Netral English Netral Mandarin
18:20wib
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres memperingatkan dunia berada di jalur bencana lantaran pemanasan global yang terus berlangsung. Uji kepatutan dan kelayakan (fit and proper test) terhadap 11 calon hakim agung usulan Komisi Yudisial (KY) di Komisi III DPR akan digelar pada pekan depan.
Kuliti Politikus 'Pesolek di Atas Pandemi', Denny: Nafsu Besar Akal Kurang, Mudah Ditunggangi Politisi, Tipe 4 Tukang Ngopi...

Rabu, 11-Agustus-2021 07:43

Denny Siregar dan ilustrasi baliho politikus
Foto : Kolase Netralnews
Denny Siregar dan ilustrasi baliho politikus
49

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Denny Siregar mengulas empat tipe manusia di tengah pandemi. Tipe ketiga disebutkan sebagai  “tipe pesolek di atas pandemi.”

Menurut Denny, karena tidak punya prestasi, mereka mendandani dirinya dengan kosmetik tebal supaya tampak serasi. Yang penting cantik, supaya orang mengagumi. Wajahnya dimana-mana. 

“Nafsu berkuasanya besar, tapi akalnya kurang. Tipe seperti ini akan mudah ditunggangi oleh politisi dengan tipe penari diatas pandemi,” kata Denny Siregar. 

Berikut catatan lengkap Denny Siregar dinukil NNC melalui akun FB-nya, Rabu 11 Agustus 2021. 

BADUT BADUT JAKARTA...

Ada 3 tipe politisi yang terlihat wajah aslinya disaat pandemi ini..

Tipe pertama adalah tipe pekerja atasi pandemi. 

Politisi seperti ini memang niat menjadi pejabat untuk mengabdi. Mereka bekerja keras meski dicaci kanan kiri. 

Semua orang menuntut dia sempurna, tapi tipe seperti selalu mengambil pelajaran dari setiap masalah. Orang seperti ini yang kita butuhkan supaya negeri ini akan menjadi negeri yang besar suatu hari..

Yang kedua adalah tipe penari di tengah pandemi.

Tipe politisi seperti ini sangat berbahaya. Mereka oportunis, suka memanfaatkan musibah untuk kepentingan dirinya. 

Mereka sebenarnya gak penting, apakah pandemi membuat rakyat menderita. Yang penting, bagaimana dia bisa tampil sebagai pahlawan supaya rakyat terpesona. Coba kasih dia jabatan, dia akan merampok sampai semua rakyat ubanan.

Yang ketiga adalah tipe pesolek di atas pandemi.

Tipe seperti ini adalah tipe politisi yang tidak punya kemampuan sama sekali. Mereka diberi jabatan pun tidak akan bisa menjalankan. 

Karena tidak punya prestasi, mereka mendandani dirinya dengan kosmetik tebal supaya tampak serasi. Yang penting cantik, supaya orang mengagumi. Wajahnya dimana-mana. 

Nafsu berkuasanya besar, tapi akalnya kurang. Tipe seperti ini akan mudah ditunggangi oleh politisi dengan tipe penari diatas pandemi.

Orang bilang kesulitan itu musibah. Tapi jarang orang melihat kesulitan itu sebenarnya adalah cara Tuhan menunjukkan kepada manusia, siapa dirinya yang sebenar-benarnya..

Ada lagi sih, tipe tukang ngopi. Tapi ini bukan politisi. Dia suka dari kejauhan mengamati. Sambil ketawa melihat banyak politisi yang seperti pelacur. Cantik disaat sinar remang dan baru terlihat bopeng ketika ada matahari..

Seruputttt....

Denny Siregar

Baliho di Mana-Mana

Sementara secara terpisah diberitakan, baliho bergambar politikus bertebaran di ruang publik di tengah pandemi Covid-19. Promosi politikus untuk meningkatkan elektabilitas dan popularitas mereka menuai kritik dari berbagai kalangan.

