3
Netral English Netral Mandarin
15:56 wib
Sebanyak tujuh mantan kader Partai Demokrat yang baru saja dipecat bakal menggugat gugatan secara kolektif ke Pengadilan Negeri pekan depan. Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan telah memangkas jumlah BUMN dari 142 menjadi tinggal tersisa 41 perusahaan.
Kemenkes Peringkatkan Kekurangan Zat Gizi Mikro, Tak Kasat Mata Tapi Besar Dampak Negatifnya

Jumat, 22-January-2021 11:42

PLT Dirjen Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) drg Kartini Rustandi
Foto : Netralnews-Martina Rosa Dwi Lestari
PLT Dirjen Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) drg Kartini Rustandi
0

JAKARTA, NETRALNEWS.COM − PLT Dirjen Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) drg Kartini Rustandi memaparkan, masalah gizi di Indonesia dibagi menjadi tiga. Pertama adalah kekuarangan gizi atau bisa disebut juga dengan stunting, ada pula yang kelebihan gizi yang menyebabkan obesitas, serta masalah kekurangan zat gizi mikro.

Kata Kartini, keadaan kekurangan zat gizi mikro memang tidak bisa terlihat langsung secara kasat mata, tetapi masalah ini bisa membawa dampak yang besar. Diantaranya, bagaimana orang−orang bisa kurang produktif dan perlu diwaspadai apabila keadaan itu terjadi pada remaja.

“Remaja adalah masa depan bangsa dan remaja keadaannya harus sehat. Data menunjukkan bahwa kita mempunyai masalah, kalau kita lihat ada empat remaja, salah satu dari mereka pendek. Kalau ada 10 remaja, salah satunya kurus, kemudian salah satu dari tujuh orang biasanya gemuk atau obesitas dan tiga dari 10 remaja alami anemia,” jelas Kartini, Jumat (22/1/2021).

Pernyataan itu disampaikan Kartini saat Temu Media Virtual, Peringatan Hari Gizi Nasional yang mengangkat tema “Remaja Sehat Bebas Anemia” dengan sub tema “Gizi Seimbang Remaja Sehat Indonesia Kuat”. Turut hadir dalam acara tersebut Akademisi Prof dr Endang L Achadi, MPH, DrPH dan Perwakilan UNICEF Indonesia Jee Hyun Rah.

Lebih lanjut Kartini jelaskan apabila keadaan yang telah paparkan itu akan berpengaruh pada masalah kesehatan. Beberapa dampak yang ditakutkan lainnya adalah remaja yang mengalami Penyakit Tidak Menular (PTM) nantinya dan kurang produktivitas dalam pendidikan dan aktivitas, perkembangan otak terhambat dan anemia.

“Kalau kegemukan, bisa jadi karena kurang aktivitas dan macam−macam. Selain itu gaya hidup remaja dan pemahaman masih banyak yang perlu dilengkapi,” ujar Kartini.

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), sebanyak 65 persen remaja mengatakan tidak sarapan. Padahal, remaja yang mau belajar dan beraktivitas tentu memerlukan energi untuk berpikir.

Tidak sampai di situ, ada juga sebesar 97 persen, remaja kurang asupan sayur dan buah. Padahal kita ketahui sendiri bahwa Indonesia berada di daerah tropis yang menyediakan banyak buah dan sayur, sehingga sayang untuk tidak dimanfaatkan.

Di sisi lain, gaya hidup remaja banyak yang konsumsi makanan siap saji atau junk food. Berbagai makanan itu tentu dikenal  mengandung Gula, Garam, Lembak (GGL) yang berlebih sehingga berpegaruh pada obesitas.

“Dan terbukti anak remaja kekurangan gizi mikro, anak putri alami anemia. Maka dari itu kami gelorakan remaja putri yang anemia mendapatkan tablet tambah darah untuk meningkatkan potensi akademik, produktivitas untuk hindari PTM dan konsumsi gizi seimbang,” pesan dia.

 

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Nazaruli