Netral English Netral Mandarin
22:20wib
Ahli patologi klinis Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta Tonang Dwi Ardyanto menduga bahwa varian Omicron sudah masuk Indonesia. Sebanyak 10.000 buruh akan menggelar aksi unjuk rasa di tiga tempat, yakni Istana Kepresidenan, Mahkamah Konstitusi, dan Balai Kota DKI Jakarta, hari ini.
Kepemimpinan dan Budaya Kuat bagi Kawasan Danau Toba di Tahun Emas

Rabu, 24-November-2021 09:05

Pendiri Bisukma Erikson Sianipar bersama Nadia Maharani Sianipar, Atlet Wushu
Foto : Dok. Bisukma
Pendiri Bisukma Erikson Sianipar bersama Nadia Maharani Sianipar, Atlet Wushu
0

 

TARUTUNG, NETRALNEWS.COM –Tahun 2045, Bangsa Indonesia akan memasuki tahun emas (usia 100 tahun). Ini berarti bahwa kita hanya memiliki  24 tahun untuk mempersiapkan lahirnya generasi yang diharapkan mampu memainkan peran dalam mewujudkan Indonesia yang maju dan sejahtera.

Di sisi lain, revolusi industri 4.0 dan globalisasi merupakan sebuah keniscayaan. Segala bidang akan terkoneksi secara efektif dengan masyarakat lain di seluruh dunia. 

Bangsa Indonesia akan menjadi bagian dari the global community di mana budaya antarbangsa akan saling melakukan ekspansi dan tak bisa menghindar dari kecenderungan “siapa kuat akan mengalahkan yang lemah.”

Dengan demikian, selain memiliki pengetahuan dan keterampilan mumpuni, generasi emas harus ditempa untuk memiliki jiwa kepemimpinan unggul dan memiliki budaya kuat sehingga mampu memiliki peran di kancah global. 

Pertanyaannya, apa saja yang perlu kita persiapkan, baik di tingkat nasional maupun di tingkat daerah, khususnya di Kawasan Danau Toba? Pertanyaan tak kalah penting berikutnya adalah pendidikan dan kepemimpinan seperti apa yang perlu ditanamkan bagi generasi saat ini untuk menyambut tahun emas? 

(Membangun budaya literasi di Tapanuli Utara, Dok. Bisukma)

 

Generasi Milenial

Menyitat hasil kajian Pew Research Center, generasi milenial meliputi Generasi Y atau GenY yakni lahir di era komputer, antara 1980 dan 1995. Kemudian, Generasi Z atau GenZ lahir di era internet dan sekitar abad ke-21, antara 1995 dan 2010. Selanjutnya, Generasi Alfa atau Genalfa lahir di era ponsel cerdas, setelah tahun 2010.

(Erikson Sianipar bersama Saroha Tua Lumbantobing, peraih medali emas cabang olah raga tinju di PON XX Papua. Dok.Bisukma)

 

Ada beberapa ciri menonjol dari generasi milenial antara lain: 1) gadget menjadi prioritas utama kebutuhan; 2) eksistensialis yang dicirikan suka selfie dan wefie and share; 3) multitasking; 4) cinta kebebasan; 5) suka yang serba instan; 6) cepat bosan; serta 7) lebih memilih pengalaman daripada aset.

Dengan mencermati kecenderungan tersebut, menurut pendiri Yayasan Bisukma Bangun Bangsa, Erikson Sianipar, jiwa leadership atau kepemimpinan yang berbudaya kuat bagi generasi milenial perlu ditanamkan melalui dunia pendidikan.

“Paradigma kepemimpinan yang berbudaya kuat harus ditumbuhkan dan diarahkan secara produktif di Kawasan Danau Toba. Ini penting sebab kepemimpinan dan budaya yang kuat akan mengakselerasi masyarakat berkarakter kuat, mandiri, dan sejahtera. Maka, program pendidikan di Kawasan Danau Toba juga harus mengarah ke sana,” terang Erikson yang beberapa waktu lalu telah ditetapkan  menjadi Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Tapanuli Utara.

