Netral English Netral Mandarin
16:31wib
Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mengkritik peran Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) sebagai pengawas keuangan negara, namun tidak ada pihak ketiga yang mengawasinya. Para ilmuwan di Afrika Selatan mendeteksi varian Covid-19 baru yang memiliki banyak mutasi. Varian ini disinyalir jadi penyebab tingginya penyebaran kasus di negara tersebut.
Komunikasi Sosial, Cara Efektif Menghadapi Pandemi

Jumat, 27-Agustus-2021 15:57

Ilustrasi Komunikasi Sosial.
Foto : The News
Ilustrasi Komunikasi Sosial.
59

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Semenjak diumumkan Presiden Joko Widodo pada 2 Maret 2020, pandemi Covid-19 yang hampir terjadi di seluruh dunia belum juga reda. Indonesia sendiri hingga saat ini masih berjuang untuk keluar dari pandemi.

Belakangan, kasus harian positif Covid-19 malah meningkat di luar Jawa. Sementara, penurunan terjadi di Pulau Jawa dan Bali meski kedua wilayah itu sempat menyumbang kasus aktif terbanyak di Indonesia. Situasi yang masih dinamis ini tetap membuat pemerintah waspada. Pemerintah terus fokus memperkuat pelaksanaan tracing dan tracking, disamping menggalakan kampanye protokol Kesehatan dengan 3M (memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan.

Selain fokus pada sektor kesehatan yang bertujuan meredakan pandemi yang sudah berlangsung lebih daru satu tahun, pemerintah juga terus menggerakkan sektor perekonomian masyarakat agar tetap bertumbuh. Salah satu terobosanya adalah program perlindungan sosial atau perlinsos. Program ini efektif untuk membantu kesejahteraan masyarakat rawan dan rentan. Sesuai dengan afirmasi Bank Dunia yang memproyeksikan kemiskinan Indonesia akan jatuh pada kisaran 11,2% tanpa perluasan perlinsos. Pemerintah terus ekspansi secara kuantitas kepada masyarakat terutama pada masa Pemberlakukan Pembatasan kegiatan Masyarakat (PPKM) level 1 sampai 4.

Menurut Data dari Badan Pusat Statistik  (BPS, 2021), tingkat kemiskinan 10,1 persen (Maret, 2021) angkanya membaik dari sebelumnya. Kebijakan pemulihan ekonomi telah menciptakan 2,61 Juta lapangan kerja baru dalam kurun waktu September 2020-Februari 2021. Tren pemulihan ekonomi diawal tahun mampu mengangkat kesejahteraan masyarakat.

Program perlinsos sendiri dialokasikan mencapai 153,8 Triliun, dimana sudah terealisasi hingga 43,2 persen atau Rp66,4 Triliun. Ada ragam kebijakan mulai dari Program Keluarga Harapan (PKH), Kartu Sembako, Bansos Tunai, BLT Desa, bantuan beras Bulog hingga kartu sembako PPKM. Targetnya memperkuat konsumsi rumah tangga pada masyarakat rentan.

Meski program pemerintah bertujuan mulia, dalam pelaksanaannya perlinsos untuk masyarakat mendapatkan beberapa kendala baik masalah data ganda, mekanisme penyaluran, ketidaksesuaian antara jumlah yang direncanakan dengan implementasinya hingga perilaku koruptif lainnya. Tidak adil rasanya, triliunan rupiah yang dikucurkan pemerintah menjadi pesimisme karena perilaku segelintir orang. Seharusnya Bansos, dapat dijadikan modal dasar bagi kita semua untuk membangkitkan nilai dasar yang tertanam sejak dulu yaitu peduli antar sesama dan gotong royong, dalam melawati pandemi ini.

Kata kunci membentuk budaya peduli antar sesama adalah membangun komunikasi sosial yang efektif. Menurut Deddy Mulyana (2004), komunikasi sosial dapat membantu kelangsungan hidup dan memupuk hubungan dengan orang lain. Dalam perspektif yang sama, komunikasi bisa membantu individu dalan bekerja sama antar sesama anggota untuk tujuan yang ditetapkan. Secara implisit, komunikasi sosial juga komunikasi kultural, titik tekannya ada timbal balik diantara keduanya.

