Netral English Netral Mandarin
14:56wib
Ebrahim Raisi dinyatakan sebagai presiden terpilih Iran setelah penghitungan suara pada Sabtu (19/6/2021). Koordinator Tim Pakar sekaligus Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito terkonfirmasi positif Covid-19 menyusul aktivitasnya yang padat dalam dua pekan terakhir ini.
Kian Banyak yang Sadar Ingin Divaksin, Kini jadi Bagian Gaya Hidup

Selasa, 01-Juni-2021 17:20

Vaksinasi kini menyasar di bawah 50 tahun.
Foto : Instagram Puskesmas Matraman
Vaksinasi kini menyasar di bawah 50 tahun.
6

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Saat ini mendapat vaksin seperti menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat. Beberapa grup whatsApp (WA) para anggotanya seperti berlomba-lomba ingin menunjukkan bahwa dirinya sudah divaksin.

Kalau pada fase pertama sasaran pemerintah adalah mereka yang berumur lanjut usia (lansia), kini remaja dan mereka berumur di bawah 50 tahun pun sekolah tak ingin ketinggalan untuk mendapatkan vaksin.

Dimana link pemberian vaksin diposting pada tiap grup WA, saat itu juga diburu para anggotanya. Bahkan tak sedikit dari mereka yang dengan senang hati, bangga dan eksis memosting bahwa dirinya sudah mendapat vaksin di media sosialnya.

Mendapat vaksin seolah menjadi barang yang mewah saat ini. Anda punya banyak uang belum tentu bisa mendapatkannya, karena vaksin ini memang tidak diperjualbelikan.

Saat inipun jika ada acara kumpul-kumpul, biasanya ketua grup meminta yang boleh kumpul atau reuni khusus yang sudah divaksin. Maka tak heran sekarang vaksin Covid-19 menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat saat ini.

Puskesmas jemput bola

Ditengah keinginan masyarakat yang banyak ingin divaksin, Puskesmas Kecamatan Matraman, Jakarta Timur saat ini  malah telah mencapai target 62 persen lansia yang sudah divaksin.

Kepala Puskesmas Kecamatan Matraman, dr Rita Anggraini menjelaskan pihaknya melalui bantuan para ibu -ibu kader seperti dasa wisma, petugas jumantik, dan lainnya mendata dan mengajak para lansia untuk datang ke Puskesmas.

Puskesmas Kecamatan Matraman dalam sehari mampu melayani hingga 100 orang dan rata-rata 40-80 orang mendapat vaksinasi dosis satu maupun dosis dua.

“Jadi setiap hari akan ada saja para kader yang mengantar lansia yang berada di lingkungan rumahnya. Kami juga menjalankan amanah dari dinas kesehatan agar memberikan vaksin untuk kawasan kumuh, “ tutur dr Rita.

Terkait pelaksanaan vaksinasi tahap pertama sesuai dengan target Gubernur yaitu untuk para lansia, sudah ada lebih dari 8.105 lansia yang mendapat vaksinasi di Kecamatan Matraman dari total  13.108 lansia

dr Rita menambahkan, baik puskesmas kecamatan maupun puskesmas kelurahan, saat ini fokus menjalankan pemberian vaksinasi tahap kedua sesuai arahan Gubernur.

“Wilayah kami juga memiliki sasaran vaksinasi covid-19 di RW kumuh, sesuai peraturan Gubernur No 90/2018 yakni di RW. 01 Kelurahan Kayu Manis dan RW 09 Pal Meriam,” tutur dr Rita.

Kegiatan Vaksinasi RW Kumuh dilakukan di puskesmas kelurahan setempat dan berkoordinasi dengan lurah serta ketua RW/RT agar mendorong warganya mau divaksin. “Jadi ada kader yang bisa mengedukasi warga.  Misalnya di Kayu Manis RW 1 RT 03 dan 04, setelah didata ada 330 warga yang harus divaksinasi, maka kami berharap kader membawa warga tersebut ke puskesmas terdekat,” tambah dr Rita.

Menyinggung perilaku seseorang yang sudah divaksin, dr Rita menjelaskan walaupun sudah divaksin dan telah mendapat dosis 1 dan 2, tetap harus menjalankan protokol kesehatan. Walaupun bisa jadi ada perasaan sudah aman setelah divaksin namun tidak boleh lalai dengan protokol kesehatan.

“Sudah divaksin dan lalai terus kumpul-kumpul lepas masker lupa cuci tangan, itu yang bisa menjadikan bisa terpapar dan positif.  Walaupun maksudnya pemberian vaksin sebagai upaya pencegahan. Kita juga tak henti-hentinya untuk saling mengingatkan terus melakukan  5 M.

