3
Netral English Netral Mandarin
19:09 wib
Timnas Indonesia U-23 akan berhadapan dengan Bali United dalam laga uji coba yang akan berlangsung hari ini. Pemerintah masih menganggap persoalan di tubuh Partai Demokrat yang berujung pada Kongres Luar Biasa (KLB) di Deli Serdang merupakan persoalan internal partai.
Kisah Pilu Pria Yogya, Dicor Semen Hidup-Hidup, Arwahnya Gentayangan

Sabtu, 13-Februari-2021 16:10

Sisa pondasi bak penampungan limbah pabrik gula Djenar Purworejo
Foto : Jejak Kolonial Blogspot
Sisa pondasi bak penampungan limbah pabrik gula Djenar Purworejo
5

PURWOREJO, NETRALNEWS.COM – “Cetar, cetar, cetar,” cambuk menggeletar di punggung seorang pria malang yang mengular menahan perih.

Tubuhnya berbalut darah bercampur pekatnya lumpur sawah. Pria malang dengan tulang berbalut  kulit itu tak mampu bangkit.

Datang jauh-jauh dari Yogyakarta namun bernasib malang di Purworejo. Sosok itu kini tak mampu lagi berpikir bahkan sekedar membayangkan bahwa sebentar lagi ia akan menjemput ajal.

Baca Juga :

Dua pria berbadan kekar berpakaian serba hitam datang kemudian menyeret tubuh pria berdarah Yogya itu. Tak sabar dengan jalannya yang terseok-seok, pria malang itu dicambuk lagi.

Bukannya berjalan cepat, tubuh kurus itu justru kembali terjungkal memeluk pematang sawah. Lagi-lagi ia diseret kasar.

Datang seorang pria lain dengan kulit putih bersih blentong-blentong kemerahan. Ia adalah pejabat tinggi di Pabrik Gula Djenar, Purworejo. Kumisnya bapang, mengenakan baju serba putih.

Dengan sekali bentak, sekitar lima orang anak buahnya datang dan saling bahu membahu siap mengaduk semen, pasir, dan batu kapur.

Hari mulai gelap. Sore berganti malam. Lampu petromak dan dian mulai menyala. Para kuli pabrik gula memacu nafas, mengayunkan cangkul, dan adukan semen cor telah siap.

Lagi-lagi, pria berkumis bapang berdarah Belanda memberi tanda pembuatan fondasi limbah pabrik gula siap dimulai.

Beberapa pekerja menyusun batu kali di salah satu sudut pondasi bak penampungan limbah pabrik. Setelah jadi, bak tersebut akan menampung aliran sisa pembuangan dari mesin-mesin penggiling tebu.

Di sudut lain, pria malang yang berulang kali dicambuk sudah tak berdaya. Matanya terpejam, mulutnya menganga menahan sakit. Hanya perutnya saja terlihat kembang kempis.

Waktu menunjukkan pukul 19.30. Pria berkumis bapang berdarah Belanda mengayunkan tangan memerintahkan sosok itu diseret menuju pondasi yang akan dicor.

Tanpa beban, dua pria kekar berbaju hitam menarik pria malang itu dan ditidurkan di atas deretan batu pondasi limbah pabrik.

Perintah selanjutnya sudah hafal bagi para pekerja lainnya. Tanpa perlawanan, tubuh pria malang yang tergolek tak berdaya ditimbun adonan semen yang sudah disiapkan.

Skop dan cangkul beradu. Peluh berjatuhan di atas adonan semen yang ember demi ember menyiram tubuh pria malang itu. Tiga puluh menit kemudian pengecoran selesai.

Tak ada teriakan. Tak ada protes. Tak ada tangisan. Semua terasa senyap. Namun di bawah adonan semen pondasi bak limbah itu, terbujur seorang pria malang dari Yogyakarta.

Kesaksian Suparman

Kisah ini diceritakan ulang dengan imajinasi penulis berdasarkan kesaksian Suparman (67), putra juru bantu pemilik Pabrik Gula Djenar Purworejo.

“Jadi, sudah menjadi hal biasa bila ada pekerja pabrik gula yang dianggap tidak tertib dan melanggar dihukum mati. Salah satunya dicor hidup-hidup menjadi satu dengan bangunan pabrik,” kata Suparman . Kamis (7/1/21).

“Ingat, masa itu, pembangunan di wilayah Jawa berlangsung dalam sistem kerja paksa atau kerja rodi. Nah, salah satu pria dari Yogya inilah korbannya,” imbuh Suparman.

Dalam memori Suparman, ia masih ingat bahwa kedua orang tuanya pernah menceritakan secara detail bagaimana gambaran Pabrik Gula Jenar. Pabrik ini mulai dibangun tahun 1908.

Menurutnya, pabrik tersebut baru berhenti beroperasi  saat proklamasi kemerdekaan.

“Ibu saya dahulu mengasuh anak-anak Tuan Suzenaar, salah satu pemilik pabrik gula. Bahkan putranya sendiri yang pernah diasuhnya, pernah datang kemari. Hingga kini saya masih selalu komunikasi dengan beliau,” tutur Suparman.

Dalam ingatannya, pabrik gula tersebut telah menjadi sumber penghidupan bagi banyak karyawan yang mayoritas berasal dari daerah Yogyakarta.

“Mayoritas berasal dari Yogyakarta. Mereka tinggal di konpleks karyawan. Di sebelah Utara para pejabat tinggi dan di bagian selatan, pejabat rendahan,” kata Suparman. Kamis (7/1/21).

“Pabrik ini terus beroperasi hingga peristiwa proklamasi. Pihak Belanda tidak ikhlas wilayah pabrik gula diambil alih pasukan republik, maka sebelum ditinggalkan kemudian dibom oleh mereka. Semua dihancurkan tapi ada yang masih berdiri. Tiga rumah pegawai rendahan dan satu rumah dinas,” imbuhnya.

Dalam kesaksian Suparman, bekas pabrik gula yang menghampar di area sekitar 85 hektar ternyata sangat angker.

“Di bekas wilayah pabrik gula banyak sekali kejadian aneh. Bahkan, setiap orang yang pernah membuka usaha di lokasi ini tak lama kemudian meninggal,” katanya.

Rupanya, setelah pabrik gula tutup, di area ini pernah berdiri pabrik penggilingan padi, pabrik tekstil, hingga kayu. Semuanya tak berumur panjang.

“Saat pabrik tekstil dibangun, empat karyawan meninggal. Ada yang terjatuh dan ada yang kecelakaan. Pemiliknya sendiri tak lama kemudian meninggal juga,” tutur Suparman.

Suparman sendiri berulang kali mengalami kejadian mistis.

“Saat mengolah lahan sawah bekas pabrik gula, mesin traktor melompat. Ternyata di bawah lumpur ada beton sisa makam. Anehnya, malam harinya saya kedatangan tamu sosok arwah yang mengaku jasadnya dikubur di makam beton di sawah yang saya garap,” kenang Suparman.

Sosok itu mendatangi rumahnya, mengetok pintu dan menyatakan dirinya sebagai orang Yogyakarta yang dikubur hidup-hidup oleh orang Belanda.

“Di zaman itu, banyak orang yang jika dinyatakan melanggar aturan dihukum mati dengan dikubur hidup-hidup dalam adonan semen dan dicor. Bisa masuk dalam beton pondasi bangunan. Tujuannya, agar yang lain jera tak melanggar peraturan,” pungkas Suparman.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto