Netral English Netral Mandarin
06:00wib
Menteri Koordinator bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan memprediksi, puncak gelombang Covid-19 varian Omicron akan terjadi pada pertengahan Februari hingga awal Maret 202. Pemerintah mengakui kasus Covid-19 di Indonesia terus mengalami lonjakan akibat transmisi lokal varian Omicron dalam sepekan terakhir.
Ketika Skandal Mesum Menampar Penguasa Batavia

Jumat, 07-January-2022 14:06

Patung Pieterszoon Coen di Lapangan Banteng
Foto : Wikipedia Commons
Patung Pieterszoon Coen di Lapangan Banteng
0

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Praktik permesuman mulai dari perkawinan ilegal (pergundikan) hingga prostitusi bukan barang baru. Sejak awal Kota Jakarta dibangun yakni pada masa VOC, persoalan ini sudah menjadi duri dalam daging.

Padahal, salah satu pendiri Kota Jakarta yang dahulu  bernama Batavia, tersohor sebagai sosok penentang praktik permesuman dan penyeru perbaikan akhlak menuju kehidupan penuh peradaban. Dialah Jan Pieterzoon Coen, Sang  founding father kelahiran Kota Hoorn pada 1587.

Begitu menjadi penguasa tertinggi yakni Gubernur Jenderal Batavia pada 11 Desember 1620, Pieterzoon Coen yang berjuluk Mayor Singa ini sudah mengeluarkan peraturan tegas melarang praktik permesuman karena sudah muak dengan kebiadaban yang sebelumnya sudah pernah ia lihat.

Larangan tak hanya sekali. Pada 20 Juli 1622, “kehidupan penuh skandal mesum” kembali dilarang. Hukuman bagi mereka yang melanggar pun tak tanggung-tanggung mulai dari kurungan hingga hukuman mati.

Namun apa daya. Upayanya kembali kandas karena justru dilanggar oleh orang terdekatnya sendiri. 

Betapa tidak? Pada 1629, Zara Specx dan Pieter J. Kortenhoeff, pasangan kekasih yang belum menikah, tertangkap basah tengah bergulat penuh nafsu di atas ranjang tanpa busana di kamar mewah  Jan Pieterzoon Coen sendiri.

Pieter J. Kortenhoeff, sang kekasih Zara merupakan pria berusia 27 tahun dan merupakan salah satu anggota tentara Kompeni. Sementara Zara merupakan gadis cantik baru berusia 13 tahun.

Kecantikan Zara sangat khas karena merupakan gadis berdarah campuran Jepang-Belanda. Di masa itu, kecantikan Zara laksana bunga yang baru mekar di Kota Batavia yang panas.

Bagi Coen, Zara adalah buah hati kesayangan meski bukan anak kandung. Zara adalah anak Jacques Specx, sahabat karib Coen yang juga merupakan pejabat tinggi Kompeni di Firando, Jepang.

Specx dipindahtugaskan dari Jepang ke Batavia sejak 14 April 1622 kemudian menjabat sebagai Ketua College van Schepelingen merangkap anggota luar biasa Raad van Indie. Pada 1624, ia juga dipercaya menjadi komisaris urusan politik di Dewan Gereja di Batavia.

Kedekatan Coen dengan Specx sudah terjalin sejak awal berkelana di negeri kolonial. Kedekatan itu juga menjadi kekuatan dalam membangun Batavia.

Namun, pada 1627 Specx dipanggil kembali ke Belanda sementara putri tunggalnya, Zara, dipercayakan tetap tinggal bersama Coen dan keluarganya di Batavia. Amanah ini dijaga dan dijalankan oleh Coen dengan penuh tanggung-jawab.

Namun apa yang terjadi? Adegan perkelaminan liar Jan Pieterzoon Coen di kamarnnya sendiri telah menghancurkan reputasi Coen dalam membangun “revolusi akhlak” yang ia gadang-gadang.

Skandal itu menampar wajahnya. Reputasinya sebagai teladan dalam membangun peradaban berakhlak mulia di Batavia runtuh.

Tentu saja ia penuh kebimbangan antara mengampuni Zara yang ia sayangi dan ayahnya yang ia hormati dengan ketegasan menjaga wibawanya sebagai teladan membangun akhlak mulia di Batavia. Di sisi lain, perbuatan sepasang kekasih itu sudah kelewat batas. 

Seorang pengacara bernama Anthoni van den Hauvel menyarankan agar pasangan liar itu segera dihukum mati agar menimbulkan kesan jera bagi yang lain. 

Hauvel menyarankan agar Zara ditenggelamkan hidup-hidup di tengah laut sementara pacar mesumnya dipancung. Namun, Coen memilih menggunakan jalur pengadilan resmi yakni lewat Raad van Justitie.

Maka pada hari Senin, 5 Juni 1629, Pieter Vlak, Kepala Raad van Justitie dan Coen sendiri sebagai gubernur jenderal menandatangani keputusan pengadilan di mana Kortenhoeff akan dihukum pancung di depan gedung Stadhuis dengan disaksikan banyak orang. Tujuannya jelas, agar semua kapok tak meniru praktik permesuman.

Sementara hukuman Zara yakni didera sampai mati di dalam gedung Stadhuis yang juga terbuka untuk umum.  

