Netral English Netral Mandarin
02:50wib
Partai Ummat  menyinggung dominansi Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan dalam evaluasi tujuh tahun kepemimpinan Presiden Joko Widodo. China kembali menggertak Amerika Serikat setelah Presiden Joe Biden menyatakan bahwa ia akan membela Taiwan jika Negeri Tirai Bambu menyerang.
Kepala Desa Cerdas dan Berkarakter Kuat Hadirkan Desa Unggul

Minggu, 26-September-2021 14:08

Erikson Sianipar bersama sejumlah Kades dari Tapanuli Utara menyaksikan model drone pertanian
Foto : Dok.Bisukma
Erikson Sianipar bersama sejumlah Kades dari Tapanuli Utara menyaksikan model drone pertanian
19

 

TARUTUNG, NETRALNEWS.COM – Meski pandemi Covid-19 masih mengintai kehidupan masyarakat Indonesia, pesta politik di tingkat desa tetap harus berjalan. Pilkades adalah amanat konstitusi. 

Pilkades serentak di wilayah Kabupaten Tapanuli Utara akan berlangsung pada 23 November 2021. Geliat politik menyambut momen tersebut telah dimulai. 

Berdasar Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 72 Tahun 2020 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 112 Tahun 2014 tentang Pemilihan Kepala Desa ditetapkan ketentuan-ketentuan mendasar agar jalannya Pilkades sesuai dengan standar protokol kesehatan yang harus dipatuhi. Dengan demikian, Pilkades semestinya bisa berlangsung tanpa harus menimbulkan klaster covid-19. 

Selain itu, seluruh unsur masyarakat hendaknya memahami hakikat Pilkades dalam konsepsi politik seharusnya “menyejahterakan”. Politik bukan sekadar ajang perebutan kekuasaan namun merupakan alat untuk mewujudkan kehidupan sosial yang berkeadilan, sejahtera, dan membahagiakan.

“Pesta Pilkades di Tapanuli Utara hendaknya berlangsung dalam suasana gembira, sportif, tanpa diwarnai intrik dan teror, tanpa cara-cara kekerasan, tanpa kecurangan, tanpa money politic, dan tidak menggunakan isu-isu SARA. Memilih calan-calon Kepala Desa bukan berdasarkan karena alasan agama, suku, maupun alasan marga,” kata Pendiri Yayasan Bisukma Bangun Bangsa, Erikson Sianipar kepada Netralnews, Kamis (17/9/2021). 

(Erikson Sianipar bersama warga desa di Tapanuli Utara, Dok. Bisukma)

 

Erikson berharap agar warga Tapanuli berperan aktif dalam Pilkades dengan semangat dan motivasi kerinduan terwujudnya masa depan yang lebih baik.

“Kita  berharap motivasi memilih didasarkan karena kerinduan menyambut terwujudnya perubahan baru dan besar yakni terciptanya desa yang mandiri, berbudaya, modern,  dan sejahtera. Untuk itu, pilihlah calon-calon Kepala Desa yang memiliki karakter kuat atau unggul,” himbau Erikson.

Menuju Desa Mandiri 

Adakah tips khusus bagi masyarakat Tapanuli Utara agar Pilkades menghasilkan Kepala Desa unggul dan tidak terperosok memilih kucing dalam karung?

Bila mengacu dan mencermati Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi  (Mendes PDTT) yakni Permendes PDTT Nomor 7 Tahun 2021 tentang Prioritas Penggunaan Dana Desa Tahun 2022, sebenarnya karakter Kepala Desa yang dibutuhkan terjabarkan dengan cukup jelas. 

Pemerintah Indonesia telah menempatkan strategi Pembangunan Nasional yakni Pembangunan Desa secara Berkelanjutan atau SDGs (Sustainable Development Goals) yakni melalui Program Dana Desa. 

Permendes PDTT Nomor 7 Tahun 2021 menegaskan bahwa dana desa tahun anggaran 2022 diprioritaskan untuk tiga hal yaitu pemulihan ekonomi nasional sesuai kewenangan desa, program prioritas nasional sesuai kewenangan desa, dan mitigasi dan penanganan bencana alam dan nonalam sesuai kewenangan desa.

