Netral English Netral Mandarin
13:27wib
Lembaga Anti Doping Indonesia (LADI) mengaku sudah menyelesaikan 24 masalah yang tertunda ke Badan Anti Doping Dunia (WADA). Pemerintah berencana memberikan vaksin Covid-19 booster pada masyarakat.
Kisah Pilu Hantu-Hantu di Lokasi Anggota PKI yang Dibunuh dengan Keji

Kamis, 16-September-2021 19:44

Tangkapan Layar Film Semai Phala yang menggambarkan lokasi kuburan massal di Masean, Bali
Foto : Youtube/Tifa
Tangkapan Layar Film Semai Phala yang menggambarkan lokasi kuburan massal di Masean, Bali
26

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Bulan September tiba. Isu komunisme biasanya akan mencuat karena mengenang peristiwa kelam 30 September 1965. Pasca tragedi tersebut menyisakan catatan kelam yang tak pernah berakhir.

Tak hanya kisah sejarah. Kisah-kisah pilu beraroma supranatural juga sering menghiasi berita laksana “hantu PKI” atau bahaya komunisme yang dianggap banyak orang masih gentayangan hingga kini.

Memang bukan mengada-ada. Di berbagai lokasi pembunuhan keji mulai dari Lubang Buaya tempat pembuangan jasad para jenderal yang diculik dan dibunuh oleh gerombolan G30S, serta kejadian sesudahnya yakni juga lokasi-lokasi pembantaian mereka yang dituduh anggota PKI sering dikabarkan berhantu atau sering muncul penampakan gaib.

Ambil contohnya adalah kisah dalam Film berjudul Masean Messages besutan sutradara Dwitra J Ariana berdurasi 70 menit. Film itu berkisah tentang korban pembantaian 1965 yang terus menghantui penduduk Banjar Masean, Desa Batuagung, Bali, yang juga dikenal sebagai bekas kuburan massal anggota PKI.

"Arwah mereka yang tidak tenang dipercaya penduduk setempat menyebabkan 50 orang bunuh diri tanpa sebab," kata Dwitra, sutradara film, 12 Desember 2016 silam seperti dinukil Liputan6.

Ia menjelaskan, selama berpuluh tahun penduduk setempat diteror oleh bermacam peristiwa gaib. Hantu sering menampakkan diri dan bermacam kejadian aneh sering terjadi.

Berdasarkan petunjuk tetua adat setempat, kuburan massal korban tragedi '65 harus digali dan diupacarai dengan layak. "Pro kontra terjadi namun akhirnya Desa Adat sepakat, upacara harus dibuat," kata dia.

Lokasi Berhantu

Lokasi kuburan diduga mantan anggota Partai Komunis Indonesia yang dieksekusi, di Desa Banjar Adat Mesean, Batu Agung, Kabupaten Jembrana, Bali, kabarnya terungkap setelah banyak kejadian ganjil di sekitarnya. 

Masyarakat memutuskan melakukan penggalian karena resah di tempat itu mereka kerap menyaksikan kejadian berbau mistis.

Menurut warga sekitar, kejadian aneh dimaksud adalah penampakan sosok manusia tanpa kepala, hingga beberapa kejadian gantung diri. Menurut mereka, di desa itu, hampir saban tahun ada orang meninggal dengan cara gantung diri. 

Bahkan warga setempat menghitung sudah 50 orang tewas lantaran gantung diri. Tidak hanya itu, beberapa warga yang melintas malam hari di jalan itu, kerap melihat sosok orang tanpa kepala.

"Di banjar (desa) ini sudah ada 50 orang warga yang mati gantung diri, sudah sejak lama hingga sekarang. Ini sangat aneh dan tidak bisa diterima akal sehat," kata Kelihan Adat Mesean, Ida Bagus Ketut Siwa, seperti dilansir Merdeka.com, Kamis (29/10/2015) silam.

Karena kejadian janggal itu, menurut Siwa, petinggi adat desa bertanya kepada Sulinggih (pemuka agama). Mereka diberi petunjuk harus dilakukan proses pecaruan (pembersihan) di banjar, karena kawasan banjar dianggap leteh (kotor).

Penyebab karang (areal) banjar itu kotor, menurut Siwa, lantaran di jalan desa, tepatnya di dekat SDN 3 Batuagung, terdapat kuburan masal diduga eks anggota PKI. 

Mereka diduga adalah sebagian korban operasi pembersihan digelar militer dan organisasi paramiliter, usai pecah insiden 30 September 1965. Mereka diduga dibunuh pada 1966.

Menurut warga lainnya, dari hasil mepinunas (menanyakan) kepada orang pintar, jasad anggota PKI asal Tabanan yang paling keras meminta supaya dipindahkan ke setra (kuburan), dan di-aben (dibakar).

"Katanya, yang dari Tabanan itu saat pembantaian kepalanya ditebas hingga putus, dan antara badan dan kepalanya dikubur terpisah," ucap seorang warga Desa Mesean.

Dia melanjutkan, karena jasadnya tidak kunjung dipindahkan ke tempat yang lebih layak, apalagi tidak di-aben, akhirnya menurut warga, roh diduga eks anggota PKI itu marah kepada warga. Sehingga terjadi kejadian ganjil dan banyak warga mati bunuh diri.

