Netral English Netral Mandarin
20:25wib
Hingga matchday kedua Euro 2020 (Euro 2021) terdapat satu negara yang sudah dipastikan tersingkir dari ajang sepak bola antarnegara paling bergengsi di Benua Biru yaitu Makedonia Utara. Indonesia sedang didera lonjakan kasus Covid-19 di sebagian besar daerah. Peningkatan kasus ini terlihat dari keterisian tempat tidur di rumah sakit oleh pasien Covid-19.
Korupsi Bansos Fantastis, Mencapai Rp100 Triliun, Haikal Hassan Minta Jangan Sampai Lengah

Rabu, 19-Mei-2021 10:15

Haikal Hassan Baras
Foto : IDN Times
Haikal Hassan Baras
6

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Penyidik KPK, Novel Baswedan menyebutkan bahwa korupsi Bansos Covid-19 diduga mencapai Rp100 Triliun. 

Pernyataan ini ditanggapi Haikal Hassan Baras dengan tegas agar bangsa Indonesia tidak lupa mengawasi kasus korupsi bansos di tengah memperjuangkan Palestina.

“Siarkan terus kebiadaban israiiil. Jangan lupakan kebiadaban korupsi. Jangan sampai lengah maling bansos,” kata Haikal Hassan Baras seperti di nukin NNC 19 Mei 2021 dari akun Twitternya.

Untuk diketahui, sebelumnya Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan kembali buka suara. Ia bercerita kasus korupsi korupsi bantuan sosial (bansos) Covid-19 nilainya mencapai Rp100 triliun.

Namun ia belum bisa memastikan lantaran perlu penelitian kasus ini lebih lanjut.

Novel mengatakan kasus bansos covid-19 di mana KPK melakukan operasi tangkap tangan hanya untuk wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya. Kasus ini sudah masuk ke sidang.

Namun, kata Novel, kasus serupa juga terjadi di seluruh daerah di Indonesia dengan pola yang sama sehingga perlu penyelidikan lebih lanjut.

"Ini kasus yang mesti diteliti lebih jauh. Kasus ini nilainya puluhan triliun. Bahkan saya rasa seratus triliun nilai proyeknya dan ini korupsi terbesar yang saya pernah perhatikan," kata Novel dinukil  CNN Indonesia, Senin (17/5).

Novel melihat ada kesamaan pola-pola korupsi bansos di daerah yang sama dengan DKI Jakarta dan sekitarnya. Ia menilai kasus bansos harus terus ditindaklanjuti.

"Ini kasus yang mesti diteliti lebih jauh," ucap dia.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Wahyu Praditya P