Netral English Netral Mandarin
21:24wib
Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo mewacanakan mengganti maskapai BUMN PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk dengan Pelita Air milik PT Pertamina (Persero). Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) akan menggelar unjuk rasa mengevaluasi 2 tahun kinerja Jokowi-Ma'ruf bersama Gerakan Buruh Bersama Rakyat (Gebrak), Kamis (28/10).
Kubu AHY Disebut Bermental Preman, Andi Arief: Kader Demokrat Sah Masih Disiplin Menahan Diri

Senin, 13-September-2021 09:10

Andi Arief
Foto : Istimewa
Andi Arief
20

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Politikus Demokrat Andi Arief Geram dengan pernyataan kubu Moeldoko yang menyebut kelompok AHY bermental preman. 

Padahal menurut Andi Arief, kubu Moeldoko sudah keterlaluan dan telah menyebabkan jatuhnya korban. 

“Ulah KSP Moeldoko membegal Demokrat sudah memakan 2  korban nyawa dan 1 kader diintimidasi hingga patah tangan,” kata Andi Arief, Senin 13 September 2021. 

Meski demikian, Andi Arief menilai kubu AHY masih tetap disiplin menahan diri. 

“Upaya bubarkan paksa kegiatan ilegal KSP Moeldoko dilakukan dg baik2 utk hindari korban makin berjatuhan. Kader Demokrat sah di bawah AHY masih disiplin menahan diri,” imbuhnya.

Pernyataan tersebut disampaikan saat Andi Arief menanggapi pernyataan akun Pemuda Idaman @Smsl_alghozali yang mencuit: “Luar biasa memang. Muldok dan pendukungnya sama2 rai gedhek.”

Untuk diketahui, Partai Demokrat (PD) pimpinan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebelumnya telah membubarkan HUT Partai Demokrat kubu Moeldoko di Tangerang, Banten. 

Kubu Moeldoko menyebut aksi PD pimpinan AHY dengan sebutan membabi buta dan bermental preman.

Acara HUT PD kubu Moeldoko itu diselenggarakan di sebuah hotel di Tangerang Selatan, Banten, Jumat (10/9/2021). Ketua DPD Partai Demokrat (PD) Banten Iti Octavia Jayabaya yang ikut menggeruduk acara HUT PD kubu Moeldoko mengatakan acara tersebut ilegal dan bersifat provokatif.

"Ini Banten, Bung! Jangan coba-coba ganggu kedaulatan dan kehormatan partai kami dengan acara ilegal yang provokatif seperti ini. Pemerintah telah nyata-nyata menolak mengesahkan KLB ilegal Deli Serdang, lantas mengapa masih ada pihak yang terang-terangan melawan pemerintah?" kata Iti, Jumat (10/9/2021).

Iti mengatakan pihaknya bersama aparat kepolisian juga menurunkan spanduk yang terpasang di sekitar lokasi. Acara tersebut pun dibubarkan.

Kubu Moeldoko Mengutuk

Kubu pendukung Moeldoko, Darmizal, menjelaskan acara itu tidak dihadiri Moeldoko. Ia mengatakan apa yang dilakukan PD pimpinan AHY merusak demokrasi.

"Penyelenggara acara HUT Partai Demokrat ke-20 tanggal 10 September 2021 di Tangerang, Banten, adalah pendiri Partai Demokrat, bukan DPP Partai Demokrat pimpinan Moeldoko. Karena itu, tuduhan yang menyebut Moeldoko terlibat di acara HUT Partai Demokrat tersebut adalah tuduhan fitnah, membabi buta, kehilangan akal sehat, dan mengangkangi demokrasi," kata Darmizal dalam keterangannya kepada wartawan, Sabtu (11/9/2021).

Darmizal juga menyinggung, sesuai fakta sejarah dan akta pendirian partai, Demokrat seharusnya merayakan HUT pada 10 September kemarin. Karena itu, dia menilai tindakan penggerudukan oleh pihak AHY sebagai tindakan tidak bermoral dan bermental preman.

"Kubu SBY-AHY seharusnya menghormati dan menghargai para pendiri partai yang melakukan tasyakuran dwi dasawarsa PD di Tangerang, Banten. Merayakan HUT Partai Demokrat tanggal 10 September itu adalah sesuai fakta sejarah, sesuai akta pendirian partai, sesuai keinginan pendiri untuk meluruskan sejarah ulang tahun pendirian partai tanggal 10 September, bukan tanggal 9 September. Menggeruduk kegiatan syukuran dwi dasawarsa Partai Demokrat sungguh tindakan tak bermoral, barbar, dan bermental preman," ucapnya seperti dilansir Detik.com.

"Tidak hanya memanipulasi tanggal ulang tahun partai, tetapi juga memanipulasi nama pendiri partai dari 99 orang menjadi hanya 2 orang dan memasukkan nama SBY sebagai pendiri partai. Padahal, di akta pendirian itu, tidak ada nama SBY sama sekali. Memanipulasi sejarah itu adalah tindakan tidak terpuji, tidak beretika, tidak beradab, dan tidak mempraktikkan demokrasi yang sehat," lanjutnya.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Sesmawati