Netral English Netral Mandarin
22:28wib
Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo mewacanakan mengganti maskapai BUMN PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk dengan Pelita Air milik PT Pertamina (Persero). Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) akan menggelar unjuk rasa mengevaluasi 2 tahun kinerja Jokowi-Ma'ruf bersama Gerakan Buruh Bersama Rakyat (Gebrak), Kamis (28/10).
Kritik Lomba Artikel BPIP, PKS: Pemerintah Belum Keluar Dari Bayang-bayang Halusinasi...

Minggu, 15-Agustus-2021 09:27

Anggota Komisi VIII DPR dari Fraksi PKS, Iskan Qolba Lubis
Foto : DPR
Anggota Komisi VIII DPR dari Fraksi PKS, Iskan Qolba Lubis
17

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Anggota Komisi VIII DPR dari Fraksi PKS, Iskan Qolba Lubis, mengkritik lomba penulisan artikel yang diadakan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).

Adapun BPIP menggelar lomba penulisan artikel dalam rangka Hari Santri Nasional 2021 dengan tema ‘Hormat Bendera Menurut Hukum Islam’ dan ‘Menyanyikan Lagu Kebangsaan Menurut Hukum Islam’.

“Saya heran dengan perilaku-perilaku pejabat dan lembaga di Pemerintahan saat ini, seakan tidak henti-hentinya membenturkan nilai-nilai kebangsaan dengan agama Islam," kata Iskan, Sabtu (14/8/2021).

Iskan mengatakan, di saat semua pihak berjuang melawan pandemi Covid-19 yang tak kunjung mereda, pemerintah justru menciptakan polemik di tengah masyarakat.

"Berapa banyak hari ini tokoh dan ulama kita yang syahid diakibatkan Covid-19, berapa banyak para nakes (tenaga kesahatan) yang telah gugur juga diakibatkan Covid-19. Alih-alih membuat kondisi yang saling mempersatukan, Pemerintah malah terus ciptakan polemik di tengah masyarakat,” sambungnya.

Iskan menyayangkan penggunaan tema yang menimbulkan kontroversi itu. Menurutnya, BPIP telah gagal dalam pemaknaan ajaran-ajaran Islam dan ideologi Pancasila saat ini.

“Tema itu menunjukkan bahwa Pemerintah masih belum keluar dari bayang-bayang halusinasi bahwa banyak orang islam yang Anti Pancasila," ucap dia.

"Sungguh disayangkan, lembaga yang seharusnya bisa menyatukan dan menguatkan peran agama dalam bingkai harmoni, tetapi malah menghadirkan polemik yang sifatnya tendensius di depan publik,” jelas Iskan.

Karenanya, legislator asal Sumatera Utara ini mendesak agar BPIP dievaluasi secara total, bukan hanya terkait perlombaan karya tulis tetapi juga secara kelembagaan dan paradigma berfikir orang-orang yang berperan menjalankan lembaga ini.

“Berhenti menciptakan polemik yang dapat memecah belah bangsa, hadirkan tema-tema yang menyejukkan. Apalagi ini di tengah pandemi. Jadi secara harfiah, ini tidak kontekstual,” tegas Iskan.

Lebih jauh, Iskan menyebut Hari Santri merupakan hari yang sakral, salah satu simbol perjuangan kemerdekaan dan pembangunan karakter bangsa dimasa lampau. Untuk itu ia mengingatkan agar jangan disusupi tema-tema yang membuat Hari Santri tidak bermakna.

“Seharusnya BPIP bisa membuat tema yang lebih visioner dan aplikatif dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh, 'Memaknai Hari Santri Dalam Menghapus Praktik Korupsi' atau 'Peran Santri di Tengah Pandemi," ungkapnya.

"Bisa juga Peran santri dalam mengatasi kemiskinan dan lain sebagainya, yang mana dengan tema tersebut dapat menghadirkan solusi yang tepat dalam menghadapi permasalahan yang kita alami saat ini,” pungkas Iskan seperti dilansir dari laman Fraksi PKS.

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Nazaruli