Netral English Netral Mandarin
10:24wib
Hasil survei Indonesia Political Opinion (IPO) menunjukkan bahwa lebih dari 90 persen masyarakat setuju sekolah dan rumah ibadah dibuka kembali meski masih di tengah kondisi pandemi corona. Data pengguna Facebook yang mencapai 533 juta, baru-baru ini dikabarkan telah dicuri hacker. Facebook menyatakan, tak akan memberi tahu data siapa saja yang telah dicuri.
Ketika Kota Depok Dianggap Dikuasai Orang Kristen dan Belanda

Kamis, 25-Februari-2021 20:23

Ilustrasi warga Depok tempo dulu yang sering disebut sebagai Belanda Depok
Foto : Intisari.id/Yoyok Prima Maulana
Ilustrasi warga Depok tempo dulu yang sering disebut sebagai Belanda Depok
41

DEPOK, NETRALNEWS.COM - Kota Depok, Jawa Barat, bukan daerah asing di masta masyarakat di Jakarta dan sekitarnya. Wilayah dengan luas 220,29 kilometer persegi ini ternyata menyimpan cerita unik tentang kehidupan penganut Kristiani (Kristen) yang pernah mewarnai mayoritas wilayah kota Depok.

Tulisan ini bukan bermaksud rasis dan mendiskreditkan Kristen dan non-Kristen namun hanya ingin memaparkan masa lalu tentang sepenggal kehidupan masyarakat di Indonesia sebagai bukti tentang keberagaman dengan segala implikasinya. 

Dibeli Cornelis Chastelein

Sebelum dibeli dan tersentuh tangan-tangan seorang mantan saudagar Belanda yang bernaung di bawah VOC, Cornelis Chastelein, bisa dikatakan Depok masih berupa hutan belantara.

Adapun pembelian lahan tersebut terjadi pada tahun pada tanggal 15 Oktober 1695.  Mulanya, Chastelein  membeli lahan di Lenteng Agung dan membangun sebuah vila di Srengseng Sawah.

Chastelein juga mendapat hadiah berupa tanah di Mampang, wilayah di dekat Depok, dari pemerintah Batavia pada 15 Februari 1696.

Menukil catatan Krisantus de Rosari Binsasi dalam Minews.id, disebutkan bahwa Chastelein  juga memperluas lahannya lagi dengan membeli tanah Depok pada 18 Mei 1696 dari seorang Residen di Cirebon yang bernama Lucas van der Meur dengan harga 700 ringgit. 

Status tanah itu adalah tanah partikelir atau terlepas dari kekuasaan Hindia Belanda. Luasnya sekitar 1.244 ha dan dibatasi oleh Pondok Cina di utara, Ciliwung di timur, Cimanggis di selatan, dan Mampang di bagian barat.

Sementara Tanah Karang Anyar yang kemudian disebut Cinere, didapatkan dari pemerintah Batavia pada 1711. 

Selain itu, tanah kecil di sebelah timur Kali Ciliwung dibeli pada 5 September 1712 dari Tio Tiong Ko dan lahan di sebelahnya dibeli pada 5 Agustus 1713 dari Kapiten Bali Oessien. Pada akhirnya, lima persil tanah itu disatukan menjadi Depok.

Untuk menggarap tanahnya diperlukan tenaga kerja, maka Chastelein Pada 1693-1697, mengirimkan kapal ke bagian timur Nusantara untuk mengambil para budak. 

Tercatat jumlahnya 150 orang, sebagian besar berasal dari, Makassar, Bali, Timor, Minahasa dan daerah lain di wilayah timur Indonesia.

Dalam catatan Dr Lilie Suratminto, pengajar bahasa Belanda dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Chastelein tidak menggunakan budak dari Jawa karena kala itu ada perjanjian VOC dengan Kerajaan Mataram yang melarang orang-orang dari Pulau Jawa dijadikan budak.

Dalam perjalanannya, Chastelein memiliki hak untuk menguasai penduduk pribumi yang hidup di atas tanah tersebut. Chastelein memungut cukai setiap kali panen padi, besarnya seperlima dari hasil panen yang diperoleh.

Uniknya menurut Yano Jonathans, dalam Depok Tempo Doeloe (2011), Chastelein berbeda dari orang-orang VOC sezamannya karena ketaatannya terhadap ajaran Protestan.

Langkah-langkah Chastelein banyak bertumpu pada prinsip cinta kasih kepada sesama. Ia sendiri punya semboyan Er is geen leven zonder liefde atau “tiada kehidupan tanpa kasih sayang”.

Ia diketahui sangat memperhatikan kesejahteraan budak-budaknya tersebut. Chastelein pun mulai memikirkan nasib para pekerja dan seluruh asetnya jika dia meninggal. Supaya mereka tetap terjamin hidupnya. Sebelum wafat, Cornelis Chastelein menulis surat wasiat.

