Netral English Netral Mandarin
03:47wib
Presiden Joko Widodo mengatakan, kondisi dunia saat ini penuh dengan ketidakpastian dan persoalan yang lebih kompleks dibandingkan sebelumnya. Sistem perawatan kesehatan Singapura terancam kewalahan menghadapi lonjakan covid-19.
Kritik Tema Lomba BPIP, PKS: Sangat Konyol dan Tendensius, Ganggu Perasaan Umat Islam

Sabtu, 14-Agustus-2021 12:00

Anggota Komisi X DPR dari Fraksi PKS Fahmy Alaydroes
Foto : DPR
Anggota Komisi X DPR dari Fraksi PKS Fahmy Alaydroes
23

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Anggota Komisi X DPR dari Fraksi PKS Fahmy Alaydroes mengkritik tema lomba penulisan artikel nasional dalam rangka menyambut hari santri nasional pada Oktober 2021 yang diselenggarakan oleh Badan Pembina Idiologi Pancasila (BPIP).

Menurut Fahmy tema lomba penulisan artikel itu sangat tendensius ‘menyerang’ sikap keberagamaan umat Islam.

“Temanya ada dua, yaitu; Hormat Bendera Menurut Hukum Islam dan Menyanyikan Lagu Kebangsaan Menurut Hukum Islam. Tema yang diangkat sangat mengada-ada dan sangat konyol serta tendensius,” ungkap Fahmy dilansir dari laman Fraksi PKS, Sabtu (14/8/2021).

Fahmy merasa heran dengan BPIP yang mengangkat tema itu. Ia menyebut,di tengah suasana pandemi dan kemerosotan ekonomi yang parah, BPIP justru membuat lomba dengan tema yang sangat berpotensi membuat kegaduhan, bahkan cenderung memecah belah.

“Dengan tema tersebut, setidaknya BPIP mempertanyakan posisi Islam terhadap Bendera Negara dan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya. Bahkan dengan mengajukan kedua tema tersebut, BPIP menghadap-hadapkan agama Islam terhadap Negara! Alih-alih mendidik atau melakukan pembinaan, cara dan gaya BPIP ini absurd dan sangat mengganggu perasaan umat Islam,” ucap dia.

Fahmy mengungkapkan, sejak dahulu kala, pesantren-pesantren dan umat Islam di Indonesia sangat nasionalis, selalu berada di garis depan membela NKRI, dengan harta, darah dan nyawa.

"Resolusi jihad melawan penjajah adalah ajaran Islam, membela negara adalah ajaran Islam, dan sudah sangat sepakat menjunjung tinggi Pancasila, Bendera Negara, dan juga Lagu Indonesia Raya,” terangnya.

Bahkan, lanjut Fahmy, semua tahu peran ulama Habib Ali Kwitang yang turut menyebarkan informasi Kemerdekaan RI dan mengajak para ulama dan masyarakat di sekitar Jakarta untuk memasang dan mengibarkan Bendera Merah Putih.

“Kita juga tahu bahwa sejak dulu kala sampai sekarang tidak ada ulama dan umat Islam yang mempersoalkan lagu Indonesia Raya. Jangan pernah meragukan kalangan pesantren dna umat Islam dalam hal membela dan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia!" ucap dia.

"Sebaiknya BPIP fokus membina para pejabat yang korup dan merampok uang rakyat, atau mewaspadai ajaran dan kecenderungan sikap memuja ideologi liberalis atau komunis yang jelas-jelas bertentangan dan melawan Pancasila!,” tegas Fahmy.

Lebih jauh, Fahmi berpendapat di pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) ini ada kecenderungan membangun suasana islamophobia. 

Pasalnya, ia menyebut sebelum polemik soal lomba penulisan artikel yang diselesaikan BPIP, ada beberapa peristiwa dimana pemerintah membuat diksi-diksi yang menyudutkan umat Islam.

Sebagai contoh, Fahmi menyinggung tes wawasan kebangsaan (TWK) pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) beberapa waktu lalu, di mana sejumlah pertanyaan menuai polemik. Kemudian ada Survei Lingkungan Belajar yang dilakukan Kemendikbud- Ristek terhadap sekolah-sekolah.

"Ada nuansa di era Pemerintahan Jokowi ini sedang membangun suasana islamophobia, dengan diksi-diksi yang menyudutkan dan mengembangkan opini bahwa dalam ajaran Islam itu ada ajaran-ajaran radikalisme, intoleransi, dan tidak menghormati negara,” pungkasnya. 

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Sesmawati