Tiga prioritas tersebut disesuaikan dengan kondisi pandemi yang masih membayangi Indonesia di masa mendatang meskipun telah ada penurunan kasus Covid-19 dalam beberapa minggu terakhir.

(Pendiri Bisukma, Erikson Sianipar dalam program BisukmaGoesTo di Desa Purbatua, Tapanuli Utara, Dok Bisukma) 

 

Letak persoalan yang krusial adalah bagaimana pemimpin dalam hal ini Kepala Desa, mampu memanfaatkan Program Dana Desa secara maksimal untuk tinggal landas menuju desa mandiri dan modern. 

Kepala Desa hendaknya  mampu mengimplementasikan program sehingga bisa menjawab kebutuhan saat ini tanpa mengorbankan pemenuhan kebutuhan generasi desa di masa depan.

“Langkah selanjutnya di masa mendatang, setiap desa tidak bisa lagi hanya mengandalkan Dana Desa namun sudah mampu mandiri dan bersaing dengan masyarakat global,” papar Erikson Sianipar. 

Untuk itu, dibutuhkan seorang Kepala Desa yang benar-benar memahami visi atau cita-cita nasional, kemudian mampu mengimplementasikan strategi jangka panjang, serta secara bertahap mengeksekusi program pemajuan desa. 

Memilih Calon Kades Berkarakter Unggul

Ada banyak indikator untuk mewujudkan desa sejahtera di tengah situasi pandemi Covid-19 sesuai program SDGs, antara lain terwujudnya desa tanpa kemiskinan, tanpa kelaparan, sehat dan sejahtera, berpendidikan baik, melibatkan kaum perempuan, memiliki layak air bersih dan sanitasi, mengembangkan energi terbarukan, pertumbuhan ekonomi merata, memiliki infrastruktur dan inovasi sesuai kebutuhan, serta tanpa kesenjangan. 

Selain itu, desa juga harus menjadi tempat tinggal yang aman dan nyaman, perilaku konsumsi dan produksi yang sadar lingkungan, tanggap perubahan iklim, peduli  lingkungan  laut,  peduli lingkungan darat, damai dan berkeadilan, dan memiliki kemitraan untuk pembangunan berorientasi ke masa depan.

(Bisukma menggalakkan budaya literasi di Tapanuli Utara, Dok. Bisukma)

 

Melihat banyaknya indikator desa sejahtera, maka kualitas Kepala Desa pun tidak bisa hanya diukur berdasar tinggi rendahnya pendidikan. 

Kepala Desa hendaknya memiliki komitmen kuat yang di antaranya bisa dilihat dari track recordnya. Selain itu, Kepala Desa juga harus memiliki sejumlah karakter unggul serta memiliki rencana program pembangunan desa yang jelas. 

Dalam pandangan Erikson Sianipar, seorang Kepala Desa di Tapanuli Utara hendaknya memiliki sejumlah karakter dan kapabilitas yang mumpuni  agar mampu mengemban amanat agung mewujudkan desa unggul, maju, dan sejahtera. 

“Kepala Desa harus memiliki jiwa melayani tinggi, impian yang jelas tentang desanya mau dibawa ke mana, mampu memformulasikan strategi dan menetapkan program prioritas, mampu mengeksekusi dengan kuat, mampu menggerakkan seluruh masyarakat untuk bahu-membahu membangun desa, inovatif, mampu berkolaborasi, memiliki jiwa kewirausahaan, mandiri dalam mengambil tindakan, menerapkan teknologi dalam pengelolaan desanya, merupakan seorang pembelajar sepanjang hayat, dengan integritas tinggi,” terang Erikson. 

Mampu Menjalankan Program

Sudah semestinya, setiap Kepala Desa  memiliki pengetahuan dan keterampilan mencukupi dalam mengatur tata kelola pemerintahan dan administrasi yang dibutuhkan mulai dari merancang perencanaan dengan melibatkan segenap unsur masyarakat melalui musyawarah dusun dan desa, membuat pelaporan, dan publikasi secara transparan. 

