Netral English Netral Mandarin
23:34wib
Ahli patologi klinis Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta Tonang Dwi Ardyanto menduga bahwa varian Omicron sudah masuk Indonesia. Sebanyak 10.000 buruh akan menggelar aksi unjuk rasa di tiga tempat, yakni Istana Kepresidenan, Mahkamah Konstitusi, dan Balai Kota DKI Jakarta, hari ini.
Kisah Mualaf Katolik Pembela Panji Islam di Kerajaan Demak

Rabu, 24-November-2021 17:50

Ilustrasi kapal tempo dulu di era Kerajaan Demak menguasai Pulau Jawa
Foto : Pengamat Sejarah
Ilustrasi kapal tempo dulu di era Kerajaan Demak menguasai Pulau Jawa
0

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Silang sengkarut  kepentingan politik, agama, penuh pertumpahan darah tak pernah ada habisnya terjadi dalam perjalanan umat manusia. Lucunya, hal ini terus saja berulang. 

Di abad ke-16, ada sepenggal kisah menarik tentang sosok penganut agama Katolik kelahiran Algarve, wilayah Portugis bagian Selatan bernama Coje Geinal. Ia disebut-sebut dalam beberapa sumber sejarah telah murtad dan menjadi mualaf atau menganut agama Islam dan mengabdi pada Raja Demak. 

Tak ada catatan lebih lanjut yang menjelaskan tentang alasan mengapa ia menjadi mualaf dan memunggungi Portugis sebagai negeri kelahirannya. Yang pasti, ia kemudian mengganti namanya. Ada yang menulisnya Khoja Zainal, ada juga yang menulisnya Khoja Zainu'I-Abidin.

“Pada pertengahan abad ke-16 di Keraton Demak hidup seorang Portugis yang murtad, berasal dari Algarvia (bagian Portugis yang paling selatan), terkenal dengan nama Coje Geinal (mungkin saja Khoja Zainu'I-Abidin), yang kerjanya membuat meriam untuk raja,” tulis DR. H.J. de Graaf dan DR. TH.G. TH. Pigeud dalam Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa (1985: 88). 

Lebih jauh de Graaf mengutip kajian Dr.Crucq bahwa kebenaran tentang keberadaan sosok Mualaf pengabdi panji Islam Demak tersebut dapat dijamin karena tertuang pula dalam surat Portugis yang ditulis Manuel Pinto.

Kala itu, Manuel Pinto menulis surat yang ditujukan kepada Uskup Besar di Goa (Makassar). Surat bertanggal 7 Desember 1548, dan dikirim dari Malaka. Ternyata penulisnya sempat singgah di Jawa dalam perjalanan pulang dari Sulawesi Selatan kembali ke Barat, dan mengadakan pembicaraan dengan raja. 

Berdasarkan tanggal surat, diperkirakan, raja Demak yang dimaksud Susuhunan Prawata (Pengganti Sultan Trenggana). Disebutkan pula bahwa saat itu, Sang Raja Demak sedang berusaha mengislamkan  seluruh  Pulau Jawa. 

Raja  berkata, bila  usaha  ini berhasil,  ia  akan menjadi segundo turco, maksudnya: menjadi sultan Turki yang kedua, setaraf dengan Suleiman I, Sang Pencinta Kemewahan (1520-1566). 

la mengira akan dapat dengan mudah menjatuhkan Malaka dengan menutup jalur-jalur pengiriman beras dari Jawa. Ia berkata juga bahwa sedang mempertimbangkan untuk mengirimkan ekspedisi ke Sulawesi Selatan dengan maksud menaklukkan dan mengislamkan daerah itu. 

Di sisi lain Manuel Pinto justru berusaha supaya raja membuang pikiran tersebut karena khawatir kalau-kalau ekspedisi tentara Jawa akan merugikan Pastor Vicente Viegas yang pada waktu itu juga sedang berusaha menyebarkan agama Katolik di Sulawesi Selatan.

Dari berita-berita Manuel Pinto, dapat ditarik kesimpulan bahwa raja Jawa itu mengetahui sedikit mengenai perkembangan politik di Eropa. 

Pada tahun 1547 Sultan Suleiman  I  telah mengkonsolidasikan  kedudukannya  di daerah-daerah  Hungaria dengan mengadakan perjanjian dengan Kaisar Karel V. la seorang pahlawan agama Islam.

Dr.Crucq seperti dikutip Pigeud juga telah berusaha membuktikan bahwa pada pertengahan abad ke-16 di Keraton Demak memang hiduplah seorang Portugis yang murtad, berasal dari Algarvia yang terkenal dengan nama Coje seperti telah disebutkan sebelumnya. 

Dapat ditarik kesimpulan pula bahwa orang inilah yang membuat Raja Demak memiliki pengetahuan luas tentang Eropa dan segala informasi tentang penyebaran agama Islam. 

Boleh jadi, Susuhunan Prawata, Raja Demak yang keempat ini kemudian berbesar hati karena memiliki pengetahuan lebih tentang Eropa sehingga merasa semakin yakin dan menganggap dirinya penguasa yang berhak penuh atas kerajaan Islam itu dan sebagai pelindung agama Islam, meski saat itu kekuasaan Susuhunan Prawata sudah berada di ujung tanduk. Ini terbukti kemudian. 

