Netral English Netral Mandarin
02:49wib
Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 memutuskan hanya membuka akses enam pintu masuk kedatangan perjalanan internasional untuk WNI. Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 mengatakan ada kemungkinan turis mancanegara bisa kembali mengunjungi Indonesia pada 2022 mendatang.
Komodo Diklaim Selangkah Lagi Menuju Punah Akibat Perubahan Iklim Mengerikan

Minggu, 05-September-2021 06:30

Kadal terbesar di dunia saat ini, Komodo.
Foto : Live Science
Kadal terbesar di dunia saat ini, Komodo.
6

JENEWA, NETRALNEWS.COM - Populasi empat spesies tuna yang paling banyak ditangkap secara komersial menunjukkan tanda-tanda pemulihan, namun naiknya permukaan air laut membuat komodo kini digolongkan sebagai hewan genting dalam Daftar Merah spesies hewan berisiko punah.

Hasil pemantauan Uni Internasional Konservasi Alam (IUCN) menunjukkan bahwa komodo kini masuk 'daftar merah' hewan yang selangkah lagi menuju punah.

Sebaliknya, populasi spesies tuna paling banyak ditangkap yang sebelumnya dalam kondisi kritis dan genting sudah membaik, berdasarkan daftar hasil pemantauan tersebut. Keberhasilan operasi penghentian penangkapan ikan ilegal dinyatakan mendorong prospek bagi populasi tuna jadi meningkat.

Craig Hilton-Taylor, kepala unit Daftar Merah IUCN menjelaskan,tuna sirip biru Atlantik, predator besar berdarah panas yang suka berpindah-pindah dan harganya mencapai ribuan dolar, melompat tiga kategori dari "genting" (endangered) menjadi "risiko rendah" (least concern) dalam daftar tersebut, meskipun populasinya di sejumlah wilayah masih sangat sedikit.

Tuna sirip biru selatan juga membaik dari "kritis" (critically endangered) menjadi "genting", sementara tuna albakora dan tuna sirip kuning diklasifikasikan sebagai "risiko rendah".

Komodo pindah ke kategori genting. Kadal terbesar di dunia itu terlindungi dengan baik di Pulau Komodo, Indonesia, namun kenaikan muka air laut akibat pemanasan global diduga akan mengurangi habitatnya, kata IUCN.

"Gagasan bahwa hewan prasejarah ini selangkah mendekati kepunahan akibat perubahan iklim mengerikan," kata Andrew Terry, direktur konservasi Masyarakat Zoologi London.

Dia menyerukan tindakan untuk melindungi alam dalam konferensi iklim di Glasgow pada November.

IUCN juga mengungkapkan kekhawatiran terhadap hiu dan pari yang bernasib kurang baik ketimbang tuna.

"Sekarang kita harus mengambil contoh itu (tuna) dan mencoba menerapkannya di industri hiu," kata Hilton-Tylor.

Dia mengatakan tren hiu dan pari "bergerak ke arah yang salah".

IUCN pada Sabtu merilis laporan tentang 138.374 spesies tanaman, hewan dan jamur, yang lebih dari seperempatnya kini terancam punah.

Sekitar 37 persen spesies kedua hewan itu kini mendekati kepunahan. Bandingkan dengan amfibi (33 persen), mamalia (26 persen) dan unggas (12 persen).

IUCN mengatakan tahun lalu bahwa sejenis hiu yang secara formal baru saja ditemukan mungkin sudah punah.

Laporan perkembangan terkini dirilis oleh IUCN dalam sebuah konferensi tentang konservasi di Marseilles, Prancis. Demikian laporan Reuters seperti dilansir dari Antara.

Reporter : Antara
Editor : Irawan HP