Netral English Netral Mandarin
14:53wib
Barcelona yang tumbang di tangan Bayern Munich sehingga dipastikan tersingkir dari ajang Liga Champions 2021-2022. Hasil analisis dan investigasi penyidik Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya terhadap beberapa kecelakaan bus Transjakarta menunjukkan sebagian besar disebabkan oleh faktor kesalahan manusia.
Ketika 900.000 Orang Meninggal di Makassar dalam 4 Bulan

Jumat, 16-Juli-2021 14:20

Ilustrasi: Flu Spanyol tahun 1918
Foto : Liputan6/National Archives
Ilustrasi: Flu Spanyol tahun 1918
66

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Wabah corona bukanlah satu-satunya jenis pandemi yang menjungkirbalikkan keangkuhan manusia. Meski akhirnya manusia bangkit kembali, sejumlah wabah yang pernah terjadi di dunia telah memakan korban yang sangat banyak dan tak terhitung jumlahnya.

Untuk di wilayah Nusantara, menurut Sejarawan JJ Rizal saat berdiskusi dengan reporter Republika.com Rahayu Marini Hakim, mengungkapkan bahwa sejumlah wilayah Nusantara juga sudah beberapa kali dilanda wabah penyakit.

Tentu saja, wilayah pertama yang paling banyak menyimpan catatan adalah kota Batavia yang kini menjadi DKI Jakarta. Kota yang dibangun JP Coen itu sempat terkena wabah malaria dan kolera.

Dilansir dari buku saku penatalaksanaan kasus malaria, terbitan 2017, malaria adalah parasit Plasmodium yang ditularkan melalui gigitan nyamuk anopheles betina.

Malaria dikenal lima macam jenis, yakni Plasmodium falciparum, Plasmodium vivax, Plasmodium ovale, Plasmodium malariae dan Plasmodium knowlesi. Parasit yang terakhir disebutkan ini belum banyak dilaporkan di Indonesia.

Bahaya malaria sendiri jika tidak ditangani segera dapat menjadi malaria berat yang menyebabkan kematian. Malaria dapat menyebabkan anemia yang mengakibatkan penurunan kualitas sumber daya manusia dan pada wanita hamil jika tidak diobati dapat menyebabkan keguguran, lahir kurang bulan (prematur) dan berat badan lahir rendah (BBLR) serta lahir mati.

Sementara kolera adalah penyakit diare akut, yang disebabkan oleh infeksi usus akibat terkena bakteria vibrio cholerae. Infeksi biasanya ringan atau tanpa gejala, tapi terkadang parah.

Kurang lebih 1 dari setiap 20 penderita mengalami sakit yang berat dengan gejala diare yang sangat encer, muntah-muntah, dan kram di kaki. Bagi mereka ini, kehilangan cairan tubuh secara cepat ini dapat mengakibatkan dehidrasi dan shock atau reaksi fisiologik hebat terhadap trauma tubuh. Kalau tidak diatasi, kematian dapat terjadi dalam beberapa jam.

Flu Spanyol di Makassar

JJ Rizal menceritakan, awal mula wabah menyerang Batavia terjadi pada awal abad 20 sekitar tahun 1918, bersamaan dengan masa Perang Dunia II. Wabah paling ganas menyerang sejumlah negara di dunia, terutama Eropa, bernama Flu Spanyol.

Dilansir dari buku Yang Terlupakan: Pandemi Influenza 1918 Hindia Belanda, terbitan 2009, pada 1918, sebuah wabah raya (pandemi) influenza merebak di seluruh penjuru dunia, dimulai dari Benua Eropa, lalu menyebar ke Amerika, Asia, Afrika, dan Australia.

Dunia dilanda sebuah wabah penyakit yang merenggut lebih banyak nyawa dalam waktu yang cepat dibandingkan sejarah wabah penyakit apa pun.

JJ Rizal menerangkan, Flu Spanyol merupakan wabah yang paling hebat. Bahkan ia menyebut sebagai wabah besar di Makassar.

“Flu Spanyol sampai 900 ribu (yang meninggal) hanya dalam waktu sekitar empat bulan. Ini paling hebat. Sisanya yang dari masa-masa sebelumnya tidak banyak catatan. Tetapi, di beberapa tempat, seperti Makassar digunakan kata wabah besar,” kata pria pendiri penerbitan komunitas bambu ini.