Dengan memprioritas dan memastikan ketersediaan jaringan internet berkecepatan tinggi, maka seluruh sistem administrasi dan pelaporan hingga layanan publik digital semestinya bisa diwujudkan dengan berbasis website atau platform digital. 

Selain itu, di masa transisi menghadapi era global dan revolusi industri 4.0, Kepala Desa juga harus mampu memetakan seluruh persoalan kemudian merancang pembangunan berdasar skala prioritas. 

Setiap desa dipastikan memiliki potensi baik dibidang pertanian, perkebunan, kerajian, perikanan, maupun pariwisata. Potensi akan bisa dimanfaatkan dan berkembang dengan didukung oleh infrastruktur pokok dan penunjang, misalnya akses jalan, ketersediaan jaringan internet berkecepatan tinggi, dan seterusnya. 

Di sisi lain, perlu memperkuat SDM yang mampu mengolah potensi menjadi produk bernilai jual sehingga dapat dipasarkan baik di tingkat domestik maupun mancanegara dengan memanfaatkan teknologi informasi. 

Lahirnya pengusaha muda dan baru dalam menggerakkan industri lokal dalam bentuk beragam UMKM di bawah payung Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) menjadi pertanda desa telah bergerak sesuai koridor yang dikehendaki. Bila telah sampai di titik ini, lalu  bagaimana?

“Bisukma memiliki Budaya Betapature, yakni mempraktikkan nilai-nilai positif dalam kehidupan sehari-hari dan sekaligus menjadi spirit dan ajakan untuk pature diri yakni membenahi diri sendiri, pature keluarga, yakni membenahi keluarga, dan pature huta, yakni membenahi kampung halaman kita. Dalam konteks pature huta, ketika desa atau kampung yang telah berhasil menggeliat maju, bukan kemudian berpuas diri. Langkah selanjutnya adalah bergandengan tangan bersama desa lain membangun gerak kolaborasi untuk pembangunan Tapanuli Utara seutuhnya,” kata Erikson. 

(Tapanuli Utara memiliki potensi wisata yang tak sedikit, Dok. Bisukma)

 

Kepala Desa hendaknya memiliki spirit membangun sinergisitas antar desa. Gerak sinergis pembangunan antar desa, antar kecamatan, bahkan antar kabupaten sebenarnya merupakan tahap yang dicita-citakan oleh pembangunan nasional. 

“Ambil misalnya di bidang pariwisata. Potensi destinasi wisata Tapanuli Utara ada segudang mulai dari wisata alam hingga wisata rohani. Namun diperlukan sinergisitas pembangunan mulai dari infrastruktur, pembangunan budaya, hingga hospitality yang kuat,” kata Erikson. 

Agar wisatawan domestik maupun mancanegara betah bahkan ketagihan datang ke Tapanuli Utara, semua desa dan semua warganya harus memandang penting tentang kebersihan jalan hingga toilet, dan tidak ada tindak pidana kriminal. 

Dalam bidang promosi dan pemasaran, mensyaratkan ketersediaan infrastruktur jaringan internet berkecepatan tinggi, perangkat keras dan perangkat lunak penunjang, dan SDM yang mumpuni dalam memasarkan wisata Tapanuli Utara.

Di bidang pertanian, komoditas pertanian pun tak jauh berbeda. Bagaimana antar desa memiliki sinergisitas dalam menentukan harga, pengadaan pupuk melalui kerjasama BUMDes, pengelolaan hasil pertanian  misalnya menjadi pangan kekinian, hingga pemasaran melalui UMKM-UMKM.

Masalah lain yang juga penting dicatat antara lain adalah soal peran kaum perempuan dalam pemerintahan, perhatian dan peran bagi kelompok disabilitas dan kelompok marginal lainnya, serta penjegahan kasus stunting.

“Kasus stunting harus dicegah melalui program pemenuhan gizi. Untuk itu peranan posyandu, puskesmas, dan tenaga kesehatan desa tak boleh dilupakan. Demikian pula kualitas pendidikan dari tingkat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga sekolah lanjutan berikutnya,” imbuh Erikson. 

