Netral English Netral Mandarin
banner paskah
05:22wib
Polisi menduga kelompok kriminal bersenjata (KKB) membakar sejumlah fasilitas umum di wilayah Ilaga, Kabupaten Puncak, Papua, lantaran sempat dijadikan sebagai Posko Komando Taktis alias Pos Kotis. Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) mengabulkan sebagian permohonan uji materi Undang-undang Nomor 19 Tahun 2019 tentang perubahan kedua atas UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang KPK.
Kondisi Mengkhawatirkan, Refly Harun Usul Habib Rizieq Ditahan di Rumah dengan Syarat Ini

Senin, 18-January-2021 11:35

Ahli Hukum Tata Negara Refly Harun (RH)
Foto : Istimewa
Ahli Hukum Tata Negara Refly Harun (RH)
751

JAKARTA, NETRALNEWS.COM  − Ahli Hukum Tata Negara Refly Harun mengetahui bahwa Habib Rizieq Shihab (HRS) kondisinya mengkhawatirkan. HRS disebut alami sesak nafas hingga sakit lambung, meski sudah merasa lebih nyaman karena pindah ke Rutan Bareskrim.

“Kondisi Habib Rizieq menghkhawatirkan, mengapa tidak ditahan di rumah saja?,” ujar Refly, dikutip dari kanal Youtubenya,” Senin (12/1/2021).

Refly ingat bahwa HRS diperiksa pihak Kepolisian pada 13 Desember 2020 lalu dan baru pulang ke Indonesia pada 10 November 2020. Rentang waktu 31 hari, HRS melakukan berbagai macam aktivitas dan tidak sempat istirahat cukup.

Menurutnya, wajar apabila kondisi kesehatan HRS turun dan ditahan sejak 13 Desember 2020 hingga 17 Januari 2021. Dihitung-hitung, lebih lama masa penahanan daripada hirup udara bebas semenjak datang dari Arab Saudi.

“Tentu yang tahu kondisi kesehatan adalah tim kesehatan dari Mabes Polri dan harus jadi pertimbangan kemanusiaan. Ya misalnya tidak menahan Habib Rizieq, karena agak aneh dipaksa ditahan,” ujar Refly.

Pendapat Refly, yang paling penting saat ini adalah HRS memiliki komitmen misalnya dalam memenuhi tiga syarat. Syarat pertama, tidak melarikan diri, tidak menghilangkan barang bukti, dan tidak mengulangi perbuatan.

“Apabila tiga−tiganya sudah ada komitmen kuat dari Habib Rizieq dan ada yang bersedia menjadi penjamin agar Habib Rizieq ditahan di luar. Kecuali yang bersangkutan tidak kooperatif,” tegas dia.

Di sisi lain, Refly menilai bahwa HRS amat kooperatif karena bersedia mendatangi pihak Kepolisian pada 12 Desember 2020 lalu. Justru menurutnya, aparat Kepolisian yang ingin melakukan kekerasan karena membuat sebuah opini publik, bahwa HRS tidak patuh.

“Padahal seperti disampaikan Habib Rizieq, ketika tidak bisa datang, dia kirim pengacara, kuasa hukum bahwa kondisi kesehatannya tidak terlalu baik,” tegas dia.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Nazaruli