Netral English Netral Mandarin
04:31wib
Presiden Joko Widodo mengatakan, kondisi dunia saat ini penuh dengan ketidakpastian dan persoalan yang lebih kompleks dibandingkan sebelumnya. Sistem perawatan kesehatan Singapura terancam kewalahan menghadapi lonjakan covid-19.
KPM Graduasi Mandiri Asal Aceh: Keluar dari Kepesertaan PKH Tidak Harus Menunggu Kaya

Minggu, 03-Oktober-2021 18:54

KPM PKH Graduasi Mandiri Asal Aceh, Yusnidar
Foto : Tangkapan Layar Youtube Linjamsos Kemensos
KPM PKH Graduasi Mandiri Asal Aceh, Yusnidar
7

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Program Keluarga Harapan (PKH) Graduasi Asal Aceh, Yusnidar menilai, keluar dari kepesertaan PKH tidak harus menunggu kaya. Tindakan itu juga yang dia lakukan pada 2020 silam, setelah sempat bergantung pada Program Bantuan Sosial (Bansos) dari Kementerian Sosial (Kemensos). 

Yusnidar atau akarab disapa Kak Yus sendiri merupakan seorang penjahit yang tinggal di Kecamatan Kuta Alam, Aceh. Usahanya telah dimulai sejak 2006 silam, sedangkan suaminya bekerja sebagai tukang bangunan. 

Kak Yus akui, tahun demi tahun berlalu tetapi usahanya tak kunjung membuahkan hasil yang diharapkan. Di sisi lain, sang suami juga tidak memiliki penghasilan yang tetap. 

Hingga pada 2013, Kak Yus mendapatkan Bansos PKH dari Kemensos. Seiring berjalannya waktu, usaha menjahitnya mulai dikenal banyak orang, pesanan meningkat dan pendapatannya naik berkali-kali lipat. 

Keadaan membanggakan itu tentu secara perlahan merubah keadaan perekonomian keluarga. Mereasa keadaan perekonomian mulai membaik, pada 2020 Kak Yus memutuskan keluar dari kepesertaan KPM PKH.

Tahun lalu, Kak Yus dengan optimis berkomunikasi dengan Pendamping PKH. Dia menyatakan mengundurkan diri sebagai KPM PKH alias graduasi mandiri.

“Keluar dari PKH tidak harus menunggu kaya. Masih banyak orang lain di luar sana yang lebih membutuhkan (Bansos PKH) ketimbang saya,” ujar Kak Yus, dikutip dari tayangan Youtube resmi Perlindungan dan Jaminan Sosial Kemensos, Minggu (3/10/2021).

Kak Yus teringat ketika menjumpai Pendamping PKH yang membimbingnya selama ini. Kak Yus saat itu nyatakan merasa yakin bisa mandiri dan tidak mau manja, terus-terusan menerima bantuan dari pemerintah.

“Saya jelaskan pada pendamping, mau mengundurkan diri dari peserta PKH. Sebab saya rasa bisa mandiri, tidak mau manja. Sudah lima tahun saya menerima bantuan PKH,” terang wanita berhijab itu.

Kak Yus menyadari masih banyak keluarga-keluarga lain yang lebih membutuhkan Bansos PKH dari Kemensos. Sedangkan dirinya dirasa sudah bisa mandiri untuk mencukupi kebutuhan keluarga dan sekarang bahkan bisa menabung.

Untuk diketahui, Progam Bansos yang dikelola Kemensos terdiri dari Bansos Reguler dan Bansos Khusus. Bansos Reguler dirancang untuk mendukung kebijakan pemerintahd alam percepatan penanganan kemiskinan. Sedangkan Bansos reguler adalah PKH dan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT)/Kartu Sembako.

Pada tahun 2022 mendatang, Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini sempat menyatakan pihaknya akan melanjutkan Program Bansos Reguler yakni PKH. Adapun anggaran sebesar Rp 28,7 Triliun dengan target 10 Juta KPM.

Penyaluran program itu dilakukan setiap tiga bulan sekali, dalam empat tahap yakni pada Januari, April, Juli dan Oktober. Penyaluran dilakukan melalui Bank Himbara alias Himpunan Bank Negara.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Wahyu Praditya P