Netral English Netral Mandarin
17:59wib
Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) mengingatkan pemerintah agar tak mengangkat anggota TNI atau polisi aktif sebagai penjabat gubernur. Survei Indikator Politik Indonesia (IPI) menyatakan sebanyak 58,1 persen masyarakat puas terhadap kinerja Presiden Joko Widodo.
KSP Sebut Novel Hanya Berspekulasi soal Dugaan Korupsi Bansos, EK: Novel Bikin KPK jadi Lembaga Politik

Jumat, 21-Mei-2021 21:00

Eko Kuntadi
Foto : Istimewa
Eko Kuntadi
14

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Kantor Staf Presiden (KSP) menilai pernyataan penyidik KPK, Novel Baswedan, soal dugaan korupsi bansos yang mencapai Rp 100 triliun cenderung spekulatif.

Terkait klaim KSP tersebut, pegiat media sosial (medsos) Eko Kuntadi menyebut ada upaya politisi penanganan korupsi oleh Novel Baswedan. Ia pun menilai Novel menjadikan KPK sebagai lembaga politik.

"Nah, upaya politisasi pemberantasan korupsi ala Novel ini yang bikin KPK jadi lembaga politik. Bukan penegak hukum lagi," kata Eko dalam akun Twitternya.

Ditegaskannya, saat ini Indonesia butuh penegakan hukum yang serius bukan politisasi persoalan, terlebih belum ada kepastian.

"Kita butuh penegakkan hukum. Yang serius. Yang bekerja dalam koridor. Bukan politisasi persoalan. Apalagi masalahnya masih sumir," tulis Eko. 

Ketua Tim Monitoring dan Evaluasi Pemulihan Ekonomi Nasional (Monev PEN) Kantor Staf Presiden Edy Priyono meminta Novel menghindari pernyataan-pernyataan yang cenderung spekulatif dan mengundang kontroversi. Terlebih lagi saat ini masih ada dugaan korupsi yang saat ini sedang ditangani penegak hukum, termasuk pungli.

"Itu yang kami sangat sayangkan. Padahal Presiden sudah berkali-kali memberi peringatan agar tidak korupsi. Kita serahkan sepenuhnya kasus tersebut pada penegak hukum," jelas Edy.

Edy memastikan pemerintah terus berkomitmen menutup berbagai celah potensi korupsi. Salah satu hal yang dilakukan, yaitu seperti arahan Presiden Jokowi bahwa pemberian bansos dalam bentuk barang diminimalkan.

Sebelumnya dugaan korupsi bansos yang nilainya mencapai Rp 100 triliun itu sebelumnya diungkap oleh Novel beberapa waktu lalu. Kendati demikian, Novel mengatakan dugaan itu harus didalami lebih lanjut.

"Ini kasus yang mesti diteliti lebih jauh. Kasus ini nilainya puluhan triliun. Bahkan saya rasa seratus triliun nilai proyeknya dan ini korupsi terbesar yang saya pernah perhatikan," kata Novel.

Novel melihat ada kesamaan pola-pola korupsi bansos di daerah yang sama dengan DKI Jakarta dan sekitarnya. Ia menilai kasus bansos harus terus ditindaklanjuti.

"Ini kasus yang mesti diteliti lebih jauh," ucap dia.

Reporter : Wahyu Praditya P
Editor : Irawan HP