Kreatif dan Inovatif di Tengah Pandemi

Pada 12 November 2019 silam, Asian Solidarity Economy Council (ASEC) menyatakan bahwa Desa Panggungharjo, Sewon, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, sebagai desa percontohan dalam penerapan ekonomi solidaritas. 

Perkembangan terkini, Panggungharjo berhasil menempatkan manusia sebagai motor penggerak kegiatan sosial dan ekonomi di tengah Pandemi Covid-19. 

Keberadaan Desa Panggungharjo bisa menjadi salah satu referensi penting untuk melihat bagaimana program kerja yang dirancang para calon Kepala Desa di Tapanuli Utara. 

Menukil catatan Theresia Gunawan dan Pius Sugeng Prasetyo dalam "Panggungharjo Village, Innovative Village Through Digitalization During Pandemic”, terungkap Kepala Desa Panggungharjo beserta para aparat desa berhasil menciptakan inovasi di tengah merebaknya Covid-19,. 

Seperti kita ketahui, dampak penyebaran Covid memaksa banyak orang meminimalisir kontak komunal. Namun bukan berarti kemudian meniadakannya. Panggungharjo menciptakan model interaksi menggunakan platform atau aplikasi berupa “Platform Lapor” dan “Platform Dukung”.

Platform lapor dirancang untuk mengatasi kedaruratan medis, mitigasi ekonomi, dan mitigasi sosial berbasis data lapor dari warga, yang tentu saja memerlukan respons cepat di tengah kondisi pandemi yang tak bisa diperkirakan batas waktunya.

Sementara Platform Dukung, dirancang untuk menggerakan segala sumber daya yang dimiliki desa untuk kedaruratan bencana Covid-19. Platform ini bertujuan untuk memecahkan persoalan dan dampak yang dihadapi oleh warga desa Panggungharjo. 

(Erikson Sianipar saat mengunjungi salah satu desa di Yogyakarta, Foto: Dok.Bisukma)

 

Platform lapor dan platform dukung juga diperkuat dengan Whatsapp Group (WAG) bernama “Panggung Tanggap C-19.” Beragam informasi yang salah/hoaks berhasil disaring melalui kesadaran saling cross check data dan informasi. 

WAG Panggung Tanggap C-19 didedikasikan untuk mengakomodasi segala keluh kesah warga desa, harapan atau kerisauan. Apapun yang butuhkan, masalah apa yang dihadapi oleh warga. 

WAG berhasil menjadi sarana untuk pengawasan, pelaporan kasus, pelacakan kontak, perawatan orang sakit dan perawatan klinis, serta pengumpulan dukungan masyarakat lokal untuk kebutuhan logistik dan operasional.

Menariknya lagi, Kepala Desa juga merancang program khusus untukmensosialisasikan konten-konten bersifat edukatif melalui WAG Pangggung Tanggap Covid-19 tersebut. Konten edukasi mulai dari tips dan trik selama karantina, pemulihan, bahkan juga edukasi tentang tips bagi orangtua dalam mendampingi anak selama sekolah menggunakan metode pembelajaran jarak jauh (PJJ). 

Konten edukasi  terbukti melahirkan gerakan baru, salah satunya gerakan menanam tanaman pangan di pekarangan. Dalam situasi pandemi, setidaknya bahan pangan pokok berusia pendek seperti cabai, tomat, jagung, cesin, sawi, bawang merah, dan sebagainya semestinya bisa disediakan secara mandiri sehingga bisa menekan pengeluaran sehari-hari.

Meski wabah Covid-19 telah mengguncangkan semua sendi kehidupan dan mengincar manusia, siapa saja, di mana saja, namun melalui soolidaritas dan gotong royong dan memanfaatkan teknologi informasi, semua itu bisa diatasi.

“Kepala Desa Panggungharjo adalah contoh nyata bagaimana kepemimpinan yang kreatif dan inovatif memanfaatkan teknologi informasi sehingga mampu membuat desa kokoh dalam menghadapi wabah Covid-19. Sosok-sosok Kepala Desa seperti inilah yang dibutuhkan, khususnya di Tapanuli Utara,” tandas Erikson Sianipar. 

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Nazaruli