Netral English Netral Mandarin
20:58wib
Ebrahim Raisi dinyatakan sebagai presiden terpilih Iran setelah penghitungan suara pada Sabtu (19/6/2021). Koordinator Tim Pakar sekaligus Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito terkonfirmasi positif Covid-19 menyusul aktivitasnya yang padat dalam dua pekan terakhir ini.
Label Teroris bagi OPM Tuai Kritik, EK: Teroris itu Prilaku, bukan Agama, Bukan Ras

Selasa, 04-Mei-2021 07:30

Pegiat Medsos
Foto : Istimewa
Pegiat Medsos
4

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Pegiat media sosial (medsos) Eko Kuntadi menyoroti penolakan sebagian orang terkait penetapan OPM sebagai teroris.

Ia mengaku heran adanya beberapa kelompok yang tak setuju dengan melabeli OPM sebagai teroris.

Menurut Eko langkah pemerintah menetapkan OPM sebagai teroris, sudahlah tepat. Mengingat kelompok tersebut telah membikin onar dan mengancam rakyat.

"Ada sebagian umat Islam yang ngaco. Menjalankan aksi kekerasan. Membunuh. Pemerintah melabeli teroris. Kita setuju. Ada OPM di Papua. Bikin onar. Membunuh. Dan mengancam rakyat," kata Eko dalam akun Twitternya.

"Pemerintah melabeli (OPM) teroris. Kita jg harus setuju," lanjutnya.

Ditegaskan Eko, teroris merupakan pelaku, dan bukan agama ataupun ras. "Teroris itu prilaku. Bukan agama. Bukan ras," lanjutnya.

Sebelumnya Komisioner Komnas HAM Amiruddin Al Rahab meminta Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) tidak gegabah dalam melihat dan menilai kondisi di Papua.

Hal ini disampaikan Amiruddin menanggapi pernyataan Ketua BNPT Komjen Pol Boy Rafly Amar yang berniat memasukkan Organisasi Papua Merdeka (OPM) masuk dalam kategori organisasi terorisme.

"Saya rasa jangan gegabah lah dalam melihat dan menilai kondisi di Papua," kata Amiruddin.

Korban, kata Amiruddin, memang banyak yang berjatuhan sehingga itu menjadi persoalan serius di Papua. Meski begitu pengkategorian OPM sebagai organisasi terorisme bukan jalan keluar yang tepat.

Menurut Amiruddin sebelum menyematkan kategori organisasi teroris perlu ada kajian yang mendalam dan membuka ruang komunikasi dengan melibatkan banyak pihak terlebih dulu.

"Jangan terlalu emosional, jalan keluar harus dicari yang lebih tepat," kata dia.

Reporter : Wahyu Praditya P
Editor : Irawan HP