Budayawan Sujiwo Tejo salah satu tokoh yang mengkritisi pemasangan gambar politikus di tempat publik. Melalui akun Twitter @sudjiwotedjo, dia mendukung aparat menertibkan baliho-baliho itu karena menurutnya kontra dengan keadaan masyarakat akibat terpaan pandemi.

“Pagi. Kudukung penuh bila tentara kembali turun tangan turunkan baliho-baliho," kata Sujiwo.

Dia menjelaskan alasan kenapa baliho tersebut perlu ditertibkan. Pertama, "Tak sesuai rasa senasib pandemi.”

Kedua, kata dia, "Tak etis pada Presiden Jokowi yang sisa masa jabatannya masih lama.”

Ketiga, Sujiwo mengusulkan setelah baliho diturunkan, disumbangkan ke para pedagang kaki lima.

"Bahan balihonya bisa cepat-cepat dimanfaatkan rakyat untuk tenda kaki lima UMKM: Soto Lamongan dan lain-lain.”

Dalam pernyataan di Twitter, Sujiwo menandai akun Twitter Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dan jajaran TNI.

Menurut laporan Solopos.com, akhir pekan lalu, Sabtu (7/8/2021), dari Solo menuju ke Yogyakarta, sedikitnya ditemukan belasan baliho bergambar politikus dari salah satu partai.

Baca Juga:Panas! Sujiwo Tejo Minta TNI Turunkan Baliho Puan: Kasih Tukang Soto dan Tukang Cat

Di tempat lain, juga ditemukan politikus dari sejumlah partai berlomba-lomba memasang wajah mereka.

Dalam laporan Suara.com sebelumnya disebutkan, walau banyak politikus kian masif memajang baliho sebagai usaha mengerek elektabilitas dan popularitas menjelang pemilihan presiden 2024, hal itu tetap tak menjadi jaminan dapat merebut hati pemilih pada hajatan lima tahunan.

Menurut Direktur Eksekutif Lingkar Madani Ray Rangkuti manuver tokoh partai dengan memasang poster besar di jalan-jalan supaya dapat memenangkan pemilu presiden sudah dapat diprediksi bahwa kontestasi politik pada 2024 ada dua kelompok, yakni: capres baliho dan capres berbasis kinerja.

"Sulit menghentikan perlombaan pembuatan baliho ini. Semuanya ingin menang. Untuk mendapatkan popularitas bisa dilakukan dengan dua hal. Pertama dengan memobilisasi iklan, sekarang baliho, nanti iklan di medsos, elektronik, tinggal menunggu waktu itu akan muncul. Kedua, berbasis pada kinerja," kata Ray Rangkuti, Jumat (6/8/2021).

"Saya menyebut perlombaan capres ini dalam dua varian, capres baliho dan capres berbasis kinerja," Ray menambahkan.

Ray kemudian memberikan penjelasan mengenai ciri-ciri capres baliho dan capres berbasis kinerja.

Capres baliho, kata dia, yang sering dilihat oleh masyarakat saat ini yaitu para politikus yang sudah memasang baliho di sejumlah daerah.

"Umumnya datang dari parpol, ketua-ketua parpol, dan sebagian besar mereka ikut di dalam koalisi Pak Jokowi," tutur analis politik dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Sementara itu, untuk capres berbasis kinerja datang dari para gubernur di Indonesia yang digadang-gadang bakal nyapres di 2024.

Selain itu, kata tokoh pergerakan mahasiswa 1998, capres berbasis kinerja juga datang dari para tokoh nasional yang akan maju lewat jalur independen pada pilpres nanti.

"Bahkan ada yang gak punya partai, dan tokoh-tokoh nasional yang muncul dari pergulatan harian mereka dengan masyarakat. Tokoh tersebut juga memiliki rekam jejak yang baik dan kinerja yang bagus saat menjadi pejabat. Sebut saja misalnya Rizal Ramli," kata Ray.

"Dua pergulatan ini akan mewarnai kompetisi pencapresan dalam 2024 yang akan datang. Capres baliho dan capres kinerja," kata Ray dinukil Suara.com.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Nazaruli