Paradigma Kepemimpinan dan Budaya Kuat

Kecenderungan sifat generasi milenial membawa pada pertanyaan jiwa kepemimpinan seperti apa yang dibutuhkan agar terwujud pembangunan Kawasan Danau Toba secara berkelanjutan?

Menukil kajian Ryan Martin dalam The 5.0 Leader (The art of Managing Millenials), setidaknya ada 6 strategi mengubah mindset kepemimpinan untuk menjawab tantangan dan peluang di era milenial.

Pertama adalah jiwa kepemimpinan yang bukan mengejar keuntungan , tetapi mewujudkan visi. Bila era dahulu perusahaan berorientasi mengejar laba, maka masa kini dan mendatang, arah lembaga atau perusahaan adalah mendahulukan niat mulia dalam membangun dan menyejahterakan masyarakat banyak. 

Seorang pemimpin harus terus mengembangkan diri atau mengupgrade diri bukan hanya untuk menyenangkan konsumen, investor, dan orang-orang terkait bisnisnya semata tetapi harus selalu melahirkan strategi kreatif inovatif yang bermanfaat untuk masyarakat banyak.

(Menumbuhkan budaya literasi bagi generasi milenial, Dok. Bisukma)

 

Kedua adalah mindset bukan memberikan perintah, tetapi melayani dan menginspirasi tim. Analogi sederhana mindset ini bisa dilihat melalui permainan sepakbola. Seorang pemimpin milenial menyadari bahwa dirinya adalah bagian dari tim, ia menjadi mitra bagi timnya, kawan satu tim.

Seorang kapten tim, di saat tertentu bisa saja menjadi penyerang, menjadi pemain tengah, pemain belakang, bahkan bisa saja seorang keepersaat mempertahankan benteng pertahanannya yang terakhir.

Dalam hal ini, seorang pemimpin tidak akan mengandalkan perintah melainkan harus menginspirasi timnya agar termotivasi dan terus bergerak mencapai visi kesebelasannya yakni “gol” sebanyak-banyaknya. 

Ketiga, bukan menjalin hubungan secara vertikal tetapi horizontal. Seorang pemimpin di era milenial mengutamakan jejaring dan membangun hubungan horizontal. Ia akan terbuka dan melibatkan staf, pelanggan, pemasok, mitra, dan publik secara umum dalam kegiatan organisasi. 

Keempat, pemimpin bukan menyusun kekuatan hierarki tetapi membina jaringan. Masih terkait dengan poin ketiga, seorang pemimpin era milenial akan mengarahkan pada sistem jaringan yang memungkinkan orang-orang di dalamnya bebas melintas dan berekspresi tanpa batasan birokrasi. 

Gerak lembaga di masa mendatang harus mampu bergerak secara global, cepat, memungkinkan bekerja di mana saja, maka tidak bisa lagi terkendala hanya karena prosedural birokrasi cara konvensional.

Kelima, pemimpin tidak menilai berdasar senioritas tetapi mengapresiasi berdasar kapabilitas. Setiap orang dihargai bukan berdasar lamanya kerja namun berdasar seberapa besar ia mampu membuktikan memiliki kapabilitas dibandingkan lainnya.

Keenam, jiwa kepemimpinan yang bukan mengerjakan apa, tetapi fokus pada siapa terlebih dahulu. Salah satu alasan organisasi berhasil membuat lompatan padahal baru saja terpuruk adalah karena memiliki tim yang tepat atau mendapatkan orang yang tepat di dalam organisasinya.

Faktor penentu menemukan orang yang tepat adalah tidak hanya memiliki kemampuan saja tetapi juga berbakat. Seorang pemimpin yang tepat harus berbakat. Jika organisasi mampu menemukan pemimpin berbakat maka dipastikan akan tumbuh dan tak akan akan menjadi sia-sia.

