Netral English Netral Mandarin
22:21wib
Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo mewacanakan mengganti maskapai BUMN PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk dengan Pelita Air milik PT Pertamina (Persero). Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) akan menggelar unjuk rasa mengevaluasi 2 tahun kinerja Jokowi-Ma'ruf bersama Gerakan Buruh Bersama Rakyat (Gebrak), Kamis (28/10).
Klarifikasi Nuning: Saya Tidak Mungkin Mengatakan Islam Sebagai Embrio Terorisme

Kamis, 09-September-2021 09:22

Pengamat intelijen dan militer Susaningtyas Nefo Handayani Kertopati
Foto : Istimewa
Pengamat intelijen dan militer Susaningtyas Nefo Handayani Kertopati
16

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Nama pengamat intelijen dan terorisme Susaningtyas Nefo Handayani (Nuning) ramai diperbincangkan di media sosial bahkan jadi trending topic di Twitter pada Rabu (8/9/2021) kemarin.

Hal tersebut berawal dari adanya pemberitaan media yang memuat pernyataan Nuning mengenai penyebaran bahasa Arab yang dikaitkan dengan ancaman terorisme, hingga muncul narasi bahwa Nuning menuding 'Islam sebagai embrio terorisme'.

Akibatnya, Nuning jadi bulan-bulanan di media sosial. Kritik dan kecaman dilontarkan banyak pihak, termasuk MUI dan sejumlah politisi karena pernyataan Nuning dianggap menuduh, menyinggung atau menyudutkan Islam.

Menanggapi hal itu, Nuning angkat bicara untuk mengklarifikasi simpang siur pemberitaan mengenai pernyataannya soal bahasa Arab dan terorisme yang dipaparkan dalam webinar bertema 'Taliban Bermuka Dua ke Indonesia?' beberapa waktu lalu.

Dalam klarifikasinya, mantan anggota DPR ini menegaskan bahwa dirinya tidak mungkin mengatakan Islam sebagai embrio terorisme.

"Sebagai umat Islam tentu saya tidak mungkin mengatakan Islam sebagai embrio terorisme. Saya sebagai muslim secara sadar sangat menghormati Islam sebagai agama saya," kata Nuning.

Terkait dengan bahasa Arab, Nuning menyebut ada perbedaan konteks bahasa Arab sebagai alat komunikasi resmi di PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) dengan penggunaannya sebagai bahasa sehari-hari dalam pergaulan suatu bangsa yang sudah memiliki bahasa nasional, seperti halnya bahasa bahasa Indonesia.

"Adapun permasalahan meruncing karena ada media yang menulis tidak lengkap atas keterangan saya, sehingga menyulut kemarahan serta kesalahpahaman kepada saya," ujar Nuning.

Berikut pernyataan lengkap Nuning melalui keterangan keterangan tertulis yang diterima netralnews.com, Kamis (9/9/2021).

Sehubungan dengan simpang siurnya pemberitaan terkait penjelasan saya pada Webinar yang diselenggarakan Medcom maka saya merasa perlu meluruskannya.

Sebagai umat Islam tentu saya tidak mungkin mengatakan Islam sebagai embrio Terorisme. Saya sebagai muslim secara sadar sangat menghormati Islam sebagai agama saya. Ajaran Islam yang saya pelajari adalah agama yang cinta sesama bahkan juga dengan Umat Beragama Lain. Islam Rahmatan Lil Alamin. Jadi saya tidak mungkin menuduh agama Islam sebagai embrio Terorisme.Saya pun menyampaikan apa adanya berbagai temuan terkait dengan embrio Terorisme (Radikalisme), termasuk cikal bakalnya yang tumbuh berkembang diawali dari dunia pendidikan di negara kita. Hal ini yang saya utarakan pada webinar tersebut.

Tentu saja tidak semua Lembaga Pendidikan Berbasis Muslim itu bisa dikatakan sebagai embrio Radikalisme atau bahkan Taliban. Masih ada yang mengikuti peraturan perundangan yang berlaku. Soal pendidikan itu, sudah ada banyak lembaga yang sudah meriset hal ini.

Adapun permasalahan meruncing karena ada media yang menulis tidak lengkap atas keterangan saya, sehingga menyulut kemarahan serta kesalah pahaman kepada saya.

Perlu saya tambahkan, saya sangat menjunjung tinggi adat budaya Indonesia yang adhiluhung dan rasa cinta tanah air Indonesia. Sehingga tentu apa yang saya sampaikan tidak lain tidak bukan karena saya ingin mengajak serta bangsa ini memiliki patriotisme dalam Bela Negara.

Terkait dengan Bahasa Arab. Tentu saya sangat respect dengan Bahasa tersebut. Ada perbedaan konteks bahasa Arab sebagai alat komunikasi resmi di PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) dengan penggunaannya sebagai bahasa sehari-hari dalam pergaulan suatu bangsa yang sudah memiliki bahasa nasional, seperti halnya bahasa kita bahasa Indonesia. Dalam hal ini mohon maaf bila ada yang tidak sependapat dengan saya.

Sebagai catatan memang saya pun sangat mengkhawatirkan terjadi glorifikasi menangnya Taliban di Afganistan oleh sel-sel tidur terrorisme disini. Terkait hal ini tentu juga sudah sering dibahas oleh para ahli terorisme yang kita miliki, jadi bukan hanya saya saja.

Demikian keterangan saya. Semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah SWT dan sehat walafiat. Amin.Terima kasih

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Sesmawati