Pada masa pemerintahan Hindia Belanda di Batavia, pemerintah saat itu sempat meremehkan sejumlah wabah yang sedang melanda Batavia.

“Sewaktu masa kolonial. Misalnya malaria di Batavia tidak banyak yang dilakukan selain ramai-ramai bertaubat, berdoa beberapa lagi pilih mengungsi, sementara pemerintah lambat bertindak. Kelambanan pemerintah tak hilang setelah berabad lamanya ketika Hindia Belanda diserang Flu Spanyol. Dokter rumah sakit juga bingung. Padahal awalnya mereka terkesan menyepelekan seirama dengan pemerintah kolonial,” ujar pria yang lahir pada 12 Februari 1972 ini.

Wabah pes

Bergeser ke timur Nusantara. JJ Rizal merawikan wabah demam pernah menyerang Pulau Banda, Maluku pada abad 16. Selain itu Pulau Banda juga diserang Wabah Sampar atau pes (plague). Wabah yang ternyata juga ditemui di Sumatra Jawa, Bali dan Makassar adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Yersinia pestis.

Dilansir dari Skripsi Syefri Luwis, Pemberantasan Penyakit Pes di Malang 1911-1916” (Jakarta: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2008), hlm. 40, Penyakit pes menyerang pada daerah yang udaranya sejuk.

Hal ini disebabkan karena penyakit pes bersumber pada pinjal (kutu). Pinjal lebih aktif bergerak dan lebih tahan hidup di daerah yang berhawa sejuk sekitar 17–23 derajat celcius. Selain itu Pinjal hidup dan berkembangbiak pada tubuh tikus.

Wabah lainnya adalah penyakit dada. Pada abad 16, wilayah Makassar dan Kerajaan Mataram di Pulau Jawa diserang wabah penyakit dada. "Puluhan ribu jiwa meninggal dunia," kata JJ Rizal.

Berangkat dari rentetan sejarah Nusantara pernah dilanda wabah, JJ Rizal berpesan agar pemerintah Indonesia yang sedang menangani virus covid-19 mempercayai data ilmiah dan ahli kesehatan.

“Hari-hari mendatang, kita masing-masing harus memilih mempercayai data ilmiah dan ahli kesehatan, ketimbang teori konspirasi yang tidak berdasar dan politisi yang mementingkan diri sendiri," tutur dia.

Pemerintah Kolonial Dipindah

Sementara itu, menurut catatan Achmad Sunjayadi, sejarawan Universitas Indonesia, seperti dikutip Nur Janti di Historia.com, ketika wabah malaria dan kolera melanda Batavia pada abad ke-19, Pusat Pemerintahan Kolonial Belanda nyaris akan dipindahkan ke Surabaya.

Achamd Sunjayadi mengatakan ada dua faktor yang membuat Daendels ingin memindahkan pusat pemerintahan dari Batavia ke Surabaya. Pertama, alasan kesehatan karena di Batavia banyak sumber penyakit. Kedua, alasan pertahanan, di Surabaya terdapat benteng dan pelabuhan.

“Batavia sempat dijuluki sebagai Koningin van den Oost (Ratu dari Timur), namun kemudian terkenal sebagai kuburan orang Belanda karena banyaknya penyakit malaria dan kolera,” kata Sunjayadi. Kematian Gubernur Jenderal Hindia Belanda Jan Pieterszoon Coen karena penyakit kolera membuktikan betapa buruknya kawasan Batavia.

Menurut Bernard HM Vlekke, Daendels tahu bahwa Batavia tidak akan pernah bisa dipakai sebagai pusat utama pertahanan pulau Jawa. Istana tuanya dengan tembok-tembok yang rapuh dapat dihancurkan dari laut.

Iklimnya bisa membunuh serdadu garnisun bahkan sebelum musuh menyentuh pantai. “Instruksi kepada Daendels memberinya hak untuk memindahkan ibukota ke daerah yang lebih sehat,” tulis Vlekke dalam Nusantara: Sejarah Indonesia.

Pendahulunya, lanjut Vlekke, Gubernur Jenderal Van Overstraten telah mengembangkan rencana untuk memindahkan kedudukan pemerintah ke pedalaman Jawa Tengah, tempat kekuatan gabungan Belanda dan raja-raja Jawa dapat melawan kekuatan yang lebih besar untuk waktu yang lama.