“Penting digarisbawahi bahwa jika keenam mindset kepemimpinan tumbuh dan berkembang di Kawasan Danau Toba, maka dipastikan organisasi baik lembaga swasta maupun pemerintahan akan mudah dikelola,” kata Erikson Sianipar. 

(Menumbuhkan jiwa kepemimpinan bagi generasi milenial, Dok.Bisukma)

 

Dalam konteks inilah, penting melakukan evaluasi dan mengeskalasi pengelolaan bidang pendidikan yang menopang lahirnya generasi berjiwa leadership unggul di Kawasan Danau Toba. 

“Pendidikan di Kawasan Danau Toba harus menjawab kebutuhan sehingga mampu mencetak SDM berjiwa pemimpin unggul,” kata Erikson. 

Selain merubah paradigma kepemimpinan, Erikson juga menggarisbawahi akan pentingnya membangun budaya kuat bagi generasi milenial. 

“Generasi milenial di Kawasan Danau Toba juga harus memiliki budaya kuat. Dengan melestarikan dan memajukan sistem sosial, adat, tradisi, pakaian, kuliner, bahasa, sistem religi, serta didukung kekayaan alam yang dimiliki Kawasan Danau Toba akan memberikan ciri khas tersendiri,” terang Erikson Sianipar. 

Sadar akan pentingnya budaya yang kuat, dalam hal ini Erikson Sianipar, melalui berbagai program yang dijalankan Yayasan Bisukma Bangun Bangsa juga selalu gencar mensosialisasikan budaya Betapature

“Kita harus selalu semangat untuk selalu mampu ‘merebut perubahan.’ Tuhan tidak akan memberikan berkah perubahan jika kita tidak berjuang meraihnya. Untuk itulah mari kita bersama meraih perubahan bagi terwujudnya Kawasan Danau Toba yang sejahtera di tahun emas,” papar Erikson.

“Semangat meraih perubahan yang lebih baik adalah implementasi spirit dan budaya Betapature. Mari kita benahi dengan pature diri yakni membenahi diri sendiri, pature keluarga, yakni membenahi keluarga, dan pature huta, yakni membenahi kampung halaman kita,” tandas Erikson Sianipar. 

 

Pendidikan Vokasi di Kawasan Danau Toba

Strategi Pemerintah Indonesia untuk menjawab tantangan zaman adalah dengan melakukan penguatan pendidikan yang relevan dan efektif yakni melalui pendidikan vokasi. Sejalan dengan strategi pemerintah itulah, maka pendidikan vokasi di Kawasan Danau Toba harus digalakkan. 

Pendidikan vokasi adalah pendidikan tinggi untuk menunjang penguasaan keahlian terapan atau keterampilan teknis yang real diperlukan industri. Pendidikan vokasi meliputi empat jenjang antara lain SMK, D1, D2, dan D3 yang kurikulumnya juga memuat entrepreneurship dan pemanfaatan teknologi.

“Di era industri 4.0, peran pendidikan vokasi sangat dibutuhkan untuk mencetak generasi muda yang siap kerja untuk meningkatkan ekonomi kerakyatan di Kawasan Danau Toba. Mereka tidak harus memiliki ijazah pendidikan tinggi namun mesti memiliki skill yang mumpuni, misalnya di bidang pertanian kemenyan, kopi, durian, nenas, perhotelan, paramedik veteriner, manajemen agribisnis, web design, desain grafis, content creator, copy writing, mikrotik, pariwisata, dan lain-lain,” papar Erikson Sianipar.

(Jiwa kepemimpinan dan budaya kuat akan melahirkan generasi unggul, Dok. Bisukma)

 

Pendidikan vokasi di Kawasan Danau Toba harus disesuaikan dengan potensi unggulan di wilayah masing-masing. Di mana ada potensi komoditas unggulan, di situlah kemampuan generasi milenial diasah. 

