Netral English Netral Mandarin
15:38wib
Sebanyak 11 siswa MTs Harapan Baru Cijantung, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, meninggal saat kegiatan pramuka susur sungai di Sungai Cileueur. Presiden Joko Widodo alias Jokowi meminta Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengeluarkan moratorium penerbitan izin usaha baru untuk pinjaman online.
Keras! Mahfud MD Ancam Tommy Soeharto agar Bayar Utang Rp2,6 Triliun, Netizen: Awas Pembunuh Bayaran

Kamis, 26-Agustus-2021 08:48

Tommy Soeharto dan Mahfud MD
Foto : Kolase Netralnews
Tommy Soeharto dan Mahfud MD
25

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Menkopolhukam Mahfud MD mengeluarkan pernyataan keras dalam menindak para penghutang negara, termasuk Tommy Soeharto yang mencapai Rp2,6 Triliun.

Namun, warganet di akun FB Mak Lambe Turah, Kamis 26 Agustus 2021, malah ada yang mengingatkan Mahfud MD agar hati-hati dengan pembunuh bayaran. Rupanya ia mengingatkan kasus pembunuhan Hakim Syaifudin yang 20 tahun silam dibunuh dan menyeret Tommy Soeharto ke meja hijau. 

MLT: “Pak Mahfud mah menteri, bebas ngmong... coba kalo kyk Mak,. salah2 nulis bisa gawat kalo nyasar2 cendono.”

Gita O Andini: “Tom ayo bayar selama ini udh hidup enak harta ga habis2.. 2,6 T itu ga seberapa dibanding duit rakyat yg udh lo rampok..”

Susan: “Mak sih kl salah ngomong,,bisa bisa menghilang di culik,,,jadi hati hati mak.”

Anna Marbun: "Pak Mahfud twtap hati" . Awas pembunuh bayaran."

Untuk diketahui, sebelumnya Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD menegaskan Satgas Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) tidak hanya memanggil Tommy Soeharto untuk menyelesaikan tunggakan utang kepada negara terkait BLBI, melainkan semua obligor dan debitur.

Dalam video yang rilis di youtube Kemenko Polhukam, Jakarta, Rabu (25/8/2021), Mahfud MD yang juga Ketua Pengarah Satuan Tugas Penanganan Hak Tagih (Satgas BLBI) mengatakan bahwa pemanggilan dilakukan kepada 48 obligor dan debitur terkait BLBI dengan total kewajiban mengembalikan utang kepada negara sebesar Rp111 triliun.

Tommy Soeharto sendiri hingga perhitungan terakhir utangnya sebesar Rp2,6 triliun. Di luar Tommy, masih banyak yang utangnya belasan triliun rupiah untuk BLBI, dan semua dipanggil.

"Ini adalah uang rakyat, dan saat ini rakyat sedang susah sehingga tidak boleh utang tidak dibayar," tegas Mahfud.

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi ini mengatakan dirinya sudah bicara dengan para penegak hukum seperti Ketua KPK, Kapolri, dan Jaksa Agung.

"Saya sampaikan, kalau semua mangkir, tidak mengakui padahal ada dokumen utangnya, maka jika tidak bisa diselesaikan secara perdata, maka bisa jadi kasus pidana," ujarnya.

Dia menegaskan bila obligor dan debitur mangkir, maka hal tersebut sudah memenuhi unsur pidana korupsi, yaitu memperkaya diri sendiri atau orang lain atau korporasi, merugikan keuangan negara, dan dilakukan dengan melanggar hukum.

"Tidak kooperatif dan mangkir dimaknai sebagai melanggar hukum," tegas Mahfud.

Oleh sebab itu, Mahfud meminta para obligor dan debitur yang dipanggil agar kooperatif sebab pemerintah akan tegas soal ini karena hanya diberi waktu tidak lama oleh Presiden, yakni hingga Desember 2023.

"Saya berharap semua bisa selesai sebelum tenggat waktu tersebut," ujar Mahfud dinukil Suara.com.

Kasus Pembunuhan Hakim Syaifudin

Dinukil Tempo.co, pada 26 Juli 2021 lalu, tepat 20 tahun yang lalu, adalah hari yang nahas bagi Hakim Agung Syafiuddin Kartasasmita. Dalam perjalanan kerjanya ke Mahkamah Agung (MA), ia tidak sadar jika mobilnya diikuti oleh dua pria tak dikenal yang berboncengan menaiki motor. Saat melintasi Jalan Pintu Air Serdang, Kemayoran, pria yang dibonceng tiba-tiba saja meluncurkan beberapa tembakan ke arahnya.

