “Ada pihak-pihak yang menjadikan gerakan untuk membantu keuangan negara ini sebagai isu politik,” bebernya.

Padahal, tambah Lieus, lembaga Superiman yang dibentuk atas swadaya dan swadana masyarakat ini bisa menjadi alternatif dalam menangani krisis ekonomi yang berkepanjangan. Lembaga itupun langsung di bawah pengawasan BPK dan auditor independen.

“Kalau gerakan itu berjalan, negara tak perlu lagi berutang ke luar negeri,” tutur Koordinator Forum Rakyat itu.

"Bayangkan, jika selama 18 tahun sejak dari 2003 hingga 2021, kalau saja Superiman itu berjalan mulus dan setiap orang/pengusaha menyumbangkan Rp 100 juta saja hartanya untuk membantu keuangan negara, sudah berapa ribu  triliun uang yang bisa dikumpulkan,” jelasnya.

Lieus menyebut, meski secara pribadi dia sangat mengapresiasi apa yang dilakukan ahli waris Akidi Tio, namun sampai sekarang dia masih memimpikan adanya lembaga independen yang bisa menghimpun dana masyarakat untuk membantu keuangan negara.

“Saya berharap, di tengah kondisi perekonomian negara yang sulit sekarang ini, gagasan menghimpun dana rakyat itu bisa dilanjutkan dengan keluarga pak Tio sebagai pemimpinnya. Karena itu saya ingin bertemu dengan Wapres Makruf Amin,” ucap Lieus.

“Kita tak boleh membiarkan negara ini terus menerus berutang ke luar negeri yang akan berakibat menjadi beban anak cucu kita. Kita harus menjabarkan konsep berdikarinya Bung Karno dengan memberdayakan potensi rakyat sehingga pemerintah bisa tetap membangun tanpa harus berutang pada luar negeri,” pungkasnya. 

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Nazaruli