"Bahkan banyak warga kalau malam hari melihat penampakan kepala menggelinding di jalan tersebut. Juga orang jalan tanpa kepala," ujar seorang warga desa bernama Siwa.

Karena alasan itulah, pihak banjar adat dan desa pakraman setempat memutuskan membongkar kuburan masal diduga eks anggota PKI, buat dipindahkan ke setra (kuburan) dan digelar upacara pengabenan.

Sedangkan di tempat mereka terkubur secara massal, dilakukan ritual pecaruan buat membersihkan lokasi.

"Secara logika memang benar di tempat mereka terkubur itu kan bukan setra, melainkan jalan. Jelas lokasi menjadi kotor dan mereka ingin dipindah ke tempat yang lebih layak dan diaben," tutur Siwa.

Dengan dilaksanakan ritual ini, diharapkan tidak ada lagi kejadian aneh dan tak ada lagi warga meninggal bunuh diri. Warga desa juga berharap tidak lagi melihat penampakan kepala menggelinding.

Kuburan Massal di Semarang

Kisah kedua tentang kuburan massal yang ditemukan para pegiat hak asasi manusia di daerah Semarang, Jawa Tengah. Kuburan massal tersebut diyakini berisi jenazah mereka yang dituduh terlibat dalam Partai Komunis Indonesia.

Ada yang menyebut kuburan massal itu berupa dua sumur berisi 24 jenazah. Dua sumur itu berada di Hutan Plumbon, Kelurahan Wonosari, Kecamatan Mangkang, Semarang, Jawa Tengah.

Keberadaan kuburan massal ini sempat ditutup-tutupi oleh warga sekitar karena rasa takut mereka pada rezim Orde Baru. Oleh karena itu warga tak membuat batu nisan di atasnya, hanya batu yang disusun melingkar dan ditanami pohon jarak di atasnya.

Bentuk kuburan massal ini berupa dua lubang sumur berdiameter sekitar 1,5 meter. Kuburan massal ini oleh beberapa warga sempat digunakan sebagai tempat mencari peruntungan nomor judi togel.

Sukar (81), warga Desa Plumbon, adalah salah satu saksi yang mengerti benar tentang kuburan massal di hutan desanya itu. Bahkan kala itu, dia yang diminta petugas untuk menutup lubang kuburan tersebut dengan tanah.

"Mereka dibawa ke sini dengan mata tertutup dan diikat tali, tersambung satu dengan yang lain", ujar pria yang akrab dipanggil Mbah Sukar ini. Mereka kemudian ditembak mati satu per satu begitu sampai di Hutan Plumbon.

"Saya sempat lihat benar meski disuruh berada di radius 20 meteran. Mereka ditembak satu per satu, kemudian langsung dimasukkan ke kuburan yang sama", kata Mbah Sukar.

Penuturan Mbah Sukar tak berbeda dengan Mbah Supar (66), warga setempat yang saat itu juga diminta aparat untuk menimbun sejumlah mayat dengan tanah. Menurut Mbah Supar, pada dua lubang tersebut, ada sekitar 24 jasad di mana salah satunya adalah wanita bernama Moetiah, asal Kendal.

"Awalnya tiga lubang, terus diubah menjadi dua lubang. Ada sekitar 24 jenazah. Salah satunya adalah wanita dan saya dengar namanya Moetiah", kata Mbah Supar kepada CNN Indonesia.

Yunantyo Adi, aktivis kemanusiaan dan penggiat HAM dari Perkumpulan Masyarakat Semarang, mengaku sudah tiga tahun mencari jejak kuburan massal tragedi 65 yang ada di Semarang. Dia pun berhasil mengidentifikasi nama-nama yang jenazahnya diduga dikubur di Hutan Plumbon tersebut.

"Tiga tahun kami mencari, bertanya ke sana ke sini hingga kemudian kami ketahui keberadaannya di alas Plumbon", ujar Yunantyo.

Ia mengaku sempat kesulitan karena warga sempat tertutup, tak mau banyak bicara soal kuburan massal di desa mereka. Warga takut jika apa yang mereka ucapkan tentang kuburan massal itu bisa berimbas urusan dengan petugas militer.

"Stigma warga ini berhubungan dengan PKI yang dilarang oleh aparat. Padahal kami tidak menyentuh ranah itu, hanya kemanusiaan", ujar Yunantyo seperti dinukil CNN Indonesia.

Bersama sejumlah rekannya, usai mendapati lokasi kuburan massal tersebut, Yunantyo kemudian mendatangi Kepolisian, TNI dan Pemerintah untuk mengungkapkan misi kemanusiaannya.

"Kami tidak mengutak-atik ideologi, tidak membangunkan rasa dendam. Kami hanya ingin identifikasi dan memberikan pemakaman yang layak terhadap mereka yang dikubur di situ", kata Yunantyo.

Keinginan para aktivis ini pun akhirnya direspon Pemerintah Kota Semarang dengan memberikan nisan di atas kuburan massal tersebut. Sembilan nama yang terukir di nisan itu.

"Kami paham dan maklum, pembongkaran kuburan massal ini bisa memakan biaya tidak sedikit karena harus melibatkan forensik untuk proses identifikasi dan perizinan yang rumit", kata Yunantyo.

Kini kuburan massal Plumbon menjadi daya tarik masyarakat yang penasaran dan ingin mengetahui sejarah peristiwa yang sebenarnya terjadi kala itu.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Sesmawati