Testament direvisi hingga lima kali yaitu tanggal 4 Juli 1696, 11 Mei 1701, 17 Juli 1708, 21 Maret 1711 dan akhirnya yang terakhir selesai pada tanggal 13 Maret 1714 disahkan oleh notaris Nicolas Van Haeften di Batavia pada tanggal itu juga.

Ketika beliau meninggal dunia pada 28 Juni 1714, surat wasiatnya lalu dibuka. Dalam testament atau maklumat tertulisnya, Cornelis memerdekakan seluruh budak beliannya yang berjumlah kurang-lebih 150 orang itu, dengan syarat mereka harus menjadi Kristen. 

Mereka kemudian disebut mardijkers yang berarti orang yang dimerdekakan. Budak-budak yang dibebaskan itu antara lain bernama Jan van Badinlias, Batoe Pahan, Samawarin van Bali, Hazin van Bali, Wiera van Makassar dan Florian van Bengalen, selain itu terdapat pula Raima dan istrinya, Mamma; Lukas dan istrinya, Klara; Sangkat Maligat, Malantas, Hagar dan Soman.

Salah seorang di antara mereka ditugaskan untuk memberi pelajaran agama kepada anak-anak dan memimpin ibadat sederhana. Pemimpin pertama ialah Baprima Lucas van Bali yang diangkat oleh Chastelein sendiri.

Kemudian mereka pun menggunakan 12 nama marga yaitu : Jonathan, Soedira, Laurens, Bacas, Loen, Isakh, Samuel, Leander, Joseph, Tholense, Jacob dan Zadokh. 

Ke 12 marga tersebut sebelumnya sama sekali tidak tercantum di surat wasiat Cornelis Chastelein dan baru muncul setelah wafatnya beliau. Nama-nama tersebut tercatat dalam administrasi pernikahan dan baptisan gereja.

Kehidupan Orang Kristiani di Depok

Dalam kajian Wisnu Rega Aditiya berjudul Revolusi Sosial di Kota Depok Tahun 1945-1955, dikisahkan, untuk memperlancar misi Kristenisasi, Chastelein mendirikan sebuah gereja yang terbuat dari kayu. 

Gereja tersebut didirikan pada tahun 1700. Menjelang abad ke 19 gereja itu diperbarui dengan batu. 

Tetapi gereja itu hancur pada tahun 1836 ketika gempa kuat melanda Depok. Gereja tersebut kemudian dibangun kembali dan tetap berdiri kokoh di jln. Pemuda sampai sekarang.

Di masa kekuasaan Chastelein merajai Depok, ia menginginkan masyarakat di wilayah kekuasaannya menganut dan menghidupi ajaran Kristiani. 

Apa yang dilakukannya tak mendapat halangan berarti karena di masa itu Kolonial Belanda juga memang memberikan dukungan dengan mengirimkan para penginjil dari Eropa di bawah organisasi Nederlandsch Zendeling Genootschap (NZG).

Untuk mendukung hal itu, pada 1878 NZG mendirikan seminari pertama di Indonesia. Seminari adalah sekolah khsusus bagi para imam Kristiani sehingga bisa menyebarkan ajarannya secara lebih meluas.  

Jejak kehidupan dan budaya Kristiani di wilayah ini masih bisa dirasakan melalui tradisi yang masih dijaga hingga kini oleh orang-orang Depok lama. 

Mereka memiliki beberapa perayaan penting seperti sinterklas yang sering diadakan setiap tanggal 5 Desember di Europeesche Lagere School dan di ikuti hari raya Natal pada tanggal 25 Desember. 

Masyarakat Depok Lama juga  turut  merayakan  perayaan  Paskah  dengan  menyalakan  obor  sebagai pengganti jalan salib dengan rute YLCC-Jalan Pemuda-Jalan Kartini-Jalan Siliwangi-YLCC. 

Perayaan penting lainya yaitu Cornelis Chastelein Dag untuk memperingati wafatnya sang pendiri Depok yang diadakan setiap tanggal 28 Juni dengan menggelar acara panjat pinang, gamelan, keroncong dan juga orkes. 

Sampai   saat   ini   perayaan-perayaan    bernuansa   kegaaman   masih    tetap dilaksanakan. 

Masa Revolusi menjadi korban

Orang-orang yang dahulu menjadi budak Cahstelein kemudian sering disebut sebagai “Belanda Depok”. Saat ini, mereka menyatakan diri dan mengaku merupakan bagian dari bangsa Indonesia dan pro NKRI. 

Artinya mereka menjadi warga sah di bawah payung Pancasila dan UUD 1945. 

