Netral English Netral Mandarin
04:10wib
Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden mengatakan tak mencari Perang Dingin baru dengan China. Sejumlah jaringan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) di berbagai daerah menyoroti kasus-kasus dugaan kriminalisasi petani jelang Hari Tani Nasional.
Kisah Pilu Gadis Cantik Korban Bom Gereja Samarinda, Birgaldo: Bintang Telah Bersinar Kembali

Sabtu, 01-Mei-2021 09:45

Trinity korban Bom Samarinda 4 tahun silam
Foto : Kolase Netralnews
Trinity korban Bom Samarinda 4 tahun silam
48

SAMARINDA, NETRALNEWS.COM - Tahun 2016 silam, prahara melanda gadis cantik bernama Trinity. Ia menjadi korban bom yang diledakkan di depan Gereja Oikumene Samarinda. Sejak itu hidupnya penuh penderitaan karena harus menjalani  pengobatan hingga ke luar negeri.   

Untuk diketahui, bom meledak di depan gereja Oikumene di Jl Cipto Mangunkusumo, Kelurahan Sengkotek, Kecamatan Lo Janan Ilir, Samarinda, Kaltim, pagi tadi. Divisi Humas Mabes Polri kala itu menyebut korban berjumlah 4 orang luka-luka.

"Korban akibat ledakan tersebut berjumlah 4 orang dan dilarikan ke Rumah Sakit Muis, Samarinda," tulis Divisi Humas Polri  Minggu (13/11/2016).

Ledakan bom molotov tersebut terjadi sekitar pukul 10.00 WITA. Ledakan terjadi di halaman gereja, ketika jemaat baru saja usai melaksanakan ibadah.

Lalu bagaimana nasib Trinity kini? 

Pegiat kemanusiaan Birgaldo Sinaga memberikan catatan kabar terkini melalui akun FB-nya. Dinukil Netralnews, Sabtu 1 Mei 2021, berikut catatan lengkap tersebut:

BINTANG ITU TELAH KEMBALI

Oleh: Birgaldo Sinaga

Lima tahun lalu, bocah cilik manis nan lucu itu menari bernyanyi riang di depan banyak orang. Para tetangga rumah takjub dan bertepuk tangan.

Bocah cilik berusia 2.5 tahun itu terus menari. Ia bak bintang di langit luas yang bersinar terang. Suaranya menembus dinding2 rumah mengalir bening.

Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih.

13 November 2016, seorang teroris bernama Juhanda masuk ke halaman gereja Ouikumene Samarinda.Juhanda membawa motor dengan tas ransel di punggung.

Tas berisi bom molotov itu diturunkannya. Sumbu bom dibakarnya. Ia mendengus. Lalu berteriak takbir.Brakkk..bummmm...brakkk..bummm

Bom molotov itu sekelebat terlempar di depan pintu gereja. Bocah kecil Ity, Alvaro, Intan dan Anita meraung2 di atas tanah. Api seketika membakar sekujur pakaian dan tubuh mereka. Bocah2 kecil itu sedang bermain.

Intan Olivia (2.5) tewas setelah 12 jam bertahan. Ity kritis seminggu dengan luka bakar hampir 60 persen. Alvaro (3) terbakar wajah dan kepalanya. Anita (3) terbakar lengannya.

Hampir 4 tahun Ity berjuang memulihkan luka2 bakar di tubuhnya. Tangannya tidak bisa lurus. Jarinya tidak bisa ditekuk. Kakinya pincang karena otot kulit mengeras. Ia hampir mati.

4 tahun lalu, sekitar akhir 2017, saya pertama kali bertemu Ity. Wajahnya dingin. Sorot matanya ketakutan. Wajahnya penuh curiga. Ia trauma pada orang asing. Ity hanya mau dengan ibunya. Ia menolak saya sentuh. Ia menjauh ketika saya ajak bicara.

Kemarin, Ity mengirim video dirinya sedang latihan tari balet. Ia fokus. Ia sangat serius dan konsentrasi. Ia benar2  meluruh dalam jiwa tarian balet. Persis balerina yang meliuk2 lentur diiringi musik denting piano lagu Fur Elise Beethoven.

Ity telah kembali. Ity telah lahir kembali. Teroris yang membakar tubuhnya  itu tidak bisa membunuh mimpi Ity. Teroris jahat itu tidak bisa menghanguskan cita2 Ity.

"Tulang Birgaldo...suatu hati nanti, Ity akan berdiri di podium PBB untuk menceritakan betapa teroris itu jahat. Mereka merenggut hari2 Ity menjadi kesakitan. Membuat Ity berteriak menangis setiap hari", ujar Ity saat kami duduk di anak tangga RS Sun Yat Sen Guang Zhou pada akhir 2019 lalu.

Saya menggosok kepalanya. 

"Yeaah..kamu pasti bisa Ity. Kamu hebat. Kamu kuat. Bicaralah yang lantang di sana. Teriakkan kepada dunia betapa kekuatan cinta, welas asih, pengorbanan dan pengampunan bisa mengalahkan kebencian dan kejahatan", balas saya sambil memeluk Ity.

Hari ini, saya melihat foto Ity dengan gaya split dan kaki menjulang lurus ke atas. Bibirnya tersenyum tipis.Saya berbisik. 

"Bintang itu telah kembali. Bintang itu telah bersinar kembali."

Salam perjuangan penuh cinta

Birgaldo Sinaga

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Sesmawati