Netral English Netral Mandarin
12:11wib
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres memperingatkan dunia berada di jalur bencana lantaran pemanasan global yang terus berlangsung. Uji kepatutan dan kelayakan (fit and proper test) terhadap 11 calon hakim agung usulan Komisi Yudisial (KY) di Komisi III DPR akan digelar pada pekan depan.
Ketua Satgas Covid-19 IDI Jabarkan Penyebab Meroketnya Angka Kematian

Senin, 09-Agustus-2021 11:00

Satgas sebut banyak faktor penyebab kematian.
Foto : Freepik
Satgas sebut banyak faktor penyebab kematian.
14

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Ketua Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Prof Dr dr Zubairi Djoerban SpPD-KHOM ungkap penyebab meroketnya angka kematian. 

Pernyataan ini disampaikan karena kekhawatiran utama publik adalah fakta bahwa jumlah kematian Covid-19 di Indonesia sudah melebihi 100 ribu jiwa. Termasuk di antaranya adalah 598 dokter. Menurut dia, bisa saja angka sebenarnya jauh lebih tinggi. 

"Kondisi kita dua bulan terakhir sebenarnya bisa menjawab pertanyaan itu. Ada antrean panjang pasien Covid-19 untuk mendapatkan tempat tidur di rumah sakit," kata Prof Zubairi, dikutip dari cuitannya, Senin (9/8/2021).

Selain itu kurangnya pasokan oksigen, Isolasi Mandiri (Isoman) yang kurang tertangani. Alhasil 30 ribu-an orang meninggal hanya pada bulan Juli saja.

Faktanya, rumah sakit memang mengalami kekurangan oksigen dan terisi jauh melebihi kapasitas jumlah pasiennya. Sehingga makin sulit untuk merawat dengan intens, bahkan ada yang terpaksa menolak pasien karena penuh. Pada sisi lain, tenaga medis dan kesehatan juga kewalahan.

Laporan dari lapangan, puskesmas dan pasie memang kesulitan menghubungi hotline rumah sakit. Mereka coba menghubungi namun tidak ada yang angkat. Akibatnya, ambulans dari puskesmas tidak bisa jalan ke rumah sakit. Pasien pun tidak tertangani dan akhirnya meninggal.

"Jadi, saya mohon banget, hotline di rumah sakit itu dibuka dan direspons. Karena ambulans dari puskesmas baru bisa berangkat kalau rumah sakit yang dituju memberi jaminan. Namanya hotline ya harus merespons, apapun kondisinya. Paling tidak memberi informasi faktual saat itu," pinta Prof Zubairi.

Kemudian menurut Prof Zubairi, ada juga yang patut jadi sorotan. Yaitu keberadaan laboratorium yang menjadi tempat tes antigen dan PCR. 

"Ini kan banyak sekali. Harusnya mereka itu punya kewajiban untuk memberikan konsultasi dan merujuk pasien ke puskesmas atau rumah sakit," tegas Prof Zubairi.

Bukan hanya setelah hasil tes diberikan, disudahi begitu saja. Modelnya bisa mirip-mirip dengan tes HIV dulu. Yakni bersamaan hasil tes keluar dari laboratorium, sudah sepaket dengan konsultasi dan memberi jalan kepada pasien untuk melakukan apa. "Ini harus jadi konsern," sambung dia.

Belum lagi soal Isoman. Banyak sekali orang yang melakukan Isoman tapi tidak punya pengetahuan cukup dan sebenarnya memerlukan konsultasi dengan dokter. Prof Zubairi bersyukur, di beberapa daerah, mereka sudah melakukan telemedicine untuk pasien Isoman.

"Saya kira ini bagus sekali dan saya salut kepada teman-teman dokter yang sudah melaksanakannya. Semoga, daerah yang sudah melakukan telemedicine dan berhasil, bisa menjadi prototipe daerah lain untuk melakukannya juga," harap dia.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Sulha Handayani