3
Netral English Netral Mandarin
00:35 wib
Tercatat sebanyak 21,5 juta orang lansia akan mengikuti program vaksinasi Covid-19. Ada dua mekanisme vaksinasi Covid-19 pada lansia. BMKG memperingatkan sejumlah daerah di Jawa Barat yang berpotensi banjir atau banjir bandang dengan status siaga dan waspada mulai 24-25 Februari 2021.
Ketum Muhammadiyah Bandingkan Transaksi Pasar Muamalah Depok dengan Bali

Jumat, 05-Februari-2021 21:30

Anwar Abbas, Ketua PP Muhammadiyah.
Foto : Suara Muhammadiyah
Anwar Abbas, Ketua PP Muhammadiyah.
0

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Ketua PP Muhammadiyah Anwar Abbas membandingkan transaksi Pasar Muamalah Depok dan Bali. Perbandingan disampaikan Anwar, menyusul aktivitas Pasar Muamalah yang melakukan transaksi tidak menggunakan rupiah, melainkan dinar dan dirham.

Tetapi di Bali, diakui masih banyak orang melakukan transaksi dengan US dollar dengan maksud memudahkan transaksi terutama dengan wisatawan asing.

Menurutnya, Bank Indonesia (BI) sebagai institusi yang mengatur dan mengendalikan masalah moneter tentu saja harus memperhatikan dan mengawasi masalah ini dengan sebaik-baiknya  agar tercipta stabilitas mata uang resmi yaitu rupiah. 

"Cuma yang menjadi pertanyaan bagi saya yang terjadi dalam transaksi di pasar muamalah depok itu apakah sama dengan yang terjadi di bali ? Menurut saya tidak sama," tegas dia, Jumat (5/2/2021).

Menurut dia, mereka yang bertransaksi di Bali mempergunakan mata uang asing yang resmi seperti US Dollar, Euro dan lain-lain. Sementara transaksi yang terjadi di Pasar Muamalah Depok tidak mempergunakan mata uang asing. 

Memang penggunanya menyebut dengan mata uang dinar dan dirham, tapi baginya, itu jelas bukan mata uang resmi salah satu negara di manapun di dunia. Menurutnya itu adalah komoditi yang bentuknya mirip dengan uang yang dibuat sendiri.

Diketahui, bahan baku dinar dan dirham itu berupa emas dan perak yang dibeli dari PT Antam atau dari pihak lainnya dan itu tentu dibayar dengan mata uang rupiah.

"Tapi hal ini tentu tidak bisa kita terima karena dia jelas-jelas akan membawa dampak negatif bagi perekonomian nasional karena permintaan kepada mata uang rupiah  tentu akan menurun sehingga bisa-bisa nilai dari mata uang rupiah juga akan bisa menurun dan ini tentu tidak baik bagi perekonomian kita secara nasional," jelas dia.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Irawan HP