“Tujuan vaksin ini tak lain adalah untuk membentuk kekebalan kelompok dan membentuk herd immunity. “Inilah pentingnya kita divaksin terbentuk herd immunity,” tandas dr Rita.

Soal keraguan masyarakat terhadap pemberian vaksin, menurut dr Rita tugas bersama bukan hanya petugas medis saja tapi yang sepaham bisa jadi penerus lidah.  

“Tugas kita bersama bagaimana memberikan edukasi pentingnya pemberian vaksin. Karena memang tujuannya untuk membentuk kekebalan. Jangan takut dengan vaksin yang ada selama dilakukan di rumah sakit, dan tempat-tempat resmi tak perlu khawatir. Jadi jangan takut ada vaksin palsu sejauh dilakukan di tempat-tempat resmi,” tutur dr Rita.

“Vaksin  yang tersedia di Puskesmas adalah vaksin yang resmi dan gratis. “ tambah dr Rita.

Sementara dr Rahadhini Ayu, Kasatpel UKM, menjelaskan meski sudah divaksin bukan berarti berhenti protokol kesehatan, Anda telah diminta menjalankan  5 M yakni menjaga jarak, menggunakan masker, mencuci tangan, menjauhi kerumuman, menghindari kegiatan-kegiatan yang tidak penting.

Selain itu, tidak diperkenankan menerima vaksin lain dalam jangka waktu satu bulan setelah pemerintah vaksin dosis satu maupun kedua.

AstraZeneca

Terkait ramainya keraguan menggunakan vaksin AstraZeneca, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menjamin vaksin COVID-19 AstraZeneca aman digunakan dalam pelaksanaan vaksinasi massal di Indonesia.

"AstraZeneca ini sudah digunakan lebih dari satu miliar di seluruh dunia dan terbukti efektif," ujar Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono di Jakarta, Senin (24/5/2021) 

Dante memastikan produk vaksin AstraZeneca tersebut sama dari segi manfaatnya dibandingkan dengan vaksin dari Sinovac, meski dilihat dari angka kejadian ikutan pascaimunisasi (KIPI) sedikit lebih tinggi.

"Kita melakukan evaluasi KIPI kepada masing-masing yang sudah diimunisasi," ujar Dante.Dante pun mengimbau bagi yang belum melaporkan KIPI yang dialami agar segera melapor ke sentra vaksinasi yang ada di sekitar lokasi.

Dia mengatakan saat ini pihaknya masih membahas tentang batasan usia untuk pemberian vaksin COVID-19 "Sedang kita bahas mungkin dalam minggu-minggu ini bersama dengan Itagi, Komnas KIPI," ujar dia.

Vaksin AstraZeneca juga digunakan untuk para relawan pendamping korban kekerasan pada perempuan dan anak sebanyak 890 orang, yang difasilitasi Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA).

Pemerintah menekankan bahwa vaksin AstraZeneca aman, di tengah keraguan sejumlah warga menerima vaksin itu, setelah seorang pemuda di Jakarta meninggal tak lama setelah divaksin. Kasus meninggalnya seorang pemuda di Jakarta tidak lama setelah menerima vaksinasi AstraZeneca masih diselidiki oleh Komisi Nasional Kejadian Ikutan Pasca-Imunisasi (Komnas KIPI).

Sementara itu, dua kasus kematian sebelumnya setelah vaksinasi AstraZeneca, oleh Komnas KIPI, disebut tak berkaitan dengan vaksin. 

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menyarankan pemerintah untuk tak memberi vaksin ini pada mereka yang berusia di bawah 40 tahun. Namun, pemerintah hingga kini belum memberikan batasan umur untuk pemberian vaksinasi AstraZeneca.

Dr. Jane Soepardi, pakar imunisasi, mengatakan penting bagi penerima vaksinasi untuk jujur tentang kondisi kesehatan mereka.

"Sebetulnya kalau masyarakat jujur mengatakan ada masalah kesehatan, akan sangat membantu sekali. Apabila sakit, sebaiknya kita berobat terlebih dahulu sebelum divaksinasi. 

"Karena vaksinnya takutnya nanti mubazir di dalam tubuh kita sehingga tidak efektif membentuk antibodi. Akibat lainnya, apabila seseorang jatuh sakit dan diduga terkait vaksinasi, bisa memperlama program vaksinasi," ujar Jane, dilansiar dari BBC Indonesia.

Reporter : Sulha Handayani
Editor : Wahyu Praditya P