Netral English Netral Mandarin
23:36wib
BMKG menyatakan gempa yang terus berlangsung di wilayah Ambarawa Kabupaten Semarang dan Kota Salatiga merupakan jenis gempa swarm dan perlu diwaspadai. Sejumlah calon penumpang pesawat di Bandara Soekarno-Hatta, Kota Tangerang, mengeluhkan soal aplikasi PeduliLindungi serta harga tes PCR yang dinilai mahal.
Konsumsi Daging yang Sudah Diproses Ternyata Tingkatkan Risiko Terkena Covid-19

Senin, 13-September-2021 12:30

Daging salah satu sumber protein.
Foto : Meat and health.
Daging salah satu sumber protein.
9

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Daging meruapakan salah satu sumber protein hewani yang kerap dikonsumsi oleh banyak orang. Meski harganya cukup tinggi dibanding protein seperti telur, tahu, tempe, ayam dan ikan, daging tetap jadi primadona bagi para penikmatnya. 

Tak jarang, ibu-ibu di rumah membeli daging yang sudah diproses sebelumnya, agar lebih awet dan bisa jadi stok di kulkas. Tentu akan lebih praktis, karena bisa diolah kapan saja sesuai selera dibanding harus mencari-cari daging segar lagi ke pasar atau supermarket. 

Belum lagi ketakutan akan pergi keluar rumah dan berisiko terpapar Covid-19. Seperti diketahui, pasar dan supermarket merupakan salah satu tempat yang tetap beroperasi selama pandemi untuk memenuhi kebutuhan pokok, hingga banyak dikunjungi masyarakat. 

Baca Juga :

Tapi tahukah Anda, rupanya daging yang sudah diproses adalah makanan yang ditemukan berasosiasi dengan peningkatan risiko terkena Covid-19.

"Penyebabnya diduga karena kebiasaan konsumsi daging yang sudah diproses berhubungan dengan pola hidup kurang sehat yang dapat meningkatkan risiko munculnya komorbid," jelas dr Adam, dikutip dari keterangan tertulisnya, Senin (13/9/2021). 

Baca Juga :

Pernyataan ini didampaikan oleh dr Adam Prabata PhD Candidate in Medical Science at Kobe University. Pernyataannya bersumber pada sebuah penelitian terbaru di Inggris, dengan judul: Dietary Behaviors and Incident Covid-19 in the UK Biobank.  

 

Baca Juga :

Penelitian dinilai dr Adam menarik karena meneliti makanan atau minuman yang biasa dikonsumsi seseorang dengan kemungkinan terkena Covid-19. Antara lain minyak ikan, daging, buah sayur dan kopi. 

 

Lebih lanjut dr Adam sampaikan kabar gembira bagi mereka yang gemar dan sering konsumsi sayur mayur. Pasalnya dalam penelitian tersebut menunjukkan bahwa konsumsi sayur ternyata berasosiasi dengan penurunan risiko terkena Covid-19. 

"Efek anti inflamasi atau anti radang dan antioksidan yang ada dalam sayur diduga menjadi penyebab penurunan risiko tersebut," terang dr Adam.

Salah satu yang mengejutkan adalah kopi ternyata berasosiasi dengan penurunan risiko terkena Covid-19. Penurunan risikonya sekitar 10 persen, dengan frekuensi konsumsi kopi 2-3 kali per hari.

"Berdasarkan diskusi di penelitian tersebut, kopi diduga berpotensi bermanfaat dengan penurunan risiko terkena Covid-19 karena efek antioksidan dan antiradang. Selain itu berasosiasi dengan kerja sel imun dan berkorelasi dengan sitokin tubuh," jelas dia.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Sulha Handayani