Netral English Netral Mandarin
04:41wib
Menteri Koordinator bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan memprediksi, puncak gelombang Covid-19 varian Omicron akan terjadi pada pertengahan Februari hingga awal Maret 202. Pemerintah mengakui kasus Covid-19 di Indonesia terus mengalami lonjakan akibat transmisi lokal varian Omicron dalam sepekan terakhir.
Kisah Ngeri Hantu Penjual Pecel Lele di Jalan Magelang

Jumat, 07-January-2022 15:50

Ilustrasi penjual pecel lele di pinggir jalan
Foto : YouTube Jejak Misteri
Ilustrasi penjual pecel lele di pinggir jalan
0

MAGELANG, NETRALNEWS.COM – Orang sering lupa. Sebenarnya, makanan paling nikmat itu adalah makanan yang disantap saat perut sangat lapar. Apapun yang disantap akan terasa nikmat.

Anda sering merasakannnya bukan? Ambillah contohnya saat Bulan Ramadan. Puasa tidak makan sehari, lalu minum seteguk air putih saja sudah terasa nikmat, apalagi sambil menyantap menu pecel lele.

Namun, di balik nikmatnya makanan, ada cerita mengerikan dialami Dian Prasetyo (49). Sekitar sebulan lalu, ia harus mondar-mandir kejar setoran produk makanan tempat bekerjanya dari Purworejo ke Magelang, Jawa Tengah, selama seharian penuh.

“Karena kejar target setoran yang ditentukan perusahaan, hari itu saya tancap gas mobil box terus-menerus seharian. Sampai makan saya tunda-tunda. Malam harinya baru terasa perut keroncongan tak mau kompromi,” tutur Dian kepada Netralnews, Kamis (6/1/2022).

Dian  yang merupakan pegawai tetap di perusahaan kuliner frozen berbahan dasar udang tambak di Purworejo itu mengaku tak menyangka dengan pengalaman misterius yang ia alami.

Pasalnya, ia sudah hafal jalur Purworejo-Magelang Jawa Tengah karena sudah ia lalui ribuan kali. Ia juga hafal di mana letak warung makan yang terkenal murah tetapi nikmat di jalur itu.

Namun entah mengapa, malam itu, di antara perut keroncongannya, membawa naluri laparnya berhenti di sebuah warung tenda pecel lele ala “Lamongan” di sekitar jalur Kali Jambe (perbatasan Purworejo-Magelang).

“Ya namanya lapar, mudah tergiur makanan yang bayangan di kepala saya, nikmat menyantap pecel lele Lamongan. Sebenarnya di kepala saya terbersit rasa heran karena di jalur Kali Jambe, seingat saya tak pernah ada warung tenda pecel lele. Namun malam itu jelas ada. Lagi pula ramai  pembeli,” kata Dian.

Begitu mobil ia parkirkan, Dian segera melangkah menuju warung tenda itu. Kanan kirinya gelap dan menyisakan terang di warung itu dan ada sekitar 8 orang sedang makan di dalam   Warung tenda.

“Begitu sampai, saya langsung pesan pecel lele dari kejauhan. Satu porsi, karena teman saya sudah pulang duluan dan tak ikut saya makan. Mulanya saya tak peduli dengan para pengunjung karena fokus pada rasa lapar. Namun beberapa saat, saya merasakan ada yang aneh,” tutur Dian.

Dian pun bersila dan merapatkan mata dan kupingnya. Ia tengok para pengunjung. Aneh. Semua terlihat menundukkan kepala dan seolah tak mau memperlihatkan wajahnya. Yang perempuan membiarkan rambutnya menjuntai sementara yang laki-laki semua tak mau mengarahkan wajahnya ke Dian.

“Harum bunga kamboja semerbak di warung itu. Saya tak takut, hanya merasakan aneh saja. Lalu datanglah pesanan saya. Lagi-lagi, diantar oleh seorang perempuan yang tak terlihat wajahnya karena sengaja ditutupi oleh mukena putih. Jadi, tangan kanannya menarik kain mukena menutupi wajahnya, sementara tangan kirinya menghantar makanan pesenan saya. Tak ada kata-kata. Hanya menyodorkan pecel lele, nasi, dan kobokan saja,” lanjut Dian.

Karena terdesak lapar, Dian segera menyantap pecel lele. Sekejap ludes. Semua terasa Nikmat. Ia minum segelas air aqua gelas di meja model lesehan di depannya. Ia kumur-kumur dan bersiap mau membayar.

Dian baru sadar, dompetnya tertinggal di dalam mobil. Ia pun bangkit dan berjalan cepat menuju mobil. Ia ambil dompet di laci samping stir. Saat berbalik arah menuju warung, ia terperanjat.

“Mendadak gelap. Tak ada warung. Tak ada orang satu pun. Saya ternyata berada di tepi rindangnya pohon-pohon di jalur Kali jambe sementara perumahan cukup jauh jaraknya. Barulah saya merinding dan gemetar. Perut saya jadi mual,” kata Dian.

Ia berusaha yakinkan pemandangan di depannya yang serba gelap atau ia sedang salah lihat. Dikuceknya kedua matannya namun saat dibuka, hasilnya sama.

“Saya benar-benar ketakutan. Padahal jelas saya baru saja makan pecel lele dengan nikmat. Antara takut dan tak mau terjadi hal-hal tak diinginkan, saya putuskan tetap taruh uang Rp20 ribu di lokasi yang tadi saya yakini ada tenda warung pecel lele. Lalu saya berbalik dan segera tancap gas menuju Magelang,” kata Dian.

Sampai di pangkalan tempat teman-temannya kumpul, Dian justru ditertawai banyak rekannya.

“Makanya, kalau makan jangan sendirian. Ajak teman, jangan lupakan teman. Udah tahu itu jalur angker, ngapain juga mau makan di lokasi angker,” demikian seronok kata teman-temannya. Dian pun hanya diam saja.

Mengenai jalur kali Jambe, memang warga sekitar menganggap daerah itu “wingit” dan angker. Ada yang percaya bahwa di lokasi turunan Kali Jambe, ada semacam pintu gerbang gaib.

Dan dalam catatan kasus kecelakaan, di lokasi ini memang seringkali terjadi kasus laka yang merenggut korban jiwa yang tak sedikit.

Apakah pengalaman Dian ada hubungannya dengan mitos Jalur Kali Jambe terdapat gerbang gaib sehingga ada semacam “warung gaib” bagi para hantu yang berlalu-lalang? Walahualam.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Nazaruli

Berita Terkait

Berita Rekomendasi