Peluru yang terlepas berhasil menembus lengan, dada, dan rahang kanan Syafiuddin. Meskipun masih bernapas di lokasi kejadian, ia dinyatakan wafat setelah dilarikan ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Sementara itu, dua pelaku pembunuhannya berhasil melarikan diri setelah mengancam para saksi.

Syafiuddin adalah hakim yang terkenal akan kredibilitasnya. Ia banyak menangani perkara besar yang menyangkut nama-nama penting dan berkuasa. Sebelum pembunuhannya terjadi, ia disibukkan dengan kasus tukar guling PT Goro Batari Sakti (GBS) dengan Badan Urusan Logistik (Bulog) yang menyeret nama anak presiden kedua, Tommy Soeharto.

Melansir dari pemberitaan Tempo, Kamis, 14 Agustus 2003, kasus tukar guling PT GBS dan Bulog berpangkal sejak Soeharto masih berkuasa pada 1994. Kasus ini membawa kerugian bagi negara hingga Rp 95,6 miliar.

Pada April 1999, Pengadilan Negeri Jakarta Selatan membebaskan Tommy Soeharto dari segala dakwaan. Setelah jaksa mengajukan banding di tingkat kasasi MA, Hakim Agung Syafiuddin akhirnya memvonis Tommy bersalah dengan hukuman kurungan 18 bulan penjara, ganti rugi Rp 30 miliar, dan denda Rp 10 juta pada 22 September 2000. Tommy sempat menemui presiden Abdurahman Wahid untuk mengajukan permohonan grasi namun ditolak. Ia lalu melarikan diri.

Peristiwa pembunuhan Syafiuddin terjadi di waktu yang sama pada saat Polda Metro Jaya sedang memburu Tommy melalui tim khusus. Hal ini memunculkan dugaan yang kuat bahwa Tommy merupakan otak dari pembunuhan itu. Pada 6 Agustus 2001, dugaan tersebut terbukti setelah penyidik menemukan senjata api, bahan peledak, dan dinamit dari rumah yang disewa Tommy di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan.

Pada 7 Agustus 2001, polisi berhasil menangkap dua pria penembak Syafiuddin. Mereka adalah Mulawarman dan Noval Hadad. Keduanya mengaku membunuh atas perintah Tommy dengan bayaran senilai 100 juta rupiah. Tommy yang akhirnya tertangkap pada akhir November kemudian dijatuhi hukuman 15 tahun penjara.

Di dalam tahanan, Tommy masih bisa menikmati berbagai kemewahan. Ada helikopter yang siap menerbangkannya dari Nusakambangan ke Jakarta apabila ia sakit, sebagaimana dikutip dari Koran Tempo edisi 31 Oktober 2006. Baru sepertiga masa tahanannya, Tommy dinyatakan bebas bersyarat berkat pengurangan masa hukuman oleh MA dan beragam remisi yang diterimanya.

Istri Syafiuddin, Soimah, mengaku sakit hati saat mendengar kabar pembebasan Tommy. Menurutnya, pembebasan itu penuh dengan rekayasa. “Mereka semua yang atur itu supaya Tommy cepat bebas. Kalau tak direkayasa, pasti dia masih di dalam (penjara),”ujar Soimah.

Kini, 20 tahun semenjak kematian Syafiuddin, Tommy Soeharto masih eksis berkarir sebagai pengusaha papan atas. Dirinya bahkan aktif dalam dunia politik dan sempat berpartisipasi dalam pemilu 2019 silam melalui Partai Berkarya.

Dalam wawancaranya dengan presenter Najwa Shihab, Tommy mengatakan jika selama persidangan tidak ada saksi yang memberatkannya. “Yang menyatakan bahwa saya pelakunya atau dalangnya. Tak ada satu pun," ucap dia 2019 lalu.

Ia pun merasa embel-embel mantan narapidana tidak memberatkannya untuk aktif di dunia politik dan memimpin partai. "Tidak, karena memang sudah dijalankan. Secara hukum juga sudah bebas murni dan MK sudah memutuskan bebas murni. Kalau ada masyarakat yang mengaitkan seperti itu ya boleh-boleh saja. Itu hak mereka," kata Tommy saat ditanya soal kasus pembunuhan Hakim Agung Syafiuddin Kartasasmita.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Nazaruli