3
Netral English Netral Mandarin
20:21 wib
Partai Demokrat memecat sejumlah kader yang dianggap terlibat dan mendukung gerakan pengambilalihan kepemimpinan partai atau kudeta. Pertumbuhan jumlah orang kaya raya atau crazy rich di Indonesia diproyeksi bakal melampaui China seiring dengan proses distribusi vaksin Covid-19 dilakukan.
Ketum Muhammadiyah Kategorikan 3 Bentuk Transaksi Pasar Muamalah Depok 

Jumat, 05-Februari-2021 16:30

Ketua PP Muhammadiyah Anwar Abbas
Foto : Istimewa
Ketua PP Muhammadiyah Anwar Abbas
0

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Ketua PP Muhammadiyah Anwar Abbas menilai, transaksi di Pasar Muamalah Depok dalam tanda tanya. Menurutnya, dalam bertransaksi di dalam negara Republik Indonesia haruslah mempergunakan mata uang rupiah, karena mata uang rupiah adalah alat pembayaran yang sah di Indonesia. 

Pengamat Sosial Ekonomi dan Keagamaan ini juga menilai, hal itu penting untuk diperhatikan karena kalau melanggar akan berpengaruh terhadap kekuatan dan nilai tukar dari mata uang rupiah itu sendiri . 

"Untuk itu bagi menjaga stabilitas mata uang rupiah,  kita harus  berusaha  menghindari transaksi di dalam negeri dengan mempergunakan mata uang asing agar nilai mata uang rupiah kita stabil dan tidak terlalu turun naik," kata dia, Jumat (5/2/2021).

Menurutnya, yang harus dijaga dan diusahakan adalah bagaimana jumlah mata uang rupiah yang beredar tetap setara dengan nilai jumlah barang dan jasa yang ada. 

Untuk itu BI telah membuat aturan dimana setiap transaksi yang dilakukan dalam wilayah Negara Republik Indonesia harus memakai dan mempergunakan mata uang rupiah. 

Oleh karena itu jika ada turis yang mau berbelanja tapi tidak punya rupiah dan hanya memiliki US Dollar atau Euro atau Yen dan lain-lain. Turis harus menukarkannya terlebih dahulu ke dalam rupiah sehingga permintaan terhadap rupiah meningkat dan itu pengaruhnya sangat besar karena akan menciptakan multiplier effect.

Oleh karena itu transaksi yang Pasar Muamalah lakukan lakukan bisa dikategorikan ke dalam tiga bentuk:

Pertama, sama dengan transaksi barter, yaitu pertukaran antara komoditi (emas atau perak) dengan komoditi lainnya seperti TV, sepeda, kuliner dan lain-lain.

Kedua, transaksi tersebut mirip dengan transaksi yang mempergunakan  voucher karena yang berkepentingan membeli atau menukarkan terlebih dahulu uang rupiahnya ke dalam bentuk dinar dan dirham baru mereka bisa berbelanja di pasar tersebut. 

"Praktek transaksi mempergunajan voucher ini juga sudah banyak terjadi di negeri ini," tegas dia.

Ketiga, dinar dan dirham yang mereka pergunakan itu mirip dengan penggunaan coin di tempat permainan anak-anak, dimana kalau sang anak ingin mempergunakan mainan A misalnya maka dia harus mempergunakan coin dalam bentuk dirham tertentu  dan seterusnya. 

"Pertanyaannya bolehkah  kita melakukan transaksi barter dan atau kita bertransaksi dengan mempergunakan voucher dan coin tersebut? Saya rasa tidak ada masalah karena untuk membuat komoditi dinar dan dirham tersebut mereka juga telah membelinya terlebih dahulu dengan mempergunakan rupiah," jelas dia.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Sesmawati