Sebagai bagian dari perilaku komunikasi, budaya gotong royong dan peduli sesama harus ditentukan, dipelihara, dikembangkan dan diwariskan di masyarakat. Menurut Samovar dan Porter (dalam Andrik Purwasita : 2003), komunikasi harus berlangsung dalam konteks fisik dan konteks sosial. Dimana keduanya saling mendukung dan menentukan dalam tindak komunikasi. Intinya budaya setempat menentukan norma-norma, nilai-nilai terhadap perilaku partisipasi komunikasi.

Masyarakat kita sudah lama hidup dalam lingkungan yang berbasis kekeluargaan rekat, terutama pada target penerima bansos. Karakteristik masyarakatnya guyub karena kondisi lingkungan sudah diciptakan untuk terjadi komunikasi antar tetangga yang intim. Komunikasi yang terbuka tidak semata bentuk fisik, tapi juga komunikasi sehari-hari. Masyarakat sudah terbiasa saling berbagi pemikiran, ide, informasi maupun barang. Tidak hanya berbagi, tapi juga saling membantu satu sama lainya tanpa memandang latar belakangnya. Ini adalah kekayaan sosial pada masyarakat, yang selaiknya tidak terpecah karena adanya perbedaan pemahaman mengenai implementasi program bantuan baik dari pemerintah maupun bukan.

Penting adalah penyelenggara bantuan sosial ataupun komunikator mikro mampu menumbuhkan konsepsi yang lebih besar terutama rasa saling membantu antar warga dan tetangga. Komunikator mikro seperti ketua RT, ketua pemuda, tokoh agaman atau opinion leader harus mempunyai kemampuan mendengar dan berempati. Ini adalah adalah kunci dari interaksi komunikasi, ini juga salah satu kemampuan individu dalam memecahkan masalah mikro sosial.

Opinion leader di tingkat bawah dapat melakukan beberapa hal agar makna terus peduli dan membantu sesama tetap bertahan dalam nilai-nilai masyarakat dengan atau tanpa program bansos dari pemerintah. Pertama, pembagian bansos harus dilakukan secara transparan, benar dan tepat. Disini penting opinion leader menyampaikan secara akurat mengenai kriteria program ke masyarakat. Sikap terbuka yang dicontohkan pemimpinn lokal akan membuka ruang empati bagi masyarakat mampu untuk lebih dermawan.

Kedua, budayakan berempati dan mendengarkan, jangan mengambil kesimpulan dan opini atas suatu peristiwa di lingkungan kecil dengan tergesa-gesa. Ekspresi atas sikap ketidaksukaan atau protes yang keluar dari masyarakat harus ditanggapi oleh komunikator2 lokal. Kemampuan mendengar akan banyak membantu menyelesaikan suatu persoalan. Ketiga, ajak masyarakat atau tetangga terutama yang mempunyai akses informasi baik untuk mencari informasi yang benar tentang program bansos, dari prosedur, kriteria, tahapan hingga aduan informasinya. Informasi berharga penting agar tidak terjadi kesalahpahaman diantara mereka.

Terakhir, program bansos adalah program penting dengan tujuan baik dari pemerintah. Tapi ini belum cukup, penting adalah menggugah kesadaran dan jiwa peduli di masyarakat. Mereka yang mampu bisa membnatu tetangganya yang kurang beruntung, dan sebaliknya. Apapun itu bentuknya bila setiap elemen masyarakat mampu menerapkan sikap peduli dengan baik, akan banyak mereka yang tertolong berbasis komunitas masyarakat.

Memang komunikasi tidak bisa menyelesaikan semua masalah termasuk delivery program pemerintah dan menumbuhkan sikap seperti yang diinginkan. Namun penting, komunikasi bisa jadi jalan yang baik untuk mengurai masalah dan menjadikan nilai baik tetap ada di masyarakat secara alamiah.

*Marroli J. Indarto (Penulis adalah Pranata Humas Madya Kementerian Komunikasi dan Informatika (KOMINFO) ).

Reporter :
Editor : Widita Fembrian

Berita Terkait

Berita Rekomendasi