Netral English Netral Mandarin
09:55wib
Hingga matchday kedua Euro 2020 (Euro 2021) terdapat satu negara yang sudah dipastikan tersingkir dari ajang sepak bola antarnegara paling bergengsi di Benua Biru yaitu Makedonia Utara. Indonesia sedang didera lonjakan kasus Covid-19 di sebagian besar daerah. Peningkatan kasus ini terlihat dari keterisian tempat tidur di rumah sakit oleh pasien Covid-19.
RK Ngeri dan Sulit Lupakan Kenangan Mistis saat Kemah di Magelang

Jumat, 18-December-2020 15:16

Ilustrasi: RK sulit lupakan kenangan misterius saat camping di sekitar Air Terjun Kedung Kayang, Magelang, Jawa Tengah
Foto : Nasirullah Sitam
Ilustrasi: RK sulit lupakan kenangan misterius saat camping di sekitar Air Terjun Kedung Kayang, Magelang, Jawa Tengah
24

MAGELANG, NETRALNEWS.COM – Bunyi gemericik air sungai menerkam telingaku. Ada suara-suara sayup membuat bandanku menciut. Mistis sekali. Seperti suara gamelan ditabuh dari kejauhan.

Seluruh teman sudah tertidur pulas karena kecapekan. Ada yang mendengkur keras, ada yang lirih malu-malu.

Mendadak suara lain muncul mengalahkan semuanya. Kali ini bukan suara gaib namun berasal dari bentakan senior di luar tenda.

“Bangun cepat! Bangun dan bawa perbekalan kalian! Sekarang juga kalian harus pulang!” bentakan itu memaksa kantuk terlepas dari tubuh kami satu tim.

Malam pekat itu menjadi awal kisah jerit malam penulis saat menjalani camping (kemah) pembinaan siswa SMA di Mertoyudan, Magelang Jawa Tengah.

Lokasi yang digunakan adalah di bumi perkemahan tak jauh dari lokasi Air Terjun Kedung Kayang yang terkenal angker namun eksotis.

Anda memiliki kenangan serupa terkait objek wisata air Terjun Kedung Kayang yang berlokasi di antara Gunung Merapi dan Merbabu, tepatnya di Dusun Ngagrong, Desa Ketep, Kecamatan Sawangan, Magelang, Jawa Tengah?

Kenangan yang tak bisa dilepaskan dari penulis sendiri saat camping seperti di awal tulisan ini adalah “suara sayup-sayup” gamelan ditabuh. Hingga kini kenangan itu tak  bisa dilupakan.

Soal cerita jerit malam saat camping yang berlangsung di tahun 1997 silam, merupakan cerita lain yang menarik tapi satandar dan umum.

Ada perintah-perintah senior, ada yang menakut-nakuti, meneror dengan tujuan untuk membangun psikologi kuat dalam menghadapi situasi penuh tekanan.

Tak ada yang lebih menarik dan aneh dibanding suara “gamelan” misterius yang penulis ingat. Sebab, hingga kini, penasaran tentang asal-usul bunyi misterius itu tak pernah bisa penulis temukan jawabannya.

Yang pasti, penulis yakin itu bukanlah suara musik gamelan yang sungguhan.

Penulis sempat melakukan penelusuran dan mencari informasi keberadaan suara itu. Yang ditemukan adalah cerita warga tentang legenda misteri tempat ini.

Konon, di Air Terjun Kedung Kayang, tak jauh dari lokasi camping, dahulu merupakan arena para empu beradu kekuatan.

Zaman dulu, di kawasan ini, ada tiga empu, yaitu Empu Putut, Empu Khalik dan Empu Panggung. Tiga empu tersebut sering mengadakan pertemuan.

Pertemuan para empu ini, bertujuan untuk adu kekuatan berupa Tanding Balang (adu lempar). Tanding Balang dilakukan para empu pada Bulan Suro.

Pada pertandingan tersebut, siapa yang bisa melempar telur angsa ke arah kedung namun masih utuh, dia pemenangnya. Sayang, ketiga telur angsa tersebut pecah lalu masuk ke kedung.

Namun, para empu ternyata tidak bisa menemukan cengkarang telur yang pecah.

Dari pecahan telur itulah, konon mata air ini muncul; mata air yang tidak pernah kering.

Sementara warga lainnya mengisahkan bahwa di Kedung Kayang sudah berulang kali orang mengalami fenomena gaib.

Setiap malam Jum’at Kliwon apalagi di bulan Suro, dari kawasan tersebut sering mengeluarkan suara atau alunan gamelan Jawa yang  tersebar dan mengalun ke segala penjuru.

Bagian cerita ini langsung mengingatkan penulis ketiku mengikuti camping. Sontak timbul pertanyaan apakah malam itu jatuh di malam Jumat Kliwon?

Lagi-lagi, warga setempat pun tak bisa menjelaskan apa arti dan siapa yang membunyikan musik gamelan itu.

Jawaban yang di dapat malah menyebutkan bahwa saat bunyi gamelan datang biasanya rombongan kera akan turun gunung dan minum di Air Terjun Kedung Kayang.

Penulis sendiri masih ingat, saat camping kala itu, memang rombongan kera benar-benar berdatangan di air terjun seolah ingin bermain dan menikmati pesaona air terjun.

Mengenai cerita bahwa air di kawasan ini tidak pernah surut, sekalipun sedang musim kemarau, sebenarnya bukan hal aneh, sebab Air Terjun Kedung Kayang merupakan pertemuan dari empat mata air di gunung Merbabu.

Namun soal misteri suara gamelan, hingga kini, rasa penasaran yang tak terjawab tetap menghuni benak penulis.

Terlepas dari semua itu, harus diakui, Air Terjun Kedung Kayang memang indah. Sangat cocok menjadi lokasi untuk merenung dan menenangkan diri dari penatnya kehidupan.

Lokasi camping tak jauh dari air terjun juga sangat nyaman sebagai wisata alam. Anda ingin mencobanya?

 

Penulis: Riyan Kusilo (42)

Alumni di SMA Swasta di Mertoyudan Magelang

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto