Netral English Netral Mandarin
03:03wib
Relawan Sahabat Ganjar kembali melakukan deklarasi mendukung Ganjar Pranowo untuk maju sebagai calon presiden 2024. Penembakan seorang ustad bernama Armand alias Alex di depan rumahnya Jalan Nean Saba, Kelurahan Kunciran, Kecamatan Pinang, Tangerang hingga kini masih menjadi misteri.
Lagi-Lagi Vonis Koruptor Disunat, Muannas: Sudah Banyak Bukti Ada Masalah Besar di Peradilan Kita

Sabtu, 31-Juli-2021 11:37

Muannas Alaidid
Foto : The Truly Islam
Muannas Alaidid
21

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Pengacara Muannas Alaidid menanggapi keputusan pengadilan yang diwarnai dengan fenomena “penyunatan vonis” hukuman. 

Setelah Jaksa Pinangki, kini kasus Djoko Tjandra juga demikian. Di mata Muannas, ini sudha cukup menjadi bukti bahawa dalam sistem peradilan di Indonesia ada masalah besar.

“Sdh banyak bukti ada masalah besar memang, didunia peradilan kita. Tdk hny kasus korupsi tapi bnyk kasus lainnya dlm memenuhi rasa keadilan masy. khususnya kasus yg menjadi perhatian publik,” kata Muannas Alaidid, Sabtu 31 Juli 2021.

Sebelumnya diberitakan, hukuman penjara untuk Joko Soegiarto Tjandra alias Djoko Tjandra disunat. Semula, total hukuman dari empat perkara yang menjerat Djoko Tjandra adalah 9 tahun penjara, kini menjadi 8 tahun saja.

Hukuman Djoko Tjandra yang dikorting, yakni vonis kasus suap ke Irjen Napoleon dan Brigjen Prasetijo terkait pengurusan DPO di Imigrasi serta memberi suap ke Pinangki Sirna Malasari selaku jaksa pada Kejagung berkaitan dengan upaya permohonan fatwa MA agar Djoko Tjandra tidak dieksekusi jika pulang ke Indonesia. Semula dari 4,5 tahun penjara, pada tingkat banding di Pengadilan Tinggi (PT) Jakarta, hukuman Djoko disunat menjadi 3,5 tahun.

"Menjatuhkan pidana oleh karenanya terhadap Terdakwa dengan pidana penjara selama 3 (tiga) tahun dan 6 (enam) bulan dan pidana denda sebesar Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah) dengan ketentuan apabila denda tersebut tidak dibayar diganti dengan pidana kurungan selama 6 (enam) bulan," demikian bunyi putusan banding yang dilansir website MA, Rabu (28/7/2021).

Duduk sebagai ketua majelis Muhamad Yusuf dengan anggota Haryono, Singgih Budi Prakoso, Rusydi, dan Renny Halida Ilham Malik. Alasan majelis mengapa meringankan hukuman Djoko Tjandra karena ia telah menjalani pidana penjara pada kasus cassie Bank Bali dan telah menyerahkan uang ke negara Rp 546 miliar.

"Hal yang memberatkan Terdakwa telah melakukan perbuatan tercela. Bermula dari adanya kasus pengalihan hak tagih (cessie) Bank Bali yang berdasarkan putusan Mahkamah Agung tanggal 20 Februari 2012 Nomor 100 PK/Pid.Sus/2009 Jo. putusan Mahkamah Agung tanggal 11 Juni 2009 Nomor 12 PK/Pid.Sus/2009 Terdakwa dinyatakan bersalah melakukan tindak pidana 'turut serta melakukan tindak pidana korupsi' dan dijatuhi pidana penjara selama 2 tahun. Bahwa perbuatan yang menjadi dakwaan dalam perkara ini dilakukan Terdakwa untuk menghindar supaya tidak menjalani putusan Mahkamah Agung tersebut," ucap majelis hakim.

Selain itu, ada perkara lain yang menjerat Djoko Tjandra sebelumnya. Bila ditotal seluruhnya, hukuman yang harus dijalani Djoko Tjandra adalah 8 tahun penjara dengan catatan vonis itu sudah berkekuatan hukum tetap.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Sesmawati