Netral English Netral Mandarin
13:06 wib
Indonesia menempatkan dua wakilnya di final Yonex Thailand Open 2021 di Impact Arena, Bangkok, Minggu (17/1) siang. Kedua wakil berasal dari sektor ganda putri dan ganda campuran. Sebanyak enam orang meninggal akibat banjir dan tanah longsor yang terjadi Sabtu (16/1/2021), di sembilan kecamatan dan 33 kelurahan di Kota Manado, Sulawesi Utara, jadi daerah terdampak.
Kisah Prof Abdul Mutalif, Gemeteran Suntik Vaksin ke Presiden Jokowi

Rabu, 13-January-2021 12:15

Wakil Ketua Dokter Kepresidenan Prof Dr Abdul Muthalib menyuntikkan vaksin pertama ke Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Foto : Netralnews-Martina Rosa Dwi Lestari
Wakil Ketua Dokter Kepresidenan Prof Dr Abdul Muthalib menyuntikkan vaksin pertama ke Presiden Joko Widodo (Jokowi).
0

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Wakil Ketua Dokter Kepresidenan Prof Dr Abdul Muthalib menjadi orang yang ditugaskan untuk menyuntikkan vaksin pertama ke Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Prof Abdul Muthalib menyebut, dirinya menyuntikkan Vaksin Sinovac pada Presiden Jokowi dibantu dengan perawat. Langkah pertama, Prof Abdul Muthalib menggosokkan alkohol pada lengan kiri Presiden Jokowi.

“Seperti prosedur biasa dan saya suntikkan. Bapak Presiden tidak merasa sakit sedikit pun,” kata Prof Abdul Muthalib.



Pernyataan itu disapaikan Prof Abdul Muthalib setelah menyuntikkan vaksin ke Presiden Jokowi. Presiden menjadi orang pertama terima vaksin yang dilakukan di Istana Negara, Jakarta pada Rabu (13/1/2021).

Prof Abdul Muthalib merasa bersyukur karena dia berhasil menyuntikkan vaksin pada Presiden Jokowi. Rasa syukur yang lainnya karena dia menyuntikkan tanpa rasa sakit.

“Alhamdullilah saya berhasil menyuntik Bapak Presiden dengan tanpa rasa sakit,” ujar dia yang mengenakan masker, face shield dan sarung tangan.

Lebih lanjut Prof Abdul Muthalib mengaku, awalnya dia gemeteran akan menyuntikkan vaksin pada Presiden Jokowi.

“Pertama agak gemeteran. Bahkan (Presiden Jokowi) tidak ada pendarahan bekas suntikkannya,” tutup dia.

 

 

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Sulha Handayani