Meski demikian, di masa revolusi kemerdekaan hingga sekitar tahun 1955, mereka menjadi sasaran amok massa yang menyatakan diri pro Republik Indonesia namun anti semua yang berbau Belanda. 

Dalam konteks inilah masyarakat Depok, keturunan para budak Chastelein sempat mengalami perilaku yang tidak mengenakkan. 

Menurut Wenri Wanhar dalam bukunya Gedoran Depok: Revolusi Sosial di Tepi Jakarta 1945-1955 seperti dinukil voi.id,  pada 7 Oktober 1945, kerusuhan terjadi di Depok. Penduduk setempat memboikot orang Eropa termasuk yang dinilai menjadi kaki tangan Belanda. Tak terkecuali mereka para Belanda Depok. 

Mereka menghalangi orang Eropa membeli kebutuhan sehari-hari. Para laskar kemerdekaan itu ingin melumpuhkan aktivitas perekonomian orang-orang Belanda dan kaki tangannya.

Laskar-laskar pemuda pun terbentuk. Pembelotan anggota PETA di Depok melahirkan Angkatan Muda Republik Indonesia (AMRI) dibawah kepemimpinan Margonda, Laskar 21 dibawah pimpinan Tole Iskandar dan Pertahanan Daerah dibawah pimpinan Nisin Manyir serta masih banyak tokoh lainnya yang beberapa dijadikan nama jalan di Depok saat ini. 

Pemberontakan semakin marak. Pada 8 Oktober 1945, segerombolan orang bersenjata bambu runcing merampok lima keluarga yang dianggap kaki tangan Belanda. Mereka menjarah semua barang kekayaannya. 

Selain itu, gudang-gudang koperasi tempat penyimpanan pangan dijarah sekelompok gelandangan. Lalu pada 11 Oktober, sekitar 4000 orang datang ke Depok. Rombongan itu merampok dan mengobrak-abrik rumah-rumah dan mengusir penghuninya terutama penduduk Kristen Eropa. 

Menyisakan trauma

Salah satu saksi hidup Opa Yoti mengatakan "kejadiannya ada sedikit kemiripan dengan peristiwa kerusuhan 1998. Di mana banyak toko-toko bertuliskan 'milik pribumi'". Waktu Gedoran Depok meletus beberapa orang Depok ada yang mengamankan diri di rumah jongosnya atau berlindung di rumah-rumah orang kampung di luar Depok. 

Melihat kerusuhan itu, Polisi pemerintah RI pun bergeming. Mereka hanya bisa menonton kekerasan itu terjadi. 

Dampak dari peristiwa Gedoran Depok bahkan dirasakan sampai beberapa tahun kemudian. Bahkan hampir semua yang mengalami langsung kejadian tersebut merasa trauma. 

Korban lain yang merasakan pengalaman traumatis itu adalah Dolf Jonathans. Ia melihat dengan mata kepala sendiri ketika ratusan pemuda bersenjata memasuki Kerkstraat yang sekarang bernama Jalan Pemuda, Depok.  

Kediaman Dolf hanya berjarak sekitar 100 meter dari pertigaan Kerkstraat. "Kami lihat orang-orang bersenjata mulai memasuki pekarangan dan menggedor pintu rumah dengan penuh amarah," kata Dolf dikutip Detik.

Melihat kejadian itu mereka kabur lewat pintu belakang. Mereka bersembunyi di dalam hutan. Setelah situasi mulai sepi baru mereka kembali ke rumah. "Semua barang habis diangkut, yang masih utuh cuma sup kacang merah di atas meja," kata Dolf. 

Mereka yang mencoba melawan orang-orang bersenjata kala itu bakal dipenggal atau dibawa ke Penjara Paledang di Bogor untuk laki-laki. Sedangkan perempuan dan anak-anak di bawah usia 13 tahun ditempatkan di Gedung Gemeente Bestuur.

Dolf mengaku akhirnya ia dipenjara di Paledang selama 10 hari. Sementara mereka yang ditahan di Gemeente Bestuur baru bebas setelah tentara Inggris datang. 

Menurut Pengurus Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein (YLCC) Ferdy Jonatahans, peristiwa Oktober 1945 tersebut menimbulkan trauma mendalam bagi warga komunitas 12 marga. Oleh sebab itu hampir seluruh anggota komunitas yang mengalami kejadian tersebut enggan bercerita.

Namun baginya, peristiwa tersebut harus diluruskan. Karena selama ini kisah dari anggota komunitas cenderung terpinggirkan. "Kami ini bukan pengkhianat. Kami korban saat itu," pungkasnya seperti dinukil voi.id.

(Dirangkum dari berbagai sumber).

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto