Netral English Netral Mandarin
04:48wib
Menteri Koordinator bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan memprediksi, puncak gelombang Covid-19 varian Omicron akan terjadi pada pertengahan Februari hingga awal Maret 202. Pemerintah mengakui kasus Covid-19 di Indonesia terus mengalami lonjakan akibat transmisi lokal varian Omicron dalam sepekan terakhir.
Spirit Doll dari Bogor, Dipelihara usai Putra Semata Wayang Meninggal

Rabu, 12-January-2022 11:05

Ilustrasi. (Boneka ini dimiliki Robert Eugene Otto, seorang pelukis asal Key West. Dikabarkan, boneka ini sering berjalan-jalan dari satu jendela ke jendela lainnya. Beberapa kali juga diketahui Eugen
Foto : uzone.id
Ilustrasi. (Boneka ini dimiliki Robert Eugene Otto, seorang pelukis asal Key West. Dikabarkan, boneka ini sering berjalan-jalan dari satu jendela ke jendela lainnya. Beberapa kali juga diketahui Eugen
0

BOGOR, NETRALNEWS.COM – Rumahnya kecil tapi antik. Pemiliknya adalah sepasang suami istri yang dikenal sangat baik oleh masyarakat sekitar yang berada  di salah satu Perumahan di kawasan Bojonggede, Bogor Jawa Barat.  Panggil saja pasangan suami istri itu, Ryan dan Desi.

Sudah tiga belas tahun silam mereka berusaha menerima kenyataan pahit yang harus mereka telan. Kegembiraan yang membuncah saat itu berubah menjadi pedih yang tak mungkin terobati.

Pagi yang cerah secerah harapan Ryan dan Desi yang sebentar lagi akan memiliki momongan. Mereka menikah di usia yang cukup rentan. Desi berumur 39 tahun dan Ryan 42 tahun. Maka, adalah berkah tak terkira ketika Desi dinyatakan hamil.

Proses kehamilan dikawal dengan penuh kasih sayang dan kemesraan. Ryan yang sejak muda menjadi pencipta lagu, sejak bayi usia satu bulan secara rutin menciptakan aransemen musik dan lagu irama keroncong khusus untuk  bayi yang dikandung istrinya tercinta.

Hingga waktu yang ditunggu hampir tiba. Bayi dalam kandungan Desi sudah berusia 9 bulan lima hari. Tinggal lima hari lagi diperkirakan lahir. Menurut hasil USG adalah cowok.

Pagi itu Ryan dan Desi sudah berada di ruang tunggu Dokter Spesialis Kandungan RS Carolus, Jakarta Pusat. Hati berdebar bercampur gembira karena sejak pagi si jabang bayi tak hentinya menendang-nendang seolah sudah  tak sabar melihat mentari pagi.

Namun, saat mereka tiba di ruang tunggu RS Carolus, Desi merasakan ada yang aneh. Sudah 30 menit, putranya berhenti menendang. Padahal selama di perjalanan tak hentinya menjejak perutnya.

Hingga tiba suara seorang perawat memanggil mereka untuk pemeriksaan. Antara heran dan tak sabar Desi yang dikawal Ryan masuk ruangan dokter. Dokter yang sudah hafal dengan mereka langsung memeriksa kandungan Desi.

Semakin penasaran. Dokter berulang-ulang memeriksa dan menempelkan stetoskopnya dari sisi kanan, tengah, kiri, dan beberapa kali. Hingga suara gledek itu berbunyi. “Ada yang tak beres dengan janin Ibu. Detak jantungnya tak terdengar,” kata dokter.

Ryan sangat terkejut, apalagi Desi. Mereka yakinkan saat di perjalanan si jabang bayi terus bergerak. Baru 30 menit saat menunggu di ruang tunggu, berhenti menjejak. Penasaran dan khawatir semakin menguat.

Dokter memutuskan melakukan USG. Dan vonis memedihkan itu terjadi. Janin berkelamin laki-laki dalam kandungan Desi dinyatakan telah meninggal dalam kandungan.

Antara percaya dan tidak akhirnya berujung menjadi semburan tangis pedih. “Tidaaaaak,” teriak pilu Desi. Ryan menahan protesnya kepada Tuhan Sang Penguasa Kehidupan. Namun protesnya tak pernah dikabulkan hingga kini.

Ryan menamai almarhum putranya Eka Dahana. Usai dilakukan operasi caesar, putranya yang berusia 9 bulan lima hari dalam kandungan istrinya dikremasi. Sebagian abunya dilarung di laut dan sebagian lagi dibawa ke rumahnya.

Mengenai penyebab kematian, ada beberapa kemungkinan. Doketer setidaknya menyebutkan pertama, si jabang bayi kemungkinan memegang tali pusarnya kuat dan tak dilepaskan sehingga menghentikan asupan oksigen bagi dirinya. 

Penyebab kedua, adalah virus kucing yang ada dalam diri Desi karena sejak kecil dirinya adalah pecinta kucing. Mana yang pasti, tidak bisa ditentukan dokter.

Meski sudah meninggal, Ryan dan Desi percaya arwah putranya masih bersama mereka. 

Almari khusus ada di kamar tidur mereka. Di dalamnya ada abu kremasi putranya dan satu boneka laki-laki dengan pakaian lengkap dari baju, celana, kaos kaki, dan sepatu.

Setiap hari mereka bergantian mengganti pakaian boneka itu. Secara rutin pula, Ryan membelikan baju baru untuk boneka itu. Dalam benaknya, baju itu adalah untuk putra satu-satunya yang telah tiada.

Tak terasa, rutinitas dan kepercayaan Ryan dan Desi, sudah mereka lakoni selama 13 tahun. Usia mereka sudah menapaiki lima puluhan tahun, usia yang tak mungkin lagi berharap memiliki anak lagi kecuali mengadopsi atau anak angkat.

Hingga kini mereka tidak memutuskan adopsi. Namun, setiap malam, Ryan dan Desi selalu berdoa bersama dengan boneka Eka Dahana. Ryan nyanyikan pula koleksi lagu keroncong yang ia ciptakan sejak Eka satu bulan dalam  kandungan.

Netralnews suatu ketika pernah bercakap-cakap dengan Ryan. Ia mengaku tak peduli apa kata orang tentang spirit doll Eka Dahana yang mereka percayai. Yang pasti, semua itu mampu membuat mereka kuat mengarungi kehidupan.

Mereka berusaha tawakal dengan seluruh rencana Tuhan. Mereka berusaha menjadi manusia yang mampu menyelesaikan tanggung jawab dan tugasnya di dunia.

Ryan yang berprofesi sebagai pencipta lagu keroncong serta Desi yang merupakan seorang aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) tak pernah terdengar menjadi sosok yang tidak bertanggung jawab.

Di kantor, Desi senantiasa tuntaskan tanggung jawab kerja secara profesional kerja. Saat di rumah adalah dunianya bersama Eka Dahana dan suaminya.

Mereka siap mengarungi sepi bersama dan selamanya.

Catatan: Kisah ini ditulis berdasar kejadian nyata dan dikisahkan ulang oleh Netralnews.com.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto

Berita Terkait

Berita Rekomendasi