“Pendidikan vokasi harus disesuaikan dengan potensi masing-masing daerahnya  sehingga pembangunan ekonomi di setiap daerah memanfaatkan teknologi yang lebih baik. Misalnya Kecamatan Siborongborong membuka pendidikan vokasi D2 khusus untuk memajukan kopi arabika. Lalu, di Kecamatan Pangaribuan pendidikan vokasi D2 untuk memajukan kemenyan,” terang Erikson.

“Dengan membangun pendidikan vokasi semacam itu sekaligus akan memberi efek domino mendorong pertumbuhan ekonomi karena skill masyarakat di Tanah Batak sudah dapat mengelola potensi sumber daya yang dimiliki dengan pengetahuan dan teknologi modern,” imbuhnya. 

Tak hanya di tingkat daerah, menurut Erikson, di tingkat global pun saat ini banyak perusahaan yang melakukan rekrutmen pegawai dengan persyaratan uji skill dan penilaian portofolio, tanpa mensyaratkan ijazah. 

Ia pun mengutip pernyataan Head of Government Affairs and Public Policy Google Indonesia, Putri Alam, pada 2019 silam. Perusahaan Google yang bermarkas di Mountain View, AS ini menerima pelamar kerja yang tidak memiliki ijazah universitas. Ada sekitar 14 persen dari tim kerja ternyata tidak punya college degree. 

Contoh kedua adalah Tanmay Bakshi, bocah asal Kanada yang direkrut IBM dan menjadi ahli kecerdasan buatan (AI) saat masih berusia 12 tahun.

Seseorang yang tidak memiliki ijazah bisa saja diterima di perusahaan sebesar IBM dan Google asalkan memiliki kemampuan, baik hard skill maupun soft skill, yang dibutuhkan oleh perusahaan tersebut.

Dibandingkan kesarjanaan,  waktu belajar di dalam pendidikan vokasi juga relatif singkat. Untuk program kursus pendek hanya membutuhkan masa belajar sekitar 6 bulan, untuk program diploma bervariasi mulai 1 tahun hingga 3 tahun, tergantung jenjang diploma yang diambil.

“Dengan waktu belajar yang singkat dan keterampilan tepat guna, generasi muda yang telah memiliki skill bisa segera masuk ke dunia kerja dengan menjadi wirausahawan maupun bekerja dalam perusahaan,” kata Erikson.

(Pendidikan Vokasi menyiapkan generasi  milenial siap kerja, Dok. Bisukma)

 

Dalam pendidikan vokasi, mata kuliah praktikum akan lebih panjang dibanding teori. Perkuliahan praktikum biasanya juga dilakukan di luar institusi dengan melibatkan industri mitra bahkan hingga magang. Dengan sendirinya generasi muda langsung bisa belajar beradaptasi dengan lingkungan kerja sesungguhnya.

“Pendidikan Vokasi dan Perguruan Tinggi di Tapanuli Utara harus menjawab tantangan dan peluang yang dimiliki Tapanuli Utara sehingga tercipta sumber daya manusia (SDM) yang kompeten dan berdaya saing untuk mengembangkan sumber pangan, buah, dan sayuran sepanjang musim,” kata Erikson Sianipar. 

“SMK-SMK Pertanian di Tapanuli Utara, Misalnya SMK Negeri 1 Garoga harus mengembangkan teaching factory yakni pembelajaran berbasis produksi dan jasa yang mengacu pada standar dan prosedur yang berlaku di industri. Pembelajarannya juga dilaksanakan dalam suasana yang sama dengan industri. Untuk itu perlu dilakukan kerjasama dengan mitra industri,” kata Erikson memberikan contoh.

“Seiring dengan pembangunan infrastruktur dan penyempurnaan kurikulum serta program pendidikan vokasi seperti telah diurai sebelumnya, harus pula dibarengi dengan penguatan bagi tenaga pendidik terutama guru dan dosen, baik kuantitas maupun kualitasnya,” pungkas Erikson. 

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto

Berita Terkait

Berita Rekomendasi