“Daendels sendiri berpikir-pikir akan memindahkan ibukota ke Surabaya, yang dia reorganisasi sebagai basis yang lebih baik untuk operasi militer daripada Batavia,” tulis Vlekke.

Purnawan Basundoro, sejarawan Universitas Airlangga Surabaya, mengatakan sebenarnya Surabaya juga kota di tepi pantai, tapi di beberapa tempat lebih tinggi kawasannya dari Batavia dan mungkin diangggap lebih sehat.

Selain itu, alasan Daendels memindahkan ibukota ke Surabaya karena mendapat ancaman dari Inggris. Untuk itu, dia menjadikan Surabaya sebagai pusat pertahanan dengan membangun pabrik senjata (artillerie constructie winkel), Rumah Sakit Militer, dan Benteng Lodewijk.

Benteng Lodewijk merupakan benteng pertahanan militer yang berada di Pulau Mengare di sebelah utara Gresik. Nama benteng ini diambil dari Raja Belanda Lodewijk (Louis) Napoleon, saudara Kaisar Napoleon Bonaparte.

Sedangkan artillerie constructie winkel merupakan pabrik senjata pertama di Indonesia. “Sebelumnya memang sudah ada pabrik senjata, namun kemudian dikembangkan oleh Daendels antara 1809-1810. Sejak dikembangkan itulah pabrik menjadi semakin besar,” jelas Purnawan.

Menurut Purnawan, Rumah Sakit Militer yang dibangun Daendels merupakan rumah sakit terbesar dan dikenal juga sebagai Rumah Sakit Simpang. Letaknya agak jauh ke timur dari rumah dinas gubernur Jawa Timur. Sayangnya, Rumah Sakit Militer itu dirobohkan pada 1970-an dan berganti menjadi Mall Delta Plaza.

Selain membangun infrastruktur militer, Daendels juga memperluas rumah dinas Gubernur Pantai Timur Laut Jawa. Menurutnya rumah dinas tersebut terlalu kecil untuk ditempati seorang penguasa.

“Nampaknya dengan memperluas rumah dinas ini, ada indikasi bahwa Daendels ingin menjadikan Surabaya sebagai ibukota karena menurut dia seorang penguasa harus ditempatkan di istana,” jelas Purnawan.

Menurut Purnawan Daendels gagal memindahkan ibukota ke Surabaya karena membutuhkan dana besar sedangkan Prancis dan Belanda lebih mengutamakan dananya untuk perang melawan Inggris.

Sementara itu, Vlekke mencatat bahwa Daendels batal memindahkan ibukota ke Surabaya karena berbagai kesulitan memindahkan seluruh permukiman Batavia dengan gudang-gudang dan kapal-kapal barang berharga.

Dia pun memutuskan untuk memindahkan bagian perumahan kota itu ke daerah yang lebih tinggi, Weltevreden.

Sebelumnya, pada 1800 Gubernur Jenderal Van Overstraten telah memindahkan kantor-kantornya ke Weltevreden.

“Maka ibukota pun berganti, dari kota pelabuhan menjadi kota garnisun. Tindakan ini dilakukan sepenuhnya semasa Daendels pada 1809,” tulis Leonard Blusse dalam Persekutuan Aneh: Pemukim Cina, Wanita Peranakan, dan Belanda di Batavia VOC.

Daendels kemudian memperluas kawasan Weltevreden (sekarang Lapangan Banteng, Jakarta) dan membangun gedung-gedung perkantoran. “Seperti yang sekarang ditempati Departemen Keuangan, itu gendung yang dibangun oleh Daendels,” kata Purnawan.

Ketika Daendels ditarik ke Prancis pada 30 Juni 1811, penggantinya, Jan Willem Janssens sudah hadir di Batavia sejak 16 Mei 1811.

“Pembatalan pindahnya ibukota karena kondisi Prancis tidak stabil dan berpengaruh pada kondisi di Batavia. Sehingga, saya kira Janssens tidak tertarik dengan ide untuk memindahkan kekuasaan ke Surabaya,” pungkas Purnawan.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Sesmawati

Berita Terkait

Berita Rekomendasi