Netral English Netral Mandarin
20:58wib
Relawan Sahabat Ganjar kembali melakukan deklarasi mendukung Ganjar Pranowo untuk maju sebagai calon presiden 2024. Penembakan seorang ustad bernama Armand alias Alex di depan rumahnya Jalan Nean Saba, Kelurahan Kunciran, Kecamatan Pinang, Tangerang hingga kini masih menjadi misteri.
Keterlaluan! Vaksin Hibah Mau Dijual, Komisi IX Kritik PT Kimia Farma

Rabu, 14-Juli-2021 12:05

Vaksinasi Covid-19
Foto : Istimewa
Vaksinasi Covid-19
9

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Nihayatul Wafiroh angkat bicara terkait vaksinasi berbayar yang dilakukan PT Kimia Farma (Persero) Tbk. Ia pun mengecam langkah PT Kimia Farma.

Diketahui, PT Kimia Farma yang akan melaksanakan vaksinasi gotong royong berbayar mulai Senin (11/7/2021) kemarin, dimana vaksin berbayar merupakan vaksin hibah (sumbangan) dari Pemerintah Uni Emirat Arab.

Dikatakan Nihayatul, penjualan vaksin bertentangan dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 19 Tahun 2021 tentang Perubahan Kedua atas Permenkes Nomor 10 Tahun 2021 yang terkait Pelaksanaan Vaksinasi Dalam Rangka Penanggulangan Pandemi COVID-19.

Disebutkannya lebih lanjut bahwa khususnya di Pasal 7A ayat 4 yang mengatakan bahwa vaksin COVID-19 yang digunakan untuk pelaksanaan vaksinasi program yang diperoleh hibah, sumbangan atau pemberian baik dari masyarakat maupun negara lain, jelas dilarang diperjualbelikan.

Bahkan patut dan perlu diketahui, salah satu vaksin Gotong Royong Individu yang mau dijual itu adalah vaksin Sinopharm. Padahal Indonesia menerima hibah 500.000 dosis vaksin Sinopharm dari Pemerintah Uni Emirat Arab.

"Makanya, ini kan jelas-jelas kontra dengan Permenkes 19/2021 Pasal 7A ayat 4. Jadi sangat bertentangan dengan Permenkes 19/2021," kata Nihayatul, Selasa (13/7/2021).

Seandainya pemerintah mengatakan bahwa vaksin yang dijual bukan yang hibah, hal itu pun belum tentu benar. Kenapa? Karena, tidak ada jaminan apabila vaksin tersebut memang benar-benar bukan hibah.

"Masalahnya, kalaupun pemerintah bilang yang akan dijual bukan yang hibah, tolong jelaskan secara detail. Bagaimana untuk membedakan vaksin yang hibah dan vaksin yang bukan?" ucap Nihayatul, penuh tanda tanya.

Sangat dikhawatirkan, lanjut dia, program tersebut dimanfaatkan untuk mengeruk keuntungan secara pribadi. Sama seperti yang pernah terjadi yang dilakukan oleh oknum Kimia Farma di Medan yang menggunakan alat rapid test bekas dalam memeriksa pasien untuk mendapatkan untung.

"Sepertinya, program vaksinasi berbayar, ya demi kepentingan pribadi. Lantas, bagaimana jika ternyata ada yang menjual Sinopharm ke pihak lain untuk dijual," tutupnya.

Reporter : Wahyu Praditya P
Editor : Sulha Handayani