Seperti diketahui, Demak yang berpanjikan Islam sejak awal berdiri tahun 1475 berusaha mati-matian membendung dan mengusir kekuatan Portugis yang telah menguasai Malaka. 

Selain karena menguasai perdagangan di Nusantara, Raja Demak tak mau kehadiran orang Eropa yang juga menyebarkan ajaran Nasrani kemudian memurtadkan umat Islam di Jawa. 

Oleh karenanya, para Raja Demak bertahun-tahun sejak kegagalan Pati Unus dengan didukung  para ulama termasuk Muallaf Coje Geinal berusaha melawan dengan semangat jihad. 

Namun ironisnya, di internal Demak pun ternyata tak luput dari intrik politik perebutan kekuasaan dan politik balas dendam. Akibatnya, Demak  di kemudian hari runtuh justru karena pengroposan dari internal. 

Mengenai sosok Coje yang menarik, ia juga disebut-sebut sangat berjasa dalam pembuatan meriam bersejarah di Banten. 

Di masa itu, meriam Eropa menjadi idola karena dianggap sebagai simbol kesaktian karena telah mengalahkan teknologi perang sebelumnya, yakni cetbang yang jaya di era Majapahit. 

Meriam dianggap sebagai senjata berat yang paling ampuh. Di Malaka, Albuquerque pada tahun 1511 memiliki tak kurang dari 3.000 buah meriam, 2.000 dari perunggu dan 1.000 dari besi, yang teknik pembuatannya sangat bagus tak tertandingi. 

Berkat Coje, Demak pun mampu memproduksi meriam. Terbukti pada 1528, Sultan Trenggana dari Demak menghadiahi Fatahillah sebuah meriam besar bernama Ki Jimat (Kiai Amuk) atas keberhasilannya menaklukkan Banten dan Sunda Kelapa. 

Rachmad Abdullah dalam Kerajaan Islam Demak Api Revolusi Islam di Tanah Jawa (2015: hal.92 & hal.135) mencatat bahwa meriam besar inilah yang disebut-sebut dibuat oleh tangan terampil sekelompok ahli teknik dari Turki dan Aceh yang dipimpin seorang mualaf Portugis yang tak lain adalah Coje Geinal.

Meriam yang besar ini selain menjadi simbol kekerabatan antara Demak dan Banten, juga lambang keagungan Kerajaan Banten. Meriam yang sekarang berubah nama menjadi Kiai Amuk saat ini berada di halaman depan Masjid Agung Banten.

Hanya saja, meriam Ki Amuk dibuat sangat besar sebenarnya bukan untuk berperang. Dalam buku Nusa Jawa: Silang Budaya, sejarawan Denys Lombard menyatakan, bahwa meriam-meriam besar dibuat sebagai pusaka dan didudukkan sebagai lambang kewibawaan seorang raja. 

Lombard mencontohkan, meriam di Mataram zaman pemerintahan Sultan Agung, yaitu Kiai Sapu Jagad atau Kiai Pancawura,  dibunyikan sebagai tanda keadaan darurat, dibukanya gerbang istana, tanda kematian seorang pembesar keraton, bahkan terkadang sebagai tanda kemarahan sang raja. 

Jadi kemungkinan besar, Sultan Trenggana mengirimkan meriam itu ke Banten sebagai simbol kekuasaannya, bahwa Banten sebagai vasal Kerajaan Demak. 

Kembali tentang sosok Mualaf Coje,  keberadaanya ternyata tidak disebut-sebut lagi. Sampai di sini, diketahui bahwa Coje mengabdi pada Raja Demak yakni di era Sulltan Trenggana dan era Susuhanan Prawata. 

Sementara kejayaan Susuhunan Prawata menggantikan ayahnya Sultan Trenggana (1521-1546) yang sempat mengalami kejayaan karena menguasai Jawa pedalaman dari Timur ke Barat. 

Sultan Trenggana terbunuh pada 1546 dalam insiden penyerangan Panarukan, Situbondo, Jawa Timur, yang saat itu dikuasai Kerajaan Blambangan (Banyuwangi). Sepeninggal Sultan Trenggana terjadilah rentetan pertumpahan darah akibat perebutan kekuasaan.

Susuhunan Prawata, putra Sultan Trenggana sempat naik tahta setelah membunuh saingannya yang bernama Pangeran Surowiyoto atau Pangeran Sekar.  

Susuhunan Prawata lalu memindahkan kekuasaannya di Pati, Jawa Tengah, namun pada 1547 ia dibunuh oleh Arya Penangsang, putra Surowiyoto.

Arya Penangsang lalu naik takhta Kerajaan Demak. Untuk memperkokoh tahtanya, Arya Penangsang  membunuh Pangeran Hadiri atau Pangeran Kalinyamat karena dianggap berbahaya bagi kekuasaannya.

Di masa Arya Penangsang, muncul pemberontakan yang dipimpin Adipati Hadiwijaya, penguasa Pajang pada 1556. Hadiwijaya pun membunuh Arya Penangsang. 

Pemberontakan Adipati Hadiwijaya menyebabkan runtuhnya Kerajaan Demak. Wilayah Demak kemudian menjadi vazal atau wilayah kekuasaan Kesultanan Pajang.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto

Berita Terkait

Berita Rekomendasi