Netral English Netral Mandarin
23:11wib
Enam belas tim telah memastikan lolos ke babak 16 besar Euro 2020 (Euro 2021) usai berlangsungnya matchday terakhir penyisihan grup, Kamis (24/6) dini hari WIB. Sejumlah daerah di provinsi Jawa Tengah, DKI Jakarta, Jawa Timur, dan DI Yogyakarta masuk kategori zona merah atau wilayah dengan risiko tinggi penularan virus corona (covid-19) dalam sepekan terakhir
Kisah KPM PKH Kemensos yang Bertekad Mandiri dan Naik Status

Kamis, 01-April-2021 18:17

KPM PKH Mintarsih
Foto : Kemensos
KPM PKH Mintarsih
36

KARAWANG, NETRALNEWS.COM - Menerima bantuan tidak selamanya menyenangkan. Bagi beberapa orang, menjadi penerima justru dianggap sebagai hal yang tidak perlu dilanggengkan. Bahkan kalau bisa "naik status" menjadi sang pemberi. 

Hal ini berlaku bagi salah satu Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Program Keluarga Harapan (PKH) Kampung Lewengkawung, Desa Mekarmulya, Kecamatan Jambe Barat, Kabupaten Karawang, contohnya. Mintarsih, namanya. Perempuan paruh baya ini menjadi peserta PKH sejak tahun 2018. 

Dia menceritakan kisah awal menjadi penerima bantuan bersyarat dari pemerintah ini. Bantuan Rp900 ribu yang dia terima setiap kali cair itu ia rasakan manfaatnya. 

"Uang bantuan PKH cair 3 bulan sekali. Lumayan ya buat kebutuhan anak saya yang balita dan anak saya yang SD," kata dia, seperti dalam keterangan tertulis yang diterima, Kamis (1/4/2021).

Sejak itu, lanjutnya, uang bantuan PKH yang rutin ia terima digunakan untuk keperluan sehari-hari dan sekolah kedua anaknya. Ia pun mengaku menggantungkan bantuan PKH cair sementara ia tidak bekerja. Suaminya bekerja serabutan sebagai tukang bangunan yang mendapat upah Rp50.000 per hari. 

"Kadang ada, kadang enggak. Sampai akhirnya suami sering sakit," kata dia.

Sampai di sana, sampailah cerita di mana ia menceritakan perasaannya untuk ingin segera keluar dari keanggotaan PKH. Nampaknya pepatah "tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah" tertanam baik di kepalanya. 

Dengan mata berkaca-kaca, ia mengatakan bahwa tahun 2021 menjadi tonggak dia memantapkan dirinya ingin segera mandiri. Tak lagi menggantungkan bantuan bersyarat dari pemerintah lagi. 

"Saya tidak mau terus menerus menerima bantuan. Suatu saat saya juga harus jadi tangan yang di atas, ngasih bantuan," ucap perempuan 37 tahun ini tegas.

Ceritanya kemudian mengalir, mengenang awal mula ia membangun usaha menjual salah satu produk perkakas dapur, membuat matanya yang sudah berkaca-kaca itu perlahan menitikkan air mata. Sejenak kemudian ia berhenti. Kerudung hitam di kepala ia gunakan mengusap pipinya yang mulai basah. Matanya menerawang mengingat usahanya di tahun 2018 menjadi reseller produk perkakas dapur.

Di tahun itu, uang bantuan yang dia terima, dipakai untuk jualan produk wadah plastik. Tapi sayang tidak mencukupi. 

"Setiap kali bantuan turun, saya puter untuk modal usaha ini. Untungnya sedikit-sedikit bisa buat jajan anak," ungkap ibu dua anak ini. 

Air mukanya sedikit demi sedikit kembali ceria. Rupanya ia sampai pada cerita ketika ia bertekad membangun usaha lebih baik dari modal bantuan PKH.

"Sampai akhirnya ketemu bisnis MLM (Multi Level Marketing) salah satu produk kesehatan yang saya geluti sampai sekarang ini," lanjutnya. Hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan. Ia konsisten melakukan penjualan produk MLM yang ia ikuti, mengajak anggota lain, lalu begitulah keuntungan dari usahanya dimulai.

"Mulai gabung bulan September 2019. Lalu jualan terus jalan, bonus nambah terus. Setelah berjalan hampir setahun tahun, pendapatan saya mulai bertambah. Saya memutuskan keluar dari PKH, sekarang omset saya bisa mencapai Rp30 juta per bulan. Semua cita-cita yang saya impikan mulai tercapai," terangnya sambil menggandeng putri kedua yang duduk di sampingnya. 

Mintarsih kemudian mengenalkan usaha tersebut ke teman-teman lainnya penerima PKH. Harapan dia, agar teman sesama penerima PKH bisa segera keluar dari kepesertaan PKH seperti dirinya.

Dia mengaku Pendamping PKH yang membawahinya telah menyarankan untuk segera graduasi atau lulus dari kepesertaan PKH di tahun 2020. Dia ingat dari awal pendamping bilang bahwa suatu saat harus mandiri. 

Rupanya tekad Mintarsih untuk mandiri tak lepas dari dukungan Pendamping Sosial PKH. Adalah Kiki Sudawartini yang mendampingi Mintarsih sejak awal menerima program hingga dinyatakan graduasi. Ia mengaku bahwa Pertemuan Peningkatan Kemampuan Keluarga (P2K2) berperan dalam mendukung KPM PKH untuk graduasi. Terlebih salah satu KPM dampingannya, Mintarsih, telah berhasil graduasi.

P2K2 dilakukannya setiap sekali dalam sebulan. Bagi Kiki, mengumpulkan KPM dalam satu kelompok adalah momen ia bisa 'mendoktrin' KPM agar mandiri. 

"Setiap kali P2K2 itu saya selalu menegaskan ke para ibu-ibu KPM supaya tidak terus menerus menggantungkan bantuan pemerintah. Seperti bu Mintarsih, telah menyatakan mundur bulan Desember 2020 dan secara resmi keluar dari kepesertaan PKH di bulan Januari 2021," ujar mantan TKW ini.

Menurutnya penerima PKH harus berpikir bahwa tidak mungkin selamanya jadi "tangan di bawah" yang terus menerima. Suatu saat harus jadi 'tangan di atas'.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Sesmawati