Dari sini tampak bahwa Coen berusaha menegakkan apa yang ingin dicita-citakan. Tentu ada banyak pihak yang memohon agar ia mengampuni sepasang kekasih itu. Namun, Coen tak bergeming.

Coen seolah tegas dan teguh dengan keputusannya. Namun sejatinya, hatinya rapuh. Konon, keputusan menghukum mati Zara- Kortenhoeff  akhirnya menjadi hantu di sisa hidupnya.

Ada anggapan, bahwa kematiannya bukan dibunuh tetapi akibat serangan jantung setelah dihinggapi rasa bersalah telah membunuh Zara dan perasaan itu  terus menghantui dirinya.

Praktik Pergundikan

Mengenai praktik permesuman lainnya yang menjangkiti Batavia, selain kasus Zara-Kortenhoeff, praktik pergundikan juga tercatat dalam banyak sumber sejarah dan telah menimbulkan permasalahan sosial tak gampang.

Praktik permesuman melalui pergundikan bahkan telah menciptakan kaum indo (campuran pribumi-Eropa) yang tak terbilang jumlahnya dan sering disebut juga Indo-Paupers. Meski keturunan Indo terkenal khas, super cantik, baik perempuan kreol maupun berdarah campuran, namun perilaku mereka selalu diidentikkan sebagai sumber masalah sosial.

Mengenai sifat kaum indo, banyak laporan menyebutkan bahwa mereka “kekurangan semangat dan kemauan”. Catatan lain menyebutkan sebagai orang yang tidak bisa dipercaya, pendusta, bodoh, dan tidak berkembang.

Salah satu catatan W.H. Boogardt seperti dikutip Reggie Baay dalam Nyai dan Pergundikan di Hindia Belanda (2002: 181), menyebutkan, “Anak-anak yang dibiarkan begitu saja dengan nasibnya, tumbuh di dunia liar dan membentuk kelas yang terdiri dari para sinyo dan noni. Mereka kemudian tumbuh dewasa meneruskan kehidupan asusila ayah dan ibu mereka...”

Mereka sering merasa lebih tinggi derajatnya dari kaum bumiputera dan mendamba pengakuan setara dengan Eropa totok. Namun pengakuan itu tak pernah mereka peroleh.

Di sisi lain, pendidikan dan pelatihan untuk mereka juga sangat kurang. Alhasil, hanya segelintir kaum Indo yang tercatat mampu menoreh catatan sejarah.

Pada tahun 1902, H. Van Kol melakukan penyelidikan. Dalam perjalanannya di Nusantara, ia mencatat dalam Uit Onze Kolonieen (2002: 177), jumlah penduduk Eropa di Jawa dan Madura kala itu adalah 75.833. Dari jumlah itu, 51.379 adalah Indo-Eropa. Dan 17.000 di antaranya adalah indo-Eropa yang sengsara dan miskin (Indo-Paupers).

Kaum Indo-Paupers itu lahir dari praktek pergundikan baik di dunia sipil, tangsi, maupun di perkebunan. Saking tingginya jumlah Indo-Paupers, membuat keprihatinan banyak pihak. Salah satunya adalah Johannes van der Steur.

Ia merupakan pendeta agama Kristen yang kemudian mendirikan panti asuhan di dekat tangsi garnisun di Magelang, Jawa Tengah pada tahun 1893. Upayanya menampung anak terlantar dari praktek pergundikan di tangsi tidaklah sia-sia. Panti asuhan ini kemudian tetap kokoh berdiri hingga sekarang, di bawah payung Yayasan Pa van der Steur.

Keprihatinan serupa juga dilakukan oleh beberapa tokoh katolik di Batavia. Mereka adalah Mgr. PM Vrancken dan Pastor Van der Grinten. Kedua rohaniwan itu mendirikan panti asuhan bernama Batavia’s  Vereeniging pada tanggal 29 Agustus 1855.

Panti asuhan ini berusaha menampung dan mendidik anak Indo-Paupers di Batavia. Hingga kini, lembaga tersebut masih kokoh berdiri setelah berganti nama menjadi Perhimpunan Vincentius Jakarta (PVJ) pada tanggal 31 Maret 1950. Lembaga ini beralamat di Jalan Kramat Raya No 134, Jakarta Pusat.

Johannes van der Steur adalah salah satu pendeta yang gigih memprotes praktek pergundikan. Ia menuntut agar diberikan praktek pergundikan segera diresmikan dalam pernikahan yang syah.

Sekitar tahun 1890, muncul protes lain yang  disampaikan oleh B.R. van Vlijmen, seorang anggota parlemen beragama Katolik melalui forum Tweede Kamer. Selama satu dasawarsa ia mengecam pergundikan tangsi. Publikasinya mampu mengangkat soal pergundikan sehingga menjadi pembicaraan hangat di kalangan orang Eropa.

Walau sempat ada protes dilayangkan, praktek pergundikan tidaklah terhapus dari Hindia Belanda. Bahkan hingga pendudukan Jepang, kemudian pasca kekalahan Jepang, praktek ini terus berlanjut. Pasca kemerdekaan Indoneisa  (1945-1950), tatkala Belanda masih berusaha mengangkangi Indonesia, praktek ini sempat kembali hidup.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Nazaruli

Berita